Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menyoal Penyusutan Jamaah Shalat Tarawih

Menyoal Penyusutan Jamaah Shalat Tarawih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (yenihaberden.com)

dakwatuna.com – Menurut Al-Quran, bulan Ramadhan adalah bulan mulia, disebut juga bulan yang penuh dengan keberkahan. Pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan terdapat curahan rahmat. Sepuluh hari kedua, penuh dengan ampunan dan sepuluh hari terakhir akan terbebas dari siksa api neraka bagi yang puasanya sesuai dengan tuntunan dan syariat.

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran, sebagai panduan untuk umat manusia, juga tanda yang jelas untuk bimbingan dan penilaian (antara benar dan salah). Selanjutnya, sebagaimana firman Allah SWT “jika  salah seorang dari kamu mencapai bulan itu, maka ia harus berpuasa.” (Al Baqarah 185).

Secara bahasa, Ramadhan berarti “membakar”. Ramadhan, berasal dari bahasa Arab yang dasar katanya “Ramda“, “Ramad“, artinya semakin panas, karena panas yang terus menerus dan tanah yang menjadi semakin panas sedemikian rupa. Jadi Ramadhan artinya “membakar”, “untuk membakar karena berjalan  telanjang kaki  di tanah yang hangus”. Alasan mengapa bulan suci ini disebut “Ramadhan” adalah karena ia membakar dosa. Pada bulan Ramadhan, seorang muslim yang berpuasa menahan panas karena kelaparan dan haus dan panasnya puasa membakar dosa-dosa.

Ramadhan merupakan bulan ke-9 dalam kalender Islam, merupakan bulan yang paling penting dan suci bagi umat Islam. Ayat-ayat pertama Al-Quran diturunkan pada bulan ini. Kemudian, merupakan suatu kewajiban bagi umat muslim untuk menunaikan puasa pada bulan ini. Allah SWT memberikan lebih banyak pahala untuk ibadah dan rahmat di bulan ini. Para fuqaha mengatakan bahwa Ramadhan adalah sebuah bulan yang berlimpah dan mulia.

Tidak sulit sebenarnya tapi juga bukan hal yang mudah bahkan bagi umat muslim yang sudah menjalankannya seumur hidup. Allah SWT memang Maha Baik dan Sempurna. Telah diturunkan bulan yang mulia sebagai bonus untuk manusia yang beriman agar menjadi pribadi yang takwa pada akhirnya. Allah SWT pun tahu batas kemampuan manusia, makanya hanya satu bulan yang diwajibkan untuk berpuasa.

Setiap bulan Ramadhan, kita akan mengamalkan ibadah shalat Tarawih; shalat sunnah yang dilakukan setelah shalat Isya’. Namun, ada hal yang unik pada shalat Tarawih ini. Biasanya, di awal puasa, kita pasti langsung berbondong-bondong untuk ikut menyemarakkan ibadah itu. Semangat masih tinggi, bahkan jamaah pun membludak hingga di luar masjid. Seperti kerinduan yang meledak. Ketika bertemu, sibuklah kita dengan persiapan yang sebaik-baiknya. Masjid penuh dengan jamaah shalat Tarawih, tua-muda, kaya-miskin pergi tarawihan di masjid.

Pekan pertama masih bersemangat, pekan kedua mulai berkurang. Tidak cuma jamaah wanita yang banyak halangannya, tapi juga dari jamaah pria yang tidak ada halangan wajib bulanan pun menjadi berkurang setengahnya. Seiring bertambahnya jumlah puasa yang telah kita lakukan, entah kenapa barisan shaf jamaah Tarawih semakin berkurang. Perhitungan yang sering saya perhatikan di sekeliling, kalau pada malam pertama sekitar 12 shaf, maka untuk malam kedua bisa menjadi 11 shaf. Dan itu akan terus meringsek naik hingga di akhir biasanya berakhir sampai 5 atau 4 shaf.

