Home / Berita / Internasional / Eropa / Ikhwanul Muslimin Masih Jadi Opsi untuk Perubahan

Ikhwanul Muslimin Masih Jadi Opsi untuk Perubahan

Ikhwanul Muslimin (new.elfagr.org)
dakwatuna.com – London. Sepak terjang Jamaah Ikhwanul Muslim menjadi pembahasan utama dalam sebuah simposium ilmiah di London, Kamis (07/06) kemarin. Pemikian, sejarah dan masa depan Ikhwan mewarnai diskusi tersebut.

Hingga saat ini, Ikhwan menghadapi berbagai tantangan dan bahaya di beberapa negara seperti Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun di beberapa negara lainnya, jamaah yang lahir di Mesir ini turut berkuasa.

Namun perjuangan Ikhwan, seperti yang disebutkan peserta simposium, tidak terbatas hanya di dunia Arab saja. Lebih dari itu, perjuangan juga meluas melalui tekanan kepada negara-negara Arab untuk menetapkan Ikhwan sebagai organisasi teroris.

Simposium juga mempertanyakan tentang masa depan Ikhwanul Muslimin. Selain juga peluang mereka di medan politik pasca kudeta yang terjadi di Mesir 2013 silam.

Sepak Terjang Ikhwan

Simposium di London diikuti oleh sejumlah peneliti baik Arab maupun non-Arab. Mereka membahas sepak terjang Ikhwan beserta nilai-nilai jamaah yang menyejarah. Di akhir, mereka menyimpulkan bahwa Islam politik dan Ikhwanul Muslimin masih menjadi opsi untuk dipilih rakyat dalam sebuah pemilihan yang jujur dan independen.

Direktur Yayasan Cordoba, Anas Altikriti misalnya. Ia meyakini adanya kampanye terorganisir untuk mencemarkan nama Ikhwan. Menurutnya, hal itu dilakukan melalui dimensi internasional.

Kepada Aljazeera, Altikriti menyebut langkah Islam moderat dan Islam politik masih besar. Terlepas dari seluruh kampanye distorsi. Altikriti juga menegaskan, jika bangsa Arab diberi kesempatan dalam sebuah pemilihan yang jujur, maka mereka akan Islamis lagi.

Para peserta simposium juga mempresentasikan makalah yang berisis tentang sepak terjang dan pemikiran Ikhwanul Muslimin.

Ikhwan dan Teroris

Sementara dosen di Birkbeck University membantah adanya hubungan antara Ikhwanul Muslimin dengan terorisme. Menurutnya, tudingan-tudingan miring terhadap Ikhwan berdasarkan tulisan dan pemikiran Sayid Qutb. Padahal, Qutb menulis itu semua di bawah tekanan dan penyiksaan oleh penguasa Mesir kala itu, Gamal Abdul Nasir.

Ia menambahkan, Ikhwan telah mengalami berbagai perubahan signifikan sebagai organisasi yang mengarah kepada non-kekerasan. Sementara beberapa oknum jamaah yang tampak keras, merupakan bagian dari pembelaan diri atas kondisi yang dialaminya.

Pintu Demokrasi

Sedangkan Julian Kennedy dari King’s College mengutarakan pengalamannya saat hidup di Mesir pada tahun 2012 lalu. Saat itu, ia mengaku bertemu dengan banyak LSM, pemberontak dan kelompok wanita. Kairo hidup dengan nafas demokrasi sebelum kemudian ditutup setelah kudeta, jelasnya.

Kennedy juga membahas situasi di Mesir pasca 2013. Rezim di Mesir melancarkan pertempurang sengit untuk memberantas oposisi. Bahkan tidak segan menyebut oposisi sebagai ‘musuh rakyat’.

Lebih lanjut, Kennedy menegaskan Ikhwan harus mengatasi berbagai tuduhan yang dialamatkan padanya. Selain juga mengajukan isu-isu pembantaian di Rabiah ke pengadilan internasional. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Bunuh Tujuh Warga Palestina, Israel Sebut Serangan ke Gaza Sebagai ‘Operasi Penyelamatan’