Home / Berita / Opini / Secukupnya Saja, Jangan Sepuasnya!

Secukupnya Saja, Jangan Sepuasnya!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi – Pohon Kurma. (arainbrothersnursery.com)

dakwatuna.com – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, berbagai spanduk, poster, reklame dan baliho bertema Ramadhan milik instansi pemerintah, BUMN, organisasi kemasyarakatan, partai politik hingga yayasan dan lembaga pendidikan terpampang, menghiasi sisi kanan kiri jalan, dengan berbagai ucapan dan ukuran.

Namun dari begitu banyak yang kulihat, belum satu pun kutemukan satu spanduk, poster, reklame maupun baliho yang isinya mengingatkan kepada kita apa makna dan tujuan puasa yang sesungguhnya. Sebaliknya, dua spanduk yang dipasang di samping gerbang dua hotel dan restoran di sisi jalan yang setiap pagi kulalui menggerakanku untuk membuat tulisan ini.

Spanduk berisikan promo paket buka puasa sengaja dibuat dan dipasang sedemikian rupa sehingga meski hanya dengan sekilas orang bisa membacanya. Spanduk pertama dipasang di sisi kanan gerbang hotel dan restoran berisikan promo paket buka puasa sepuasnya dengan biaya Rp.90.000,00 per orang. Spanduk kedua dipasang di sisi kiri gerbang hotel dan gedung pertemuan berisi hal yang sama dengan harga berbeda, Rp.148.000,00 per orang.

Bagi sebagian orang, berbuka baik sendiri maupun bersama terkadang mendapat perhatian yang lebih (kalau tidak dibilang berlebihan) dari puasanya. Ramadhan belum juga tiba, jadwal berbuka puasa, baik menu maupun tempatnya, sudah tersusun rapi.

Tidak selalu salah, juga bukan masalah sebab berbuka adalah salah satu kebahagiaan yang didapat oleh orang yang berpuasa. Tapi, semestinya jangan sampai melupakan kesempatan untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan beribadah di bulan Ramadhan, baik itu puasa maupun ibadah lainnya.

Kembali ke promo paket buka puasa sepuasnya yang ditawarkan pengusaha hotel dan restoran. Bagi kalangan tertentu, uang senilai itu mungkin tidaklah seberapa, seperti uang jajan hari-hari biasa, namun bukan jumlah nominalnya yang menjadi perhatianku, tapi kata sepuasnya yang menjadi kekhawatiranku.

Konsep makan sepuasnya, bukan secukupnya kukhawatirkan akan menghilangkan makna dan tujuan puasa yang sesungguhnya yaitu menahan, mengendalikan diri dan nafsu meskipun kita mau dan mampu untuk melakukan itu.

Beberapa tahun silam, di luar bulan puasa, aku pernah diajak rekan kerja makan di sebuah restoran dengan konsep makan sepuasnya. Masih lekat dalam ingatanku bagaimana sebagian besar pengunjung restoran berperilaku dan memperlakukan hidangan yang disajikan. Seolah tak mau rugi, belum habis yang satu, sudah mengambil yang lainnya lagi. Begitu dan terus begitu. Astaghfirullah!

Hal serupa itulah yang kukhawatirkan juga terjadi pada konsep buka puasa sepuasnya. Karenanya, melalui tulisan ini ijinkan saya mengingatkan diri pribadi, juga pembaca sekalian, meski ada kemauan, juga kemampuan, namun pikirkan berkali lagi perlu tidaknya, baik buruknya.

Benar yang dipakai adalah uang kita, hasil jerih payah kita, rezki kita, namun jangan lupa di setiap rezki kita, ada rejeki orang lain di sana. Dengan uang sejumlah itu, kita bisa mendapatkan kepuasan yang lebih dari kepuasan yang mereka tawarkan. Berbagi dengan sesama, menyediakan makanan dan minuman untuk orang-orang yang sedang berpuasa, mengajak berbuka bersama kaum dhuafa adalah beberapa cara untuk mendapatkan kepuasan yang jauh lebih bermakna dibanding berbuka dengan konsep makan sepuasnya.

Rasulullah memberi contoh kepada kita bagaimana beliau berbuka puasa. Beliau berbuka hanya dengan beberapa teguk air dan butir kurma. Tidak mengurangi pahala puasa kita memang, jika kita tidak berbuka dengan cara yang sama, namun kita kehilangan keutamaan jika tidak mengikuti apa yang telah nabi contohkan.

Justru menjadi dosa apabila kita berbuka dengan cara yang dilarang oleh agama, berlebih-lebihan salah satunya. Rasulullah memberi gambaran yang jelas tentang proporsi makan yang tidak berlebihan yaitu sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

Terakhir, kembali mengingatkan diri pribadi, dan saudara muslim yang membaca tulisan ini, puasa itu menahan, bukan sekadar menunda, menggeser waktu makan dan minum dari siang menjadi malam. Meski sudah tiba waktu berbuka, tetap kendalikan, jangan seperti balas dendam.

Berbukalah secukupnya, jangan sepuasnya karena manusia itu cenderung tidak pernah puas, meski sudah mendapat lebih dari apa yang dibutuhkan. (abisabila/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Harmonisasi Laporan Audit Bank Syariah Sebagai Tantangan Keuangan Islam di Masa Depan