Home / Berita / Internasional / Asia / Tujuh Tahun Revolusi Suriah, Kemana Arah Akhirnya?

Tujuh Tahun Revolusi Suriah, Kemana Arah Akhirnya?

Ilustrasi. (LIFE)

dakwatuna.com – Doha. Pengamat politik Khalid Abu Shalih menyakini bahwa revolusi Suriah masih berjalan sebagaimana mestinya. Menurutnya, meski banyak sekali batu sandungan dan kemungkinan kalah, namun pasukan oposisi tetap akan mendapat kemenangan di akhir.

Abu Shalih juga mengatakan, “Revolusi berjalan dengan benar dalam membebaskan Suriah dari rezim Bashar al-Assad dan sekutunya. Revolusi juga tidak hanya melawan rezim, melainkan juga berupaya menghancurkan penjajahan Rusia dan Iran.”

Dalam program The Opposite Direction Aljazeera episode 13 Maret 2018, Abu Shalih juga menambahkan, rezim Suriah selama ini menggunakan kekerasan dan pembunuhan dalam menghadapi revolusi.

Menurutnya, hal inilah yang membuka terjadinya revolusi bersenjata dan perang saudara di Suriah. Kemudian, rezim juga mengundang kekuatan luar seperti Rusia, Iran dan beberapa milisi untuk melawan revolusi.

Lebih lanjut, Abu Shalih juga membahas anggapan kemunduran pasukan oposisi pasca intervensi militer langsung oleh pasukan Rusia. Katanya, dalam keadaan terbaiknya, rezim Suriah hanya mampu menguasai sekitar 45% dari wilayah Suriah. Itupun, tambahnya, rezim harus berbagi dengan Rusia dan Iran dalam penguasaan wilayah tersebut.

Sementara sisanya, Abu Shalih menyebut Turki dan pasukan oposisi menguasai wilayah utara Suriah. Sedangkan Amerika dan Kurdistan menguasai hampir 30% wilayah Timur laut.

Tak hanya itu, Abu Shalih juga menegaskan bahwa kelompok-kelompok pendukung rezim bertujuan untuk mengamankan kepentingan mereka sendiri, bukan untuk kepentingan rezim. Rusia, imbuhnya, bertujuan untuk mempertahankan eksistensinya di Mediterania. Sedangkan Iran bertujuan untuk menghubungkan saluran geografis dengan wilayah pengaruhnya di Irak dan Lebanon.

Seruan Dialog

Hal senada juga disampaikan oleh Sekjen Partai Pemuda Suriah, Maher Marhej. Ia menegaskan tidak ada negara sahabat abadi baik bagi oposisi maupun rezim. Negara-negara yang ada, tambahnya, hanya mengamankan kepentingan mereka sendiri.

Intervensi dari Rusia, Iran, Turki, Amerika, Israel dan negara-negara Teluk, lanjutnya, tidak satupun yang bertujuan untuk kepentingan rakyat Suriah.

Menurut Marhej, ia turut serta dalam demonstrasi damai dan meyakini ada peluang untuk mengubah politik dan ekonomi di Suriah. Namun kemudian ada yang menganggap demonstrasi sebagai upaya revolusioner. Hal ini kemudian yang mengubah sikap dan terbentuklah partai politik oposisi.

Lebih lanjut, Marhej juga mengomentari masa depan revolusi Suriah yang telah memasuki tahun ke-7. Menurutnya, baik rezim maupun oposisi tidak ada yang mendapat kemenangan. Untuk itu, Marhej menyeru seluruh pihak untuk kembali ke meja perundingan tanpa syarat. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Komunitas Muslim Jerman Minta Aparat Jaga Seluruh Masjid

Organization