Home / Berita / Internasional / Asia / Tanggapi Penistaan Al-Quran di Prancis, Erdogan: Kalian Rendahan

Tanggapi Penistaan Al-Quran di Prancis, Erdogan: Kalian Rendahan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (arabi21.com)

dakwatuna.com – Ankara. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, menyebut pemilu 24 Juni mendatang sebagai peluang untuk mewujudkan kemajuan. Hal itu ia sampaikan di hadapan anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Selasa (08/05/2018).

“Hanya ada satu cara untuk mewujudkan visi Turki 2023, 2053, dan 2071, yaitu dengan sistem pemerintahan presidensial. Kita punya pengalaman domestik dan internasional. Aku dan tim ini (AKP) juga punya pengalaman dan segera mewujudkan proyek-proyek baru,” kata Erdogan, seperti dilansir dari Yenisafak.

Menurut visi tersebut, Turki berharap mampu menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2023 mendatang.

“Orientasi politik kita didasarkan pada melangkah maju, dan membangun Turki,” imbuhnya. Ia juga menyebut kontribusi AKP dalam memajukan bidang kesehatan, pendidikan, perumahan, pertahanan, konstruksi dan transportasi.

“AKP telah berkuasa selama 16 tahun, tentu ada pertambahan dan pengalaman nyata,” lanjutnya. Ia menegaskan, sistem presidensial akan membuat Turki untuk bergerak maju.

Penistaan Al-Quran di Prancis

Pada kesempatan tersebut, Erdogan juga mengecam keras petisi rasis penuh kebencian yang beredar di Prancis. Seperti diwartakan sebelumnya, petisi yang ditanda tangani tokoh-tokoh Prancis itu menyeru agar beberapa ayat dalam Al-Quran dihapus.

Baca juga: Islam di Prancis; Ada Petisi untuk Menghapus Beberapa Ayat Al-Quran

“Sangat jelas bahwa mereka yang menyerukan itu tidak paham Al-Quran. Aku juga bertanya-tanya, apakah selama hidup mereka pernah membaca Bibel atau Taurat? Jika membacanya, tentu mereka tidak rela Bibel dinista juga,” kata Erdogan.

Erdogan menambahkan, “Siapa Anda berani-beraninya menyerang Kitab Suci kami? Kami tidak akan menista kitab suci kalian, karena kami tidak serendah kalian. Kami punya sikap dan karakter.”

Skandal petisi tersebut dimuat oleh surat kabar Le Parisien pada 24 April lalu. Beberapa tokoh terkenal Prancis turut membubuhkan tanda tangan dalam petisi tersebut, seperti Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Mantan PM Manuel Vall.

Petisi rasis penuh kebencian itu berisi tentang seruan agar beberapa ayat dalam Al-Quran dihilangkan. Para penyeru petisi menilai, ayat-ayat yang mereka maksud menyerukan pembunuhan terhadap Nasrani, Yahudi dan Ateis.

Sontak petisi tersebut mendapat kritikan keras dari kalangan Muslim Prancis. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi