Home / Berita / Internasional / Asia / Akhir Konflik Palestina, Ini Kata Mereka

Akhir Konflik Palestina, Ini Kata Mereka

Hala Shoman. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Al-Quds. Rakyat Palestina telah kehilangan legitimasi mereka tas tanah kelahiran sejak 70 silam. Saat itu pula, Zionis bercokol di tanah kelahiran mereka dengan mendirikan entitas bernama Israel. Hari itu, 15 Mei 1948 dikenang dengan sebutan Hari Nakbah, atau Catastrophe dalam sejarah Palestina.

Bagi Palestina, pendirian Israel tahun 1948 menimbulkan duka kolektif, perang dan pengusiran. Didirikan sebagai negara Yahudi, Israel seringkali melakukan diskriminasi hampir di semua aspek kehidupan Palestina.

Hari ini, warga Palestina di wilayah itu seakan membawa identitas, dan hidup pada realitas yang berbeda. Mereka terpisahkan oleh tembok setinggi 8 meter, dengan penjagaan militer yang ekstra ketat.

Lebih dari 3 juta warga Palestina hidup di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Mereka menghadapi pembongkaran rumah, penangkapan paksa, dan perampasan tanah hampir setiap hari.

Sekitar 2 juta lainnya tinggal di Jalur Gaza. Mereka hidup di bawah tanah yang kedap udara, serta blokade laut dan udara yang sudah lebih dari satu dekade. Parahnya lagi, mereka hidup di tengah kemiskinan akut.

1,8 juta lainnya tinggal di wilayah Israel. Mereka terdaftar sebagai warga negara Israel, yang menjadikan mereka kelompok minoritas terpaksa. Hidup mereka tak lebih mudah. Karena ada 50 hukum diskriminatif yang harus mereka hadapi karena bukan Yahudi.

Bertepatan dengan 70 tahun Nakbah, Aljazeera berbicara dengan sejumlah pemuda Palestina. Dialog dilakukan seputar pemikiran mereka terkait solusi untuk konflik paling rumit di dunia ini.

Marah Maghamsi. (Aljazeera)

Marah Maghamsi, 21 tahun. Keluarganya diusir dari desa Mjadel, dan sekarang tinggal di Nazareth

Secara umum, diskrimanasi bukan suatu yang wajar. Namun di kala kita hidup di sebuah entitas yang dikhususkan untuk Yahudi, misalkan, maka diskrimani menjadi suatu yang sangat wajar. Bahkan cenderung diharapkan.

Diskriminasi semacam ini membuat diri kita merasa rendah. Kita juga melihat Israel begitu superior di hadapan kita. Ini adalah buah dari kebijakan sistematis selama periode yang panjang.

Hal ini merupakan tantangan yang harus kita hadapi sebagai warga Palestina setelah 1948 di bawah Israel. Kami mulai berpikir: Aku kurang berharga di hadapan Yahudi, meskipun aku lahir di sini, tinggal di sini, sementara mereka datang dari Eropa, Afrika, Rusia dan tempat lain.

Solusi dari konflik ini adalah menyingkirkan kolonialisme dan membangun satu negara.

Kami ingin satu negara yang untuk semua warganegara. Negara yang menjamin kepulangan mereka yang terusir. Negara yang mampu mempertahankan budaya, sejarah, dan kebangsaan Kanaan. Negara yang menghargai penderitaan kami sebagai orang-orang dari Ottoman, ke Inggris kemudian penjajahan Israel.

Kami harus mengembangkan metode perlawanan. Israel selama ini menghalangi semua bentuk perlawanan kami. Kami tidak dapat bekerja di satu level yang sama. Kami tidak bisa hanya berupaya mengubah opini internasional, atau hanya menggunakan perlawanan bersenjata. Kami harus bekerja di semua aspek untuk mengembangkan metode dan memberitahu dunia bahwa kami sedang dijajah.

Muntaser. (Aljazeera)

Muntaser Dkeidik, 34 tahun. Dari Al-Quds Timur yang terjajah

70 tahun Nakbah artinya 70 tahun pula Israel berusaha menghapus identitas kami tiap hari.

Tetapi, meskipun Israel melakukan apapun untuk itu, kami tetap berhasil mempertahankan identitas, semampu kami, sebagai warga Palestina di Yerusalem.

Palestina berasal dari Yordania dan menyeberang ke Laut Mediterania. Itu salah satu sejarah Palestina yang kami yakini.

Setiap hari, penjajahan meluas di Yerusalem. Sangat jelas bahwa penjajahan mendominasi pendidikan, kesehatan, ekonomi, bahkan hingga pariwisata.

Satu-satunya yang berhasil kami pertahankan adalah identitas. Itu yang selalu hadir kepada kami sebagai pemuda, serta dengan penolakan mereka pada penjajahan.

Tidak ada solusi bagi konflik karena ini menyangkut eksistensi, spasial dan perang ideologi. Ini bukan bisnis di mana saya dan Anda bisa mengambil keuntungan. Ini berhubungan dengan ideologi, agama. Konflik ini adalah tentang ruang dan eksistensi.

Ini juga berhubungan dengan keyakinan Yahudi, keyakinan zionis, bahwa mereka tidak akan melepaskan apapun. (PM Israel Benyamin) Netanyahu hari ini menginstruksikan pengambilalihan Tepi Barat. Pembangunan permukiman juga tidak berhenti dalam 10 tahun dan lebih.

Hari ini kita berkendara dari Yerusalem ke Nablus, dan pasti jalanan dipenuhi permukiman. Begitu pula dari Yerusalem ke Hebron.

Apa solusinya? Apa penyelesaian penjajahan? Dengan sistem dan kebijakan yang mereka gunakan? Apa proses perdamaian ada kemajuan? Apa sisi positif yang kita peroleh? Ini bertentangan. Lebih dari 10 atau 15 tahun terakhir kami kehilangan semua tanah di Tepi Barat yang menghubungkan banyak kota. Dan sekarang mereka memiliki permukiman Israel.

Apa solusinya?

Hala Shoman, 25 tahun. Dari Jalur Gaza.

Hala Shoman. (Aljazeera)

Inti masalah adalah penjajahan.

Aku lulusan kedokteran gigi. Aku mencoba meninggalkan Jalur Gaza untuk menempuh doktoral di Turki. Tapi aku kehilangan peluang karena blokade.

Mengakhiri sistem penjajahan adalah langkah pertama untuk menuju solusi. Setelahnya, kita sebagai warga Palestina dapat menentukan apakah orang asing diterima untuk tinggal di negara yang sama. Atau mereka akan kembali ke negara mereka dan menuntut hak untuk kembali

Sebagian besar mereka kan datang dari German dan negara-negara Eropa lainnya.

Nouran Abbasi. (Aljazeera)

Nouran Abbasi, 20 tahun. Dari desa Shefa Amr di Galilea

Penjajah Israel terus memecah belah, untuk membuat kami terus berjuang pada tuntutan, bukan untuk kemerdekaan.

Solusinya adalah mengesampingkan perjuangan pada tuntutan itu dan mengubahnya dengan berjuang untuk merdeka.

Perjuangan untuk merdeka dimulai dari kesadaran, belajar dari pengalaman masa lalu, seperti dua Intifadhah dan pemberontakan 1939. Membaca sejarah juga harus dengan benar, bukan hanya dari perspektif korban tapi juga dari perspektif perjuangan untuk kebebasan.

Kita bukan korban. Kita punya hak, dan punya metode untuk sukses.

Dari sinilah solusi itu dimulai. Jika saya melukiskan untuk Anda gambaran solusi, Saya akan melakukan solusi ketidakadilan.

Yousef Taha. (Aljazeera)

Yousef Taha, 23 Tahun, dari desa Kabul

Hak kepulangan untuk warga Palestina yang terusir adalah solusi yang pertama. Setelah itu, aku yakin, kita dapat membentuk satu negara demokratis, di mana warga Palestina bebas menuntut.

Solusinya bukan pada negara Yahudi. Karena memberi prioritas kepada bangsa Yahudi sama artinya negara tidak merepresentasikan warga Palestina dengan baik.

Kami punya identitas yang jelas. Tapi di saat yang sama, masyarakat di mana kami hidup tidak memahami kami. Ini masalah besarnya. Anda berpikir kehilangan. Tapi Anda berbicara dengan orang yang tidak mengerti Anda.

Aku tinggal di Tel Aviv sudah tiga tahun. Aku belajar di sini, dan merasa sangat terasing. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Cina Bertekad Jadi Pemimpin Energi Nuklir Dunia

Organization