Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tentang Ketampanan Nabi Yusuf AS

Tentang Ketampanan Nabi Yusuf AS

Ilustrasi. (superiorwallpapers.com)

dakwatuna.com – Siapa bintang film paling tampan paling tampan yang Anda kagumi? Brad-Pitt, Tom Cruise, Leonardo Dicaprio, atau pemeran James Bond, Pierce Brosnan?

Memang mereka tampan, tetapi tidak pernah saya mendengar ada wanita yang sampai “memotong tangannya” karena terpesona pada ketampanan mereka. Bandingkan dengan kisah ketampanan Nabi Yusuf (alaihi salam) berikut ini.

Alkisah, para wanita kelas atas di zaman itu mengejek sang permaisuri yang jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Yusuf. Permaisuri itu kesal, dia lalu mengundang para wanita kelas atas tersebut datang ke istana. Singkat cerita, kepada setiap mereka diberikan sebilah pisau, lalu Nabi Yusuf disuruh keluar.

Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)-nya, dan mereka “memotong” (jari) tangannya sendiri dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31)

Kata memotong pada terjemahan ayat di atas sengaja saya berikan tanda petik (“). Kenapa? Sebab, dalam terjemahan al-Quran standar, kata “َقَطَعْن” diterjemahkan sebagai “menggores/tergores”. Saya tidak sependapat dengan terjemahan itu. Sebab, secara lexiografi, penulisan kata itu diberikan penekanan atau tasydid sehingga arti yang tepat adalah “memotong dengan keras.”  Kata “tergores” punya pemahaman, memotong secara tidak sengaja, mungkin sambil memotong buah. Padahal, al-Quran tidak menceritakan tentang disediakannya buah-buahan pada ayat tersebut. Mereka hanya diberikan pisau, tetapi tidak diberikan buah.

Penafsiran “memotong sambil memakan buah” juga terbantahkan karena para ahli sejarah mengatakan, di zaman itu, tidak ada budaya makan buah menggunakan pisau. Penggunaan pisau untuk makan buah baru dikenal belakangan.

Maka, sungguh tak terbayangkan betapa tampannya nabi Yusuf (alaihi salam) sampai kaum sosialita dan selebriti di zaman itu memotong tangan mereka begitu melihatnya. Betapa pun demikian, Yusuf tetaplah seorang yang shalih. Saya jadi ingat lagu Nasyida-Ria, “sayang sungguh sayang, orang tampan tak sembahyang. Nabi Yusuf tampan, dia tetap sembahyang….”

Jadi, tampan tak shalih, buat apa? Pasti ada pembaca wanita yang berpikir, “buat teman kondangan, ustadz”. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Menyelesaikan pendidikan dasar di Pondok Pesantren Attaqwa, Bekasi. Lalu melanjutkan studi ke International Islamic University, Pakistan. Kini, dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda, Bogor. Email: [email protected] Salam Inayatullah Hasyim

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi