Home / Berita / Internasional / Asia / Krisis Diplomatik Maroko-Iran, Berikut Sebabnya

Krisis Diplomatik Maroko-Iran, Berikut Sebabnya

Krisis Diplomatik Maroko-Iran. (Yenisafak)

dakwatuna.com – Rabat. Pemerintah Maroko mengaku memiliki tiga bukti dasar yang menjadi alasan pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran. Hal itu disampaikan oleh Mustapha El Khalfi, juru bicara pemerintahan Maroko, seperti dilansir Yenisaafak Arabic, Jumat (04/05/2018).

Sebelumnya, pada Selasa (02/05) Maroko memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Sebabnya, Teheran dituduh turut melatih dan mendukung kelompok Polisario di Sahara. Menurut Rabat, hal itu dilakukan Teheran melalui Hizbullah Syiah Lebanon.

El Khalfi mengatakan, “Bukti pertama, para ahli militer di Hizbullah melatih elemen Polisario pada perang jalanan. Selain juga membentuk elemen komando.”

Bukti kedua, tambahnya, berkaitan dengan pasokan senjata dan bahan peledak. “Senjata diselundupkan melalui Tindouf,di Aljazair,” imbuh El Khalfi.

El Khalfi melanjutkan, bukti ketiga berkaitan dengan keterlibatan seorang anggota kedutaan besar Iran di Aljazair. “Seorang ini mengatur dan mempermudah komunikasi serta pertemuan dua pihak (Polisario dan Hizbullah). Ia memegang paspor Iran,” jelasnya.

Sejauh ini, Aljazair belum merilis klarifikasi terkait tuduhan keterlibatannya ini. Namun, disebutkan bahwa Aljazair telah memanggil duta besar Maroko di Aljir berkenaan dengan pernyataan Menlu Maroko.

Menurut El Khalfi, pihaknya telah mengonfirmasi tiga bukti itu sebelum memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Katanya, konfirmasi dilakukan saat kunjungan Menlu Maroko Nasser Bourita ke Iran. Namun Teheran sama sekali tidak menyatakan bantahannya.

El Khalfi menegaskan, keputusan Rabat sama sekali tidak diambil berdasarkan tekanan asing manapun. Segala tindakan yang mengancam keutuhan Maroko, imbuhnya, maka pihak yang bermain akan membayar mahal atas tindakannya itu.

Sementara itu, Teheran juga belum memberi klarifikasi apapun. Hanya saja, Iran dan Hizbullah Syiah Lebanon membantah memberikan bantuan kepapda Polisario. Bahkan Hizbullah menuduh keputusan Rabat atas dasar tekanan dari Amerika, Israel dan Saudi.

Konflik di wilayah Gurun Sahara telah dimulai sejak tahun 1975, tepatnya pasca penjajahan Spanyol. Sejak itu terjadi konflik bersenjata antara Maroko dan Polisario, dan berakhir pada tahun 1991 dengan penandatanganan genjatan senjata. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Hamas: Menhan Israel Mundur, Kemenangan Politik bagi Gaza