Home / Berita / Opini / Ketegangan di Gaza, Mungkinkah Akan Memicu Perang Skala Penuh?

Ketegangan di Gaza, Mungkinkah Akan Memicu Perang Skala Penuh?

Asap membumbung akibat serangan Israel di Gaza. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Jalur Gaza. Melihat perkembangan di Jalur Gaza, yang sangat familiar dan membuat depresi, layaknya kita menonton film yang sudah pernah kita saksikan sebelumnya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana serangkaian kekerasan baru-baru ini akan berakhir?

Sejak Hamas berkuasa penuh atas Jalur Gaza, setidaknya telah terjadi tiga kali perang dengan Israel. Perang terakhir terjadi pada tahun 2014 silam.

Sinyal yang keluar dari Gaza, disadari atau tidak, telah lama mengisyaratkan adanya bentrokan lain.

Pada tingkat yang lebih jelas, Hamas telah mendukung penuh aksi protes warga Palestina di perbatasan Gaza. Mereka sangat yakin telah sukses dalam upaya membawa permasalahan Gaza ke dalam agenda. Tapi, itu merupakan taktik yang tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama.

Ribuan warga Palestina cedera, dan lebih dari 100 orang gugur akibat tembakan pasukan penembak jitu Israel.

Hamas mendapat kritik bahkan dari internal Gaza sendiri. Sebabnya karena mereka dituduh menghasut warga Palestina untuk mencelakakan diri sendiri.

Meskipun di sisi lain, Israel juga tampak tidak mampu terus-terusan menghadapi aksi ini.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menghadapi kecaman internasional akibat mudahnya mereka melesakkan amunisi hidup. Padahal, sasaran mereka hanya warga tanpa senjata yang berusaha mendekat atau sekadar memotong pagar pembatas.

Tentu tindakan IDF tidak sejalan dengan klaim sepihak mereka yang mendeklarasikan diri sebagai pasukan paling bermoral di dunia.

Namun status quo tetap ada. Blokade Israel atas Gaza dan sanksi keuangan yang diberlakukan Otoritas Palestina masih terus berlaku.

Meskipun Mesir memutuskan untuk membuka perbatasan Rafah selama bulan Ramadhan, Hamas tetap terisolasi dan putus asa secara ekonomi. Yang tengah di hadapi adalah krisis legitimasi. Itulah mengapa kita melihat eskalasi di front militer.

Israel mengatakan, aksi damai Palestina digunakan sebagai ‘kamuflase untuk teror’.

Pada Ahad lalu, Israel mengklaim pasukannya menemukan bahan peledak di pagar perbatasan.
Hamas menjadi target respon, dan tiga anggota Jihad Islam dibunuh.

Israel bersiap untuk melakukan pembalasan. Dan itu terjadi pada Selasa pagi kemarin.

Klaim adanya sejumlah rudal yang ditembakkan dan sebagian menyasar Taman Kanak-kanak, meningkatkan ketegangan semakin jauh.

Risiko dari kemungkinan terjadinya perang skala penuh sangat kuat. Dan beberapa saat mendatang, waktu akan bercerita.

Apapun itu, ada indikasi kuat bahwa Israel maupun Hamas menginginkan perang skala penuh.

Hamas tahu jika ada perang lain, Israel tidak akan berhenti hingga semua faksi perlawanan dihancurkan. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Cina di Timur Tengah: Di Balik Pesona Serangan Ekonomi Xi Jinping