Home / Berita / Internasional / Asia / Setahun Kunjungan Trump ke Riyadh, Berikut Huru-hara yang Telah Terjadi

Setahun Kunjungan Trump ke Riyadh, Berikut Huru-hara yang Telah Terjadi

KTT Riyadh 20 Mei 2017 lalu. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Doha. Presiden Donald Trump merupakan presiden ke-45 Amerika Serikat. Ia dilantik pada 20 Januari 2017 setelah melalui persaingan sengit dengan pesaingnya, Hillary Clinton.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Trump merupakan sosok yang penuh kontroversi. Ia tidak malu menunjukkan jiwa rasismenya. Bahkan ia juga terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya dengan Islam. Terbukti beberapa saat setelah dilantik, ia melarang warga dari 6 negara mayoritas Islam untuk masuk Amerika.

Namun kemudian Trump memberi kejutan dunia dengan keputusannya terkait kunjungan luar negeri pertamanya sebagai presiden. Biasanya, para presiden Amerika lebih memilih negara-negara terdekat, atau Eropa untuk melakukan kunjungan luar negeri pertama.

Trump memutuskan sesuatu yang berbeda. Ia justru memilih kawasan Timur Tengah sebagai destinasi pertamanya sebagai presiden. Arab Saudi, Yordania dan Israel menjadi tiga tempat lawatannya. Dan ya, Saudi menjadi negara pertama yang ia kunjungi.

Peristiwa itu sudah terjadi satu tahun lalu, atau tepatnya 20 dan 21 Mei 2017. Selain bertemu dengan Raja Arab Saudi, Trump juga menggelar beberapa pertemuan tingkat tinggi. Di antaranya adalah Konferensi Arab Islam Amerika yang digelar di Riyadh.

Pertemuan tersebut seakan menjadi genderang baru dalam pemberantasan terorisme. Para negara peserta saling bersepakat untuk memberantas ekstremisme dan radikalisme. Selain juga sepakat memberantas pendanaan terorisme dari seluruh dunia.

Konferensi tersebut digelar dengan sangat meriah oleh Saudi sebagai tuan rumah. Dari segi peserta pun juga besar yaitu mencapai 56 negara. Namun tak disangka, pertemuan Trump dengan negara-negara Islam itu menimbulkan polemik hingga saat ini, yaitu pemboikotan Qatar oleh Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir.

Kesediaan Trump untuk mengikuti pertemuan juga tidak gratis. Menurut Channel CBN, Trump menyampaikan pada Saudi bahwa ia tidak akan hadir jika Riyadh tidak membayar miliaran dolar dalam bentuk pembelian senjata dari Amerika.

Syarat dari Trump itu kemudian dipenuhi. Seperti diketahui, ada perjanjian yang disepakati oleh Saudi dan Trump dengan nilai $ 460 miliar. Dari jumlah itu, $ 110 miliar di antaranya diperuntukkan untuk kepentingan militer.

Pemboikotan Qatar

Menurut media Amerika, pertemuan dan hasilnya sudah dirancang beberapa saat sebelumnya. Ini sebagai cerminan kedekatan antara Riyadh dan pemerintahan baru AS. Selain juga keakraban antara menantu Trump, Jared Kushner, Putra Mahkota Saudi dan Putra Mahkota Abu Dhabi.

Disebutkan, sebelum konferensi terwujud, ada pembicaraan panjang antara Pangeran Bin Salman dengan Kushner. Pembicaraan keduanya juga berlanjut hingga sebelum penangkapan terhadap sejumlah pangeran dan pebisnis Saudi. Di sisi lain, itu juga menegaskan koordinasi yang terjalin dalam mengelola isu internal dan eksternal.

Media AS juga menyebut bahwa Bin Salman berusaha menjadi ‘wakil resmi’ Amerika di Timur Tengah. Bahkan untuk menggolkan Visi Saudi 2030, Bin Salman berusaha menyelaraskannya dengan visi dan keinginan Amerika.

Menurut pengamat, salah satu yang dihasilkan dalam pertemuan Riyadh adalah pemboikotan Qatar. Ini dimulai dengan peretasan Kantor Berita Qatar (QNA) pada 23 Mei, hingga munculnya skenario pengerahan militer ke Doha.

Pemboikotan terjadi dengan adanya jaminan dari Kushner bahwa Trump akan mendiamkan tindakan melawan Qatar. Menurut laman The Intercept, Kushner termasuk yang mendukung pemboikotan setelah Doha menolak berintervensi ke salah satu perusahaan Trump pada bulan April 2017.

Saudi dan ketiga karibnya ingin menjadikan Konferensi Riyadh dan kedekatan dengan Trump sebagai momentum merongrong kedaulatan Qatar. Tetapi keteguhan Qatar, beserta kekuatan ekonomi dan diplomasinya, membuat para pemboikot mengalami kegagalan bahkan hampir menuju kekalahan.

Konferensi Riyadh, seperti yang disebut para pengamat, tidak menunjukkan adanya persatuan pada semua pihak baik Arab maupun Islam. Padahal konferensi telah berlangsung satu tahun. Bahkan, selama satu tahun dari konferensi justru menegaskan banyaknya perselisihan. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

[Video] Dai Tunisia Kepada As-Sisi: Anda Segera Berakhir

Organization