Home / Berita / Internasional / Asia / Kisah Pilu Gadis Pengungsi Suriah: Menikah di Usia 14 Tahun

Kisah Pilu Gadis Pengungsi Suriah: Menikah di Usia 14 Tahun

(Aljazeera)
dakwatuna.com – Damaskus. Setiap tahunnya, 15 juta anak gadis di seluruh dunia menikah sebelum usia 18 tahun. Hal ini sebagaimana laporan dari International Centre for Research on Women (ICRW). Asia Selatan penyumbang pengantin anak terbesar, bahkan pernikahan dini menjadi fenomena global.

Hasil studi menyebutkan, gadis yang hidup dalam garis kemiskinan lebih rentan untuk menikah dini. Sementara UNICEF mengatakan, mereka biasanya keluar dari sekolah dan akibatnya harus menghadapi prospek pekerjaan yang buruk.

“Aku tidak dapat pergi ke sekolah akibat perang,” kata Ola, pengungsi Suriah yang menikah di usia 14 tahun. “Kami harus tetap di rumah, sekolah tutup. Aku sekolah hanya sampai kelas 6.”

Perang Suriah menimbulkan sejumlah kondisi, seperti pengungsian, kemiskinan, serta ketakutan pada ‘kehormatan’ dan keselamatan para gadis. Hal itu mendorong keluarga untuk menikahkan mereka di usia sangat muda.

“Aku meninggalkan Aleppo enam tahun lalu,” kata Fatimah, pengungsi Suriah yang saat ini tinggal di kamp di Yordania. “Kami biasa pergi ke sekolah, lalu pulang. Aku mengerjakan pekerjaan rumah, pergi bersama teman-teman …”

“Jika masalah selesai, aku berpikir untuk kembali. Karena dalam kondisi seperti ini, penuh dengan teror dan rasa takut.”

Yordania saat ini menampung sekitar 650.000 pengungsi Suriah. UNICEF mengatakan, ada epidemi tentang pernikahan dini dan itu sedang meningkat.

Dari awal perang pada tahun 2011 hingga saat ini, pernikahan dini meningkat dari 15 hingga 36 persen di Yordania. Negara-negara Eropa, seperti Swedia dan Jerman, yang juga menerima pengungsi Suriah juga bergelut pada dilema: mengizinkan pernikahan dini atau perceraian.

Pengantin anak-anak biasanya menghadapi kekerasan dalam rumah tangga, keterbatasan gerak, dan seringnya tak mendapat kesempatan bersuara dalam pengambilan keputusan keluarga. Tak peduli pembenaran keluarga, imbuh ICRW, pernikahan dini adalah pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan pada anak perempuan.

‘Aku ingin jadi dokter’

Fatimah bercerita ia bertunangan saat ulang tahunnya yang ke-15. Orang tuanya mengatakan bahwa ia akan dinikahi seorang pengungsi Suriah lainnya.

“Aku bahkan belum berusia 15 tahun, aku takut. Aku menangis. Pertama aku katakan ke mereka tidak mau (menikah). Aku masih sangat muda. Kemudian mereka bilang kalau dia pemuda yang baik dan mereka mengenalnya.”

“Aku bingung: harus menerimanya atau tidak? Mereka sering bilang “lakukan yang kamu inginkan, lakukan yang kamu suka”. Tapi karena ia berasal dari keluarga yang baik, serta seorang pekerja keras, aku menerimanya.”

Sejak meninggalkan Aleppo enam tahun lalu, Fatimah dan keluarga dilanda ketakutan, kelaparan dan sekarang kemiskinan.

Perang memaksanya keluar dari sekolah saat berusia 10 tahun. Fatimah mengatakan jika bisa memilih sendiri takdirnya, ia lebih suka menjadi seorang dokter.

Sekarang, ia seorang istri berusia 16 tahun dan ibu dari anak perempuan berusia lima bulan, serta janin dalam kandungan.

“Aku bahagia dengan hidup ini. Jika aku puas, maka itu bukan urusan orang lain,” katanya.

Ketika ditanya tentang putrinya, Fatimah ingin putrinya nanti bisa menyelesaikan pendidikan, atau minimal tidak menikah dini.

“Dia harus menunggu setidaknya hingga berusia 20 atau 25. Dia akan memikul banyak tanggung jawab saat (menikah) muda. Aku berharap dapat menyelesaikan sekolah. Aku ingin jadi dokter, dan tak terpikir untuk menikah.”

‘Kehidupan wanita jauh lebih baik sebelum menikah’

Ola masih berusia 13 tahun saat orang tuanya memulai pembicaraan soal pernikahan. Setelah satu tahun pertunangan, ia menikah pada usia 14 tahun.

“Anda mungkin bahagia dengan gaun pengantin warna putih. Gadis itu berpikir pria itu akan mencintainya, dan ia akan menjalani kehidupan lebih baik daripada saat bersama keluarganya. Pria itu akan membawanya kemanapun ia ingin pergi. Aku pikir ia akan mencintaiku lebih dari keluargaku,” tutur Ola menceritakan saat orang tuanya membahas soal pernikahan.

Tapi setelah menikah, hubungan itu dengan cepat memburuk.

“Dia (suaminya) tak punya pekerjaan, dan bergantung pada keluarganya, dan aku tak tahu bahwa ia bergantung pada keluarga. Setelah menikah, kami sering bertengkar karena ia tak bekerja,” kenang Ola.

“Mereka (keluarga suaminya) mencampuri urusan kami, dan itu jadi masalah. Mereka membantahku tentang semua, tetapi mereka selalu pergi keluar dan aku harus melakukan apa yang mereka sukai. Aku harus memasak, mencuci dan bersih-bersih. Aku hidup di dapur. Rasanya seperti dalam penjara. Aku tak bisa keluar sama sekali.”

Ola mengatakan, ia sangat menyesal menikah dini, karena ia tak mampu menyelesaikan pendidikannya.

“Jangan ada lagi yang menikah sedini itu. Lebih baik hidup sendiri sebelum menikah, karena mungkin seseorang tak mendapat kesempatan menjalaninya setelah menikah.”

“Kehidupan seorang wanita jauh lebih baik sebelum menikah. Dia tidak berkomitmen pada apa pun,” pungkasnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Bunuh Tujuh Warga Palestina, Israel Sebut Serangan ke Gaza Sebagai ‘Operasi Penyelamatan’