Home / Berita / Internasional / Asia / Turki Pimpin Pertempuran Eksistensi Demi Palestina

Turki Pimpin Pertempuran Eksistensi Demi Palestina

Presiden Turki bersama beberapa pemimpin negara Islam. (Yenisafak)

dakwatuna.com – Kairo. Akademisi sekaligus Pemikir Politik asal Mesir, Saif Abdel Fattah, menyebut Turki sedang memimpin pertempuran eksistensi. Menurutnya, lawan yang dihadapi dalam pertempuran tersebut adalah Kesepakatan Abad Ini (Deal of the Century).

Deal of the Century merupakan sebuah rencana yang akan dijalankan pemerintahan Donald Trump dalam upaya mengakhiri perseteruan Palestina-Israel. Dalam kesepakatan itu, Palestina dipaksa untuk tunduk dalam beberapa hal, termasuk menyerahkan Al-Quds (Yerusalem) kepada zionis.

Tentu saja kesepakatan seperti ini menjadi perhatian banyak pihak secara internasional. Bahkan telah terbentuk aliansi baru yang bertujuan menghadapi para penentang kesepakatan. Aliansi baru ini disebut-sebut terdiri dari negara-negara Arab dan Israel.

“Turki adalah salah satu target dari Deal of the Century, yang akan diterapkan di Timur Tengah dengan tujuan mengatur ulang tatanan di Kawasan,” kata Abdel Fattah kepada kantor berita Turki, Anadolu. Abdel Fattah diwawancarai di sela-sela Forum Al-Jazeera di Doha, Qatar.

“Keberadaan Turki di banyak permasalahan menjadi faktor penyeimbang yang penting,” imbuh Abdel Fattah. “Khususnya bagi mereka yang menentang Arab Spring (yang dimulai akhir 2010).”

Abdel Fattah juga menyebut Turki telah melakukan banyak hal penting. Untuk itu maka tidak bisa dipisahkan antara pekerjaan Turki di satu tempat dengan yang lain.

Abdel Fattah melanjutkan, “Turki memimpin pertempuran eksistensi dalam menghadapi Deal of the Century. Turki juga terlibat dalam pertempuran politik yang panjang dan penting.”

Turki menjadi negara terdepan yang menolak keputusan Trump tentang pengakuan Al-Quds sebagai ibu kota Israel pada 06 Desember 2017 lalu. Selain itu, Turki juga dengan lantang menolak pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Al-Quds. Rencananya peresmian kedutaan ini akan dilakukan pada 14 Mei mendatang, bertepatan dengan 70 tahun Hari Nakbah Palestina.

Pada 13 Desember 2017, Turki menggelar pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dalam pertemuan yang bermaksud menolak klaim sepihak Trump itu, Turki bersama OKI juga menyeru dunia untuk mengakui Al-Quds Timur sebagai ibu kota Palestina.

Pembalaan Turki kepada Palestina tidak sebatas itu saja. Bersama Yaman, Turki juga mengajukan draf resolusi ke Majelis Umum PBB pada tanggal 21 di bulan yang sama. Dalam draf tersebut disebutkan bahwa Al-Quds merupakan permasalahan akhir yang harus diselesaikan dengan dialog.

Lebih lanjut Abdel Fattah mengatakan, “Turki telah melakukan pekerjaan penting tentang sebuah penciptaan prestise.”

“Penciptaan prestise adalah dalam hal identifikasi peluang dan memetakan aliansi baru yang dibuatnya, guna memaksimalkan potensi dan kemampuan,” jelas Abdel Fattah.

Terkait klaim sepihak Trump tentang Al-Quds, Abdel Fattah menyebutnya sebagai salah satu halaman dari Deal of the Century.

Selain itu, Abdel Fattah juga mengindikasi adanya gerakan zionisme di Arab. “Negara-negara Arab harus menghadapi zionisme Arab yang berusaha menganggap remeh setiap perlawanan terhadap enititas zionis,” pungkasnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Benarkah Erdogan Minta Bantuan Ekonomi ke Merkel? Ini Jawaban Menteri Jerman