Home / Narasi Islam / Sejarah / Seruan Panglima Quthuz yang Menghentak Jiwa Pasukannya

Seruan Panglima Quthuz yang Menghentak Jiwa Pasukannya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: westernfolklife.org)

dakwatuna.com – Sebelum pertempuran besar antara pasukan muslim dan pasukan Tatar di Ainun Jalut, Panglima Perang muslim Muzaffar Quthuz melakukan persiapan perang serta inspeksi perbekalan yang akan dibawa bersama kavaleri tempur. Setelah melakukan musyawarah dengan para panglima yang lain.

Quthuz memutuskan untuk menyerang terlebih dahulu benteng pertahanan Tatar di Syam sebelum musuh melakukan penyerangan. Instruksi dan genderang tempur kemudian diserukan ke segenap komandan satuan dan pasukan muslimin. Mereka langsung bergerak ke kawasan Shahiliyah dan menetap beberapa saat di sana sembari menunggu persiapan pasukan.

Tak dinyana, di perjalanan Muzaffar Quthuz merasakan indikasi kemalasan dan kelemahan di tengah pasukannya. Mereka tampak lamban dan enggan bertempur. Menyaksikan fenomena kelemahan di tengah saat-saat genting seperti itu, tak lengah Panglima Quthuz langsung berseru lantang menghentak jiwa pasukan muslimin, ”

Sungguh, begitu lemahnya jiwa kalian! Demi Allah, tidak ada yang membuat kalian seperti ini selain karena rasa takut dan gentar terhadap pedang-pedang pasukan Tatar yang akan merobek perut kalian yang semakin gemuk karena banyak memakan kekayaan umat. Tidak tahukah kalian bahwa tak seorang pun yang berperang di halaman rumahnya, melainkan ia akan dihinakan?

Wahai para pemimpin umat Islam, bukankah kalian telah mendapatkan bagian hak kalian dari baitul mal, tapi mengapa kalian membenci pertempuran? Betapa miripnya hari ini dengan kemarin, betapa serupanya kalian dengan orang-orang munafik pada masa Rasulullah. Sungguh demi Allah, aku akan tetap bertempur menghadapi musuh-musuh Allah bersama siapa saja yang ikut bersamaku.

Barangsiapa di antara kalian yang memilih jihad dan mati syahid di jalan Allah maka ikutlah bersamaku, namun barangsiapa yang hatinya enggan dan ragu, saya izinkan kalian untuk meninggalkan medan pertempuran ini dan kembali ke rumahnya masing-masing.”

Gelegar suara Quthuz kontan menyentak kesadaran seluruh pasukan. Semuanya terhenyak menyadari kealfaan. Panglima Mamalik itu telah menyentuh titik kesadaran mereka tentang arti penting kesabaran dan komitmen dalam perjuangan. Belum usai pidato yang menggelora itu disampaikan, serentak suara isak tangis terdengar. Seluruh prajurit berbinar sesenggukan. Ainun Jalut mengharu biru.

Luar biasa. Airmata itu menghantarkan seluruh pasukan ke medan laga. Tak seorang pun prajurit yang meninggalkan barisan tempur melainkan berbaiat untuk menang dan syahid di jalan Allah. Tahun 658 H, mereka membuktikan kesetiaan itu dan mengukirnya di lembaran emas para pejuang. Pasukan muslim mampu melumpuhkan pasukan Tatar dan memenangkan pertempuran.

Sejarah dan peradaban selalu diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, malas, berleha-leha dan para pemimpi. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang mewujudkan cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan kesungguh-sungguhan dan kekuatan tekad. Mereka adalah orang-orang yang mampu melawan dan mengusir penat.

Risalah Islam adalah beban berat yang hanya bisa dipikul oleh orang-orang besar dan hebat. Begitu tulis Al-Ustad Rahmat Abdullah. Agaknya di sinilah Allah menyaring secara cermat antara para pejuang yang jujur dengan perjuangannya dengan para pecundang yang lemah dan haus keuntungan. Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan jauh melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepanjang zaman.

Benarlah apa yang dikatakan seorang mujahid dakwah dari Mesir, “Adapun orang yang tidur dengan sepenuh kelopak matanya, makan dengan sepenuh mulutnya, tertawa dengan sepenuh kerongkongannya, dan menghabiskan waktunya dalam permainan, gurauan, pekerjaan yang sia-sia dan gelimangan nafsu, sungguh sangat jauh dari keberhasilan dan tak tertulis dalam barisan para pejuang.” (ardiansyah/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Ardiansyah Ashri Husein, Lc., M.A
Duta Sosialisasi Palestina KNRP [Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina]. Direktur International Institute for Islamic World Studies (INIWS).

Lihat Juga

Mengenal Sejarah Wakaf