Home / Berita / Internasional / Asia / Kampanye Terakhir Sebelum Pemilu Bersejarah di Turki

Kampanye Terakhir Sebelum Pemilu Bersejarah di Turki

Poster kampanye Erdogan (kiri), dan poster pendiri Republik Turki (kanan). (Sky News)
dakwatuna.com – Ankara. Seluruh kandidat anggota parlemen dan presiden di Turki menggelar kampanye terakhir, Jumat (22/06) kemarin. Pemilu sendiri akan digelar pada Ahad (24/06) besok.

Pemilu kali ini menjadi sangat berpengaruh dalam sejarah Turki. Alasannya karena presiden baru akan memegang kekuasaan penuh yang belum pernah ada sebelumnya.

Kandidat petahana, Recep Tayyip Erdogan masih menjadi favorit untuk terpilih kembali. Hanya saja, ia harus menghadapi sejumlah nama dan terancam harus melalui pemilu dua putaran.

Lawan terberatnya adalah kandidat dari Partai Rakyat Republik (CHP) Muharrem Ince. Sebagai mantan guru fisika, ia membawa angin segar bagi sektor pendidikan dan punya hubungan baik dengan Barat. Bukan rahasia lagi bahwa hubungan Turki dengan Barat memburuk dalam beberapa bulan terakhir.

Hasil survei memang belum berpihak kepada Ince. Namun ia digadang-gadang lolos ke putaran kedua yang akan digelar pada 08 Juli mendatang.

Turki tengah menghadapi sejumlah problematika baik domestik maupun internasional: anjloknya nilai tukar lira terhadap dolar, inflasi yang mencapai dua digit, keterlibatan Pasukan Turki dalam operasi di Irak dan Suriah, serta masih berlangsungnya perang saudara dengan komunitas Kurdi di bagian tenggara negara itu.

Erdogan juga harus menghadapi tantangan lain dalam pemilu kali ini: aliansi partai oposisi berambisi menjegal perolehan suara yang selama ini dinikmati partainya, AKP secara mayoritas.

Tiga partai: sekuler, nasionalis dan Islamis, membentuk koalisi yang sebenarnya tak mungkin. Namun mereka terpaksa mengesampingkan segala perbedaan untuk mengakhiri 16 tahun kekuasaan Erdogan.

Jika mereka memenangkan mayoritas kursi di parlemen, dan Erdogan kembali terpilih, maka Turki akan menghadapi ketidakpastian politik berkelanjutan. Sebabnya karena masing-masing pihak akan saling menghalangi satu sama lain. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi