Home / Berita / Internasional / Asia / Dilema Dua Pihak; Erdogan Islamis atau Sekuler?

Dilema Dua Pihak; Erdogan Islamis atau Sekuler?

Erdogan dalam peringatan Penaklukan Istanbul ke-561 (Anadolu)

dakwatuna.com – Ankara. Islamis atau Sekuler? Pernyataan seperti itu sering menjadi masalah dewasa ini. Di Turki, para Sekuler akan menilai Edogan bagian kelompok Ikhwan yang dituduh radikal garis keras. Kelompok ini dituduh ingin melakukan Islamisasi terhadap masyarakat Turki yang masih terwarnai oleh pemikiran Ataturk yang Sekuler. Kelompok Ikhwan juga dituduh hendak mengubah Turki menjadi negara Islam yang menerapkan hukum syariah.

Sementara di seberang sana, kelompok Islamiss utamanya entitas Salafi menilai Erdogan sebagai bagian dari Sekuler. Terkait ini, entitas Salafi merujuk pada beberapa kebijakan di masa Erdogan seperti aturan prostitusi, minuman keras berlisensi, dan hukum negara yang jauh dari rambu-rambu Islam.

Kedua pihak sibuk memberi penilaian pada Erdogan, apakah ia Sekuler atau Islamis.  Penilaian hanya merujuk pada orientasi pemikiran sang Presiden. Sementara di sisi lain, mereka sama sekali tidak mempertimbangkan meroketnya ekonomi sejak Erdogan dan partainya berkuasa. Padahal, ledakan ekonomi inilah yang mengubah taraf hidup rakyat Turki.

Kelompok Sekuler maupun Salafi sibuk menilai apakah Erdogan Islamis atau Sekuler. Tapi mereka sama sekali tidak membicarakan kebijakan reformis yang ia jalankan. Padahal, kebijakan ini yang memutus mata rantai tindak korupsi ekonomi. Kebijakan itu disebut-sebut mampu menutup keran korupsi dalam 15 tahun terakhir.

Kedua pihak sibuk menilai Erdogan, tapi sama sekali tutup mata pada faktar bahwa dia-lah yang membuat rakyat Turki mengangkat kepala karena bangga dengan negaranya. Erdogan pula yang melihat rakyatnya sebagai unsur penting dan berpengaruh di kawasan maupun dunia. Kepemimpinannya juga berhasil mengakhiri ketergantungan Turki pada Amerika.

Mereka sibuk menilai siapa Erdogan, tapi terlena dengan fakta bahwa pada masa-nya lah Turki menjadi negara yang kuat. Turki jadi berpengaruh hampir di semua rumah-rumah Arab. Kebudayaan Turki bersentuhan secara luas dengan denyut nadi kehidupan Islam dan Arab.

Mereka sibuk menilai Erdogan, tapi lupa bahwa hanya dengan pidato melalui Skype, ia berhasil menggerakkan ribuan rakyat untuk menggagalkan upaya kudeta 2015 silam. Hal ini tentu jadi cerminan akan kuatnya pengaruh Erdogan pada rakyta Turki dewasa.

Seandainya Erdogan adalah pemimpin negara Barat, pasti Anda akan saksikan para Sekuler itu memuji prestasi dan kepemimpinannya.

Seandainya Erdogan terkait dengan kelompok Islam yang menyerangnya, pasti mereka akan menyambut setiap pernyataan Erdogan.

Terlepas dari dua pihak itu, Erdogan adalah sosok yang mencintai negaranya dan berusaha untuk memajukannya. Ia selalu bersama pihak-pihak teraniaya dengan pernyataan-pernyataannya. Erdogan, selalu mengakomodir tren yang berbeda.

Erdogan bukan Ataturk, bukan pula pimpinan ISIS, al-Baghdadi. Ia sosok mulia yang mencintai negaranya, berusaha memajukannya. Ia mencintai Islam dan seluruh pemeluknya. Ia membuka lebar tangannya untuk Bangsa Arab. Ia disegani oleh lawan-lawan baik dari kalangan Sekuler, Liberal atau kelompok lainnya. Bukankah itu cukup menggambarkan siapa dia dan apa orientasinya?

Suatu hari di Istanbul, Erdogan bersama Walikota, otoritas yang berwenang menghancurkan sebuah desa dengan memberi kompensasi. Erdogan duduk dan mendengar cerita seorang wanita tua terkait desa itu dengan kenangannya. Erdogan tampak meneteskan air mata karena cerita itu. Melihat itu, Erdogan kemudian tidak tega mengeksekusi desa itu. Lalu ia pun memerintahkan pasukan untuk kembali dan tidak jadi eksekusi. Tidak ada alasan apapun terkait tindakannya kecuali karena manusia adalah yang utama baginya.

Erdogan berdiri di sisi masjid pasca shalat Jumat dan membagikan kue kepada para jamaah. Konon kue itu ia beli dari kantongnya sendiri. Kira-kira, apa yang dirasakan rakyat kala itu, yang melihat langsung presidennya, menyalaminya dan mengambil kue darinya?

Erdogan terbiasa makan bersama kaum fakir di rumah mereka. Makan di wadah mereka, makan makanan mereka, duduk di lantai tanah, dan mendudukkan anak-anak di pangkuannya. Lihatlah, bagaimana perasaan kaum fakir itu? Tidakkah rasa aman membuncah dalam hati mereka saat tahu sang presiden sangat memperhatikan keadaan mereka?

Sentuhan-sentuhan kemanusiaan itu telah dilakukannya bahkan sejak awal keterlibatannya di dunia politik. Pengaruhnya membekas di hati jutaan manusia. Banyak bayi-bayi lahir di dunia Arab, yang kemudian diberi nama Rajab Erdogan. (whc/dakwatuna)

Sumber: Turk Press

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

[Video] Seorang Guru Ingin Cium Tangannya, Begini Respon Erdogan

Organization