Memang Tarawih bukan shalat yang diwajibkan tapi menjadi pelengkap bulan Ramadhan. Apa salahnya menyempatkan waktu untuk shalat Tarawih yang cuma ada di bulan Ramadhan. Tahun depan belum tentu umur kita panjang dan bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Maka benarlah hadits yang mengatakan bahwa beribadah itu haruslah dengan pemikiran akan menjadi ibadah kita yang terakhir sehingga kita akan melakukan ibadah apa pun dengan sebaik-baiknya.

Sebagian dari kita merasa bila semakin mendekati akhir Ramadhan semakin terasa berat menjalankannya, bukannya semakin terbiasa. Sahur mulai sering kesiangan. Shalat subuhpun kadang kebablasan karena ketiduran. Mulai sibuk dengan persiapan mudik. Yang di kampung pun sibuk dengan persiapan menyambut keluarga yang akan datang. Sehingga tarawihan di masjid sudah ditinggalkan karena kecapean seharian di dapur menyambut Idul Fitri. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Semua orang punya pilihan.

Semua bahkan punya alasan, bahwa kesibukan yang tidak berkurang selama Ramadhan juga termasuk ibadah. Pulang mudik untuk silaturahim pun juga ibadah. Ternyata untuk terbebas dari siksaan api neraka di sepuluh hari terakhir memang tidak mudah. Bahwa ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan pada sepuluh hari terakhir pun, tidak menjadikan kita semakin mendekat pada Lailatul Qadar. Kadang tanpa disadari, kita malah menjauhinya.

Adakah sebuah alasan khusus, kenapa ini terjadi? Mungkinkah semua wanita datang bulan semua? Atau mungkin juga bagi laki-laki, apakah karena malas atau bosan? Relakah kita melewatkan begitu saja keutamaan yang terdapat dalam shalat Tarawih? Allah SWT menegaskan akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang melakukan shalat Tarawih dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dan ridha-Nya semata. Bukan karena riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar amal kebaikannya oleh orang lain.

Kemudian sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (yakni shalat malam pada bulan Ramadhan) karena iman dan mengharap pahala dan ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Tidakkah kita tergiur dengan janji Allah dan Rasulullah sebutkan.

Mengingat selalu adanya godaan dikala kita menjalankan shalat Tarawih, tetapi apa saja selalu datang dari niat. Karenanya mantapkan hati dan kuatkan niat untuk menjalankan shalat Tarawih untuk beribadah mendapatkan pahala. Lalu untuk mencegah rasa malas ketika hendak menjalankan shalat Tarawih, bisa kita awali saat berbuka hindari makan terlalu banyak dan kekenyangan. Jika terlalu kenyang maka akan mengantuk. Disarankan untuk memakan takjil saja saat berbuka dan dilanjut makan besar saat sesudah Tarawih.

Sempatkan untuk tidur siang sebentar di bulan puasa. Ini akan memberikan cukup energi untuk shalat Tarawih tanpa merasa ngantuk. Saat shalat di masjid, pilihlah tempat yang sedikit jauh dari kipas angin. Terlalu dekat dengan kipas angin akan membuat kita merasa mengantuk karena semilir udara dingin.

Kemudian, hal ini juga perlu kita perhatikan. Hindari menonton acara televisi yang paling kiat sukai. Salah satu hal yang bisa membuat kita lupa dan malas untuk melaksanakan ibadah shalat Tarawih adalah menonton acara televisi.

Dan terakhir, usahakan hindari online jejaring sosial. Virus ini biasanya menyerang anak-anak muda pada umumnya. Maraknya jejaring sosial di dunia anak muda sudah pasti membuat mereka selalu ketagihan untuk membukanya. Jika membuka socmed setelah waktu buka puasa maka sudah pasti kita akan terus ketagihan untuk terus mengikuti apa saja yang dibicarakan dalam media tersebut. Hindari melakukan hal ini, jangan sampai hanya gara-gara hal yang kurang penting ibadah kita menjadi terbengkalai. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Fakhri Fauzan A
S1 di STAI Persis Bandung Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Lihat Juga

Emir Qatar Beri Hadiah Pesawat Mewah, Begini Respon Erdogan

Organization