Home / Berita / Internasional / Asia / Argentina Didesak Batalkan Pertandingan Persahabatan dengan Israel di Al-Quds

Argentina Didesak Batalkan Pertandingan Persahabatan dengan Israel di Al-Quds

Timnas Sepak Bola Argentina. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Ramallah. Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mendesak Argentina untuk membatalkan pertandingan persahabatan dengan Israel. Laga ini dijadwalkan akan digelar di Al-Quds (Yerusalem) pada 09 Juni mendatang.

Desakan itu disampaikan PFA melalui surat yang dikirim kepada Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CSF) dan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).

Dalam surat tersebut, Presiden PFA Jibril Rajoub memprotes pemilihan tempat laga digelar. Kabarnya Israel memilih Stadion Teddy di Yerusalem sebagai venue laga tersebut.

Menurut Jibril, pemilihan Stadion Teddy beraroma politik. “Israel, si penjajah, menabrak nilai-nilai universal dan norma-norma dalam prinsil olah raga,” imbuhnya.

Jibril juga menyebutkan, laga persahabatan tersebut akan mengorbankan reputasi dan moral tim sepak bola Argentina.

“Mereka (Israel, red) juga menyesatkan masyarakat Argentina dengan mempromosikan bahwa Yerusalem adalah milik Yahudi,” lanjut Jibril.

Menurut situs resmi Asosiasi Sepak Bola Israel, lebih dari 600.000 orang telah menyatakan minatnya untuk membeli tiket laga tersebut. Padahal Stadion Teddy hanya menampung 31.733 orang saja.

Tak Ada Persahabatan dengan Penjajah

Timnas Sepak Bola Argentina akan berlaga di Piala Dunia di Rusia 14 Juni mendatang. Sementara Israel, gagal lolos ke turnamen tersebut.

Bulan lalu, gerakan Boycott Divestment and Sanctions (BDS) menyeru agar penjajahan Israel atas tanah Palestina segara diakhiri. Selain itu, BDS juga mendesak Argentina untuk membatalkan laga persahabatan dengan Israel tersebut.

BDS menyebut laga persahabatan tersebut bersifat politis. Selain juga menuduh Israel sengaja menggelar laga itu untuk menutupi kebrutalan mereka terhadap warga Palestina.

“Tidak ada persahabatan dengan pendudukan militer dan pemerintahan apartheid. Jangan bertanding dengan Israel hingga hak-hak warga Palestina dihormati,” sebut BDS.

Sementara Israel menganggap BDS sebagai gerakan anti-Semit dan anti-Yahudi.

Perebutan Yerusalem

Status Yerusalem, yang setengahnya diduduki Israel setelah Perang Arab-Israel 1967, masih diperebutkan.

Israel mengklaim seluruh Yerusalem adalah ibu kota mereka. Sementara Palestina bersikeras Yerusalem Timur sebagai ibu kota mereka suatu saat nanti.

14 Mei lalu, Amerika Serikat secara resmi memindahkan Kedubes-nya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Tindakan itu segera mendapat respon keras baik dari internal Palestina maupun dunia internasional. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Rusia Kirim Sistem Rudal S-300 ke Suriah, Israel Kecewa