Home / Berita / Internasional / Asia / Makna di Balik Kemenangan dan Kekalahan Erdogan dalam Pemilu Mendatang

Makna di Balik Kemenangan dan Kekalahan Erdogan dalam Pemilu Mendatang

Erdogan dan pendukungnya (arabi21.com)

dakwatuna.com – Ankara. Secara tidak langsung, keputusan mempercepat pelaksanaan pemilihan umum, sama pentingnya baik bagi masa depan negara itu sendiri atau bagi masa depan krisis di Suriah.

Jelasnya, hal yang paling penting dalam percepatan pemilu ini adalah penerapan sistem pemerintahan presidensial menjadi lebih cepat dari jadwal sebelumnya.

Sementara itu, ternyata percepatan pemilu Turki juga menyedot perhatian luas dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Suriah. Hal ini menegaskan sejauh mana pentingnya keputusan Turki itu.

Sikap pemerintah Turki saat ini, beserta kandidatnya yaitu Recep Tayyip Erdogan, sangat jelas dalam konflik yang terjadi di Suriah.

Melalui pemerintahan tersebut, Turki menegaskan bahwa Bashar Assad telah kehilangan legitimasinya sebagai Presiden Suriah. Bahkan Turki juga bersikukuh bahwa Assad tidak punya tempat dalam masa depan Suriah.

Selain itu, Turki bersama Erdogan juga senantiasa mengulurkan tangan bagi pengungsi Suriah. Bagi Turki, menolong pengungsi merupakan kewajiban kemanusiaan yang harus dipikulnya.

Sebenarnya, prinsip Turki ini juga dibagikan kepada ‘sahabat Suriah’, termasuk Amerika Serikat, bahkan sejak konflik masih berupa percikan. Namun sayang, tidak ada satupun negara yang menerapkan prinsip tersebut, kecuali Turki sendiri.

Tepatnnya saat dunia Barat menilai bahwa seorang Suriah yang religius dan konservatif akan menang dalam pemilihan, mereka segera mempersilahkan Assad untuk kembali memegang kehendak Suriah. Barat lantas memberi dukungan secara terselubung pada Assad, dan jadilah Suriah seperti hari ini.

Tak bisa dipungkiri, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) adalah motor di balik komitmen Turki pada prinsip tersebut. Dengan begitu, Turki kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk para pengungsi Suriah.

Seperti diketahui, warga Turki pemilik hak suara akan datang ke bilik-bilik suara untuk memilih parlemen dan presiden pada 24 Juni mendatang. Selain itu, mereka juga akan memilih masa depan seperti apa yang akan terjadi untuk Turki, dan juga krisis Suriah.

Hal ini karena kandidat ‘Koalisi Rakyat’, Recep Erdogan, tentu akan melanjutkan kebijakannya selama ini. Jika kembali terpilih, ia akan mendukung habis kesatuan Suriah, serta keinginan nasional di sana.

Sementara kandidat dari oposisi, tentu memiliki sikap yang sangat berbeda. Dan sayangnya, pentolan oposisi yaitu Partai Rakyat Republik (CHP) mendukung legitimasi Assad di Suriah.

Oleh karena itu semua, kemenangan Erdogan dalam pemilu nanti setidaknya punya dua makna. Pertama pergantian sistem menjadi presidensial. Dan kedua, kebijakan yang terkait dengan Suriah akan terus dilanjutkan.

Sementara kemenangan oposisi, berarti penolakan pada sistem presidensial dan menyeret Turki ke dalam krisis politik. Di sisi lain, oposisi diyakini akan memulai pembicaraan dengan rezim Assad, dan mengembalikan pengungsi Suriah ke pangkuannya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Arab Saudi Hapus Program ‘Kesadaran Islam’ di Sekolah-sekolah