Home / Berita / Internasional / Asia / Aksi Solidaritas Palestina Merebak di Seluruh Dunia

Aksi Solidaritas Palestina Merebak di Seluruh Dunia

70% penduduk Gaza adalah pengungsi atau keturunan pengungsi. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Doha. Aksi solidaritas untuk Palestina mewarnai jalanan kota-kota di seluruh dunia. Ini dilakukan dalam rangka memperingati 70 Hari Nakbah, yaitu pendirian Israel dan pengusiran warga Palestina pada 15 Mei 1948 silam.

Selain itu, aksi pada Selasa (15/05) kemarin juga bertepatan dengan gugurnya 60 pejuang Palestina dalam satu hari. Mereka bersama ribuan korban luka lainnya menjadi sasaran tembak pasukan keamanan Israel di perbatasan Gaza.

Warga Palestina di perbatasan Gaza telah menggelar aksi sejak 30 Maret lalu. Ada dua hal yang menjadi tuntutan utama mereka, yaitu hak untuk kembali serta mengakhiri blokade pada Jalur Gaza.

Disebutkan Aljazeera, 70% dari keseluruhan penduduk Gaza adalah pengungsi dan keturunan pengungsi. Jumlah total penduduk Gaza sendiri diperkirakan mencapai dua juta orang.

Berikut beberapa aksi solidaritas yang dilakukan di beberapa negara:

Lebanon

Warga Palestina di Lebanon berkumpul di Benteng Shkeef di bagian selatan dalam rangka memperingati 70 Tahun Nakbah. Lebanon menjadi negara yang menampung cukup besa pengungsi Palestina.

Menurut mendia lokal, sejumlah pemuda turun dari tebing yang cukup tinggi untuk mencapai garis demarkasi PBB yang memisahkan Lebanon dengan Israel.

Koresponden Aljazeera di lokasi, Zeina Khodr mengatakan, salah satu pesan yang disampaikan adalah tentang penentangan.

“Ismail Haniyah, pimpinan Hamas, berbicara kepada massa aksi dari Gaza melalui telepon. Dengan penuh semangat ia menegaskan bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan. Ia juga menyebut bahwa rakyat Palestina tidak akan menyerah dan tunduk,” lanjut Zeina.

Selain itu, menurut Zeina, Haniyah juga menyampaikan pesan kepada Otoritas Palestina. “Menurut Haniyah, Otoritas Palestina harus membatalkan Perjanjian Oslo dan tidak terlibat dalam negosiasi apapun dengan Israel.”

Afrika Selatan

Ribuan massa aksi memadati jalanan Cape Town dan Johannesburg pada Selasa. Mereka mengecam penggunaan kekerasan oleh Israel dalam menanggapi aksi damai di Jalur Gaza.

Jurnalis Aljazeera Malcom Webb, melaporkan Johannesburg, penderitaan rakyat Palestina mengingatkan rakyat Afrika Selatan pada tindakan rasisme yang mereka alami di bawah Apartheid.

“Sejarah dukungan Afrika Selatan kepada Palestina berlangsung selama beberapa dekade. Ini berkenaan dengan perjuangan masa lalu dalam melawan apartheid dan pemerintahan minoritas kulit putih,” kata Webb.

Webb melanjutkan, “Rakyat di sini menganggap ada beberapa persamaan. Proyek kolonial yang menyebabkan marginalisasi penduduk setempat, tanah mereka dirampas, begitu juga dengan hak-hak mereka.”

Rakyat Afrika Selatan mempunyai satu semboyan yang menyebut, “Apartheid dapat dikalahkan di sini, dan akan dikalahkan juga di Israel, di tanah Palestina.”

India

Sejumlah mahasiswa dan aktivis memadati sekitaran kampus di New Delhi untuk memperingati Hari Nakbah, Selasa.

Suasana suram terasa ketika sejumlah pria dan wanita berorasi di sebuah halaman terbuka di Universitas Jawaharlal Nehru. Mereka membawa poster bertuliskan Free Palestine dan mengibarkan bendera Palestina.

“PBB layaknya boneka saat ini, tak punya taring. Bangsa ini (Palestina, red) berjuang selama 70 tahun tanpa ada hasil. Amerika dan Israel bermain layaknya mereka PBB. Ini memalukan,” kata Rizwan Ahmed (21), kepada Aljazeera.

Ada pula Maphaz Ahmed Yousef, seorang Palestina yang tinggal di New Delhi bersama suami dan anaknya. Ia mengaku sangat berharap.

“Palestina tidak akan pernah kehilangan harapan di India. Ini karena sejarah bersama kami yang tidak dapat dirusak pemerintah. Solidaritas India untuk Palestina sangat berarti. Pemerintahan bisa datang dan pergi, tapi sejarah tidak akan terhapuskan,” katanya.

Aksi solidaritas di seluruh dunia akan membuat pemerintah membatasi hubungan dengan Israel.

“Di samping itu, aksi ini juga akan mengirimkan pesan kekuatan kepada warga Palestina di saat Gaza berduka atas semua yang gugur,” pungkasnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Kesaksian Warga Desa Kamboja Hempaskan Megaproyek Cina (Bagian 1)

Organization