Home / Berita / Internasional / Asia / Sebut Bashar Assad ‘Binatang’, Lalu Apa Tindakan Selanjutnya, Tuan Trump?

Sebut Bashar Assad ‘Binatang’, Lalu Apa Tindakan Selanjutnya, Tuan Trump?

Donald Trump sebut Bashar Assad binatang. (Aljazeera.net)

dakwatuna.com – Doha. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyebut Presiden Suriah Bashar Assad sebagai binatang. Hal ini menyusul serangan rezim Suriah di kota Douma, yang disebut-sebut menggunakan senjata kimia.

Trump bukan kali ini saja menggunakan sebutan itu kepada Assad. Tepatnya pada bulan April tahun lalu, Trump juga  menyebut binatang kepada Assad menyusul serangan pasukan rezim ke Khan Yunis dengan senjata kimia.

Bahasa dan waktu yang digunakan Trump menjadikan pernyataannya itu dianggap luar biasa. Namun di sisi lain muncul pertanyaan seputar langkah apa yang akan diambil penguasa Gedung Putih itu.

Pada penyataanya terbaru ini, Trump juga melontarkan ancaman keras kepada Assad. Menurut Trump, Assad akan membayar dengan sangat tinggi serangannya ke kota Douma itu.

Selain kepada Assad, Trump juga menyerang dua kekuatan penyokong rezim Suriah, Iran dan Rusia. “Putin dan Iran bertanggungjawab karena mendukung binatang Assad,” tulis Trump di akun twitter-nya.

Lebih lanjut, Trump juga menyeru pihak-pihak terkait agar membuka wilayah yang diserang dengan senjata kimia. Hal ini agar bantuan kemanusiaan bisa masuk, jelasnya.

Ternyata serangan kata-kata Trump juga dialamatkan kepada pendahulunya, Presiden Barack Obama. “Jika Obama komitmen dengan garis merah di Suriah,” kata Trump. “Tentu bencana kemanusiaan di sana telah berakhir lama.”

Pernyataan demi pernyataan Trump berkenaan dengan situasi di Suriah ini menjadi yang paling keras. Bahkan Penasihat Keamanan Nasional AS, Thomas Bussert, mengaku tengah mempertimbangkan aksi balasan atas serangan senjata kimia itu.

Namun, Mamoun Abu Nawar seorang pakar strategi mengatakan, opsi yang ada tampak rumit. Balasan AS tentu bergantung pada perkiraan besaran dan kualitas gas pada senjata kimia yang digunakan. Selain juga adanya kemungkinan head to head dengan Rusia.

Abu Nawar meyakini, apabila gas yang digunakan adalah gas klorin, maka sangat kecil kemungkinan AS akan menyerang balik Suriah. “Namun apabila gas sarin, sangat diimungkinkan AS akan menyerang balik setelah tahu jenis dan besarannya,” imbuh Abu Nawar.

Selain itu, serangan AS ke Suriah harus dalam mendapat lisensi dari Rusia. Namun mengingat sikap Rusia saat ini, sangat kecil kemungkinan lisensi itu diberikan, tambah Abu Nawar.

“Rusia mampu melumpuhkan Tomahawk jika itu digunakan Washington untuk menyerang rezim Suriah,” imbuh Abu Nawar. “Padahal senjata itu pula yang digunakan untuk menanggapi serangan kimia rezim di Khan Yunis tahun lalu.”

Abu Nawar menilai, jika sampai Rusia menggagalkan serangan AS, maka itu berarti membuka konfrontasi Washington-Moskow. “Tentu tidak ada yang tahu sampai mana konfrontasi itu akan berlangsung,” lanjutnya.

Pada Sabtu malam (07/04) kemarin, rezim Suriah melancarkan seragan ke kota Douma. Serangan yang disinyalir menggunakan senjata kimia itu mengakibatkan puluhan warga sipil tak berdosa tewas menjadi korban. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Rekonsiliasi Tidak Gratis, Israel Jamin Keamanan Arab Terhadap Ancaman Iran

Figure
Organization