Home / Berita / Internasional / Asia / Erdogan dan Gulen; Perang Negara dan Organisasi

Erdogan dan Gulen; Perang Negara dan Organisasi

Presiden Turki dan Fethullah Gulen (kanan). (Aljazeera)
dakwatuna.com – Ankara. Rakyat Turki dengan penuh semangat turun ke jalan untuk memperingati keberhasilan mereka menggagalkan upaya kudeta. Malam berdarah itu terjadi dua tahun lalu, tepatnya 15 Juli 2016. Di tengah gegap gempita tersebut, ternyata masih banyak instansi Turki yang terus melawan “eksistensi” Jamaah Fethullah Gulen, yang saat ini diikenal sebagai Fethullah Terorist Organisation (FETO).

Perayaan di jalanan dan media serta sesi investigasi dan perang terbuka digencarkan Turki terhadap FETO, baik secara organisasi maupun individu. Pemandangan itulah yang mewarnai Turki selama dua tahun terakhir.

Setelah dua tahun berlalu, sejumlah pejabat Turki memberi kesan bahwa serangkaian penuntutan dan penangkapan akan segera berakhir. Meski begitu, lembaran terakhir dari dokumen tersebut belum benar-benar tampak. Ini karena terdakwa utama dalam upaya kudeta, Fethullah Gulen, masih jauh dari jangkauan partai penguasa. Selain pengadilan yang juga tak kunjung menjatuhkan putusannya pada ribuan bahkan puluhan ribu tahanan.

Jubir pemerintah Turki Ibrahim Kalin membenarkan keadaan darurat yang diberlakukan sejak dua tahun lalu, akan segera berakhir. Ia menyebut pengumuman itu akan dilakukan pada 18 Juli, besok. Sebuah indikasi kuat bahwa Turki telah meyakini bahaya dari FETO di sejumlah instansinya sudah jauh ditekan.

Hal ini seakan dibenarkan oleh Dubesa Turki di Doha, Qatar. Dalam sebuah wawancara dengan media Qatar, ia mengatakan, “Sekitar 80% dari unsur FETO berhasil dibersihkan dari institusi negara. Mereka menyusup ke sejumlah lembaga dan struktur negara, serta lembaga-lembaga swasta, termasuk tentara, polisi dan pengadilan. Mereka sudah tak mungkin lagi melakukan upaya kudeta serupa, tapi kami masih perlu berhati-hati.”

Sementara Menlu Turki Mevlut Covusoglu menyebutkan, pemerintah berhasil meringkus lebih dari 100 orang pemimpin FETO. “Bisa aku katakan bahwa kami berhasi meringkus lebih dari 100 pemimpin organisasi Gulen di berbagai negara selama dua tahun terakhir,” katanya, saat wawancara bersama Channel CNN.

Fethullah Gulen membantah segala tuduhan yang diarahkan kepada mereka. Bahkan ia juga menuntut agar investigasi internasional digelar untuk mengungkap pelaku upaya kudeta gagal tersebut.

Meskipun ia membantah keterlibatan dengan upaya kudeta, namun tahun lalu ia mengakui bertemu dengan seorang pria yang terkait dengan upaya kudeta. Namun secara pribadi ia membantah terlibat dalam operasi itu sendiri.

Gangguan Amerika

Meskipun tekanan Ankara begitu kuat, namun Washington tetap menolak untuk menyerahkan Gulen. Namun dalam beberapa bulan terakhir, terdapat perkembangan luar biasa dalam penanganan kasus ini.

Juni lalu, Covusoglu menyebut informasi yang disampaikan Washington padanya. Disebutkan, FBI memulai investigasi terhadap Organisasi Gulen di sekitar 20 negara bagian Amerika. “Kami ingin penyelidikan ini definitif dan membawa hasil,” katanya kemudian.

Surat kabar Washington Post edisi 15 Juli lalu juga membahas tentang Organisasi Gulen dalam satu halaman penuh. Kantor berita Anadolu menyebutkan, langkah tersebut atas tuntutan dari Komite Pengarah Turki-Amerika, yang menaungi lebih dari 150 organisasi sipil.

Operasi Penangkapan Besar-besaran

Lebih dari 100.000 penyelidikan terhadap FETO dilakukan hingga 10 Juli 2018 lalu, menurut data Kementerian Kehakiman. Sebanyak 48.390 kasus dirilis.

Jumlah orang yang ditangkap dengan tuduhan anggota FETO mencapai 20.008. Sementara 13.362 orang lainnya dikaitkan dengan FETO.

Berikut ini adalah rincian dari mereka yang dihukum atas tuduhan FETÖ dari profesi mereka:
* 705 hakim dan jaksa
* 78 anggota Mahkamah Agung
* 26 anggota Dewan Negara
* Dua anggota Mahkamah Konstitusi
* 51 otoritas lokal
* Sekitar 6.954 tentara
* Sekitar 5.139 aparat penegak hukum
* Sekitar 116 anggota staf Direktorat Jenderal Penjara dan Rumah Tahanan
* 6.587 guru
* 317 pengacara
* 398 dokter

Hukuman seumur hidup

Pada 10 Juli dan di seluruh Turki, ada 289 kasus terkait dengan kudeta. 188 dari kasus-kasus ini telah diselesaikan dan 101 masih berlanjut.

Menurut putusan dalam 188 kasus tersebut, 661 tersangka diberi hukuman seumur hidup.

Dalam 188 kasus yang sama, 888 tersangka juga diberi hukuman seumur hidup. Sekitar 718 dari tersangka diberi hukuman bervariasi dari satu tahun dua bulan hingga 20 tahun.

“Aku pikir kasus-kasus ini akan menjadi agenda yudisial Turki dan diselesaikan pada akhir 2018,” kata Abdulhamit Gul, Menteri Kehakiman Turki saat ditanya tentang tenggat waktu.

Pada perbaruan keadaan darurat terakhir, sekitar 18.632 pegawai negeri diberhentikan dari pekerjaan mereka atas dugaan berhubungan dengan FETÖ.

Sekitar 9.000 penegak hukum dan sekitar 6.023 personil Angkatan Bersenjata Turki dipindahkan dengan tuduhan yang sama.

Secara keseluruhan, jumlah pegawai negeri, termasuk tentara berpangkat tinggi, birokrat, gubernur, dan kepala distrik mencapai 125.806 melalui 34 keputusan darurat negara bagian. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Komentari Kasus Khashoggi, Putin: AS Harus Bertanggung Jawab

Organization