Home / Berita / Internasional / Amerika / Turki: Islamofobia Mungkin Jadi Holokaus Baru di Barat

Turki: Islamofobia Mungkin Jadi Holokaus Baru di Barat

Jubir Kepresidenan Turki. (aa.com.tr/ar)

dakwatuna.com – Ankara. Juru Bicara (Jubir) Pemerintahan Turki, Ibrahim Kalin, menyebut Islamofobia akan menjadi tragedi baru di Eropa dan Barat. Menurutnya, itu bisa mirip dengan holokaus di Jerman masa Hitler jika tidak ada penanganan segera.

Hal itu disampaikan Kalin dalam sambutannya pada sebuah forum diskusi di Istanbul, Sabtu (10/03/2018). Dilansir Aljazeera.net, forum tersebut mengangkat tema “Islamofobia: Menuju Solusi yang Komprehensif dan Efektif”.

“Kita harus berkata dengan jelas dan terang bahwa fenomena Islamofobia di Eropa dan Barat mungkin saja berubah menjadi tragedi baru semacam holokaus. Terlebih jika tidak ada pencegahan dari lembaga-lembaga kemasyarakatan, lembaga politik, akademisi, pemimpin opini dan tokoh keagamaan di sana,” kata Kalin.

Ia juga menegaskan, para aktivis ultra kanan yang diskriminatif dan rasis mulai menentukan arah kebijakan politik di Eropa.

Menurutnya, pola pikir rasis juga mulai menjadi hal yang lumrah dalam lingkaran politik di negara-negara Eropa dan AS. Hal ini tentu meragukan kredibilitas Eropa yang selama ini mengklaim sebagai pusat demokrasi, kebebasan dan keberagaman.

Selain itu, Kalin menyebut tudingan Eropa yang menyebut kaum muslimin bar-bar sangat bertentangan dengan fakta sejarah. Ia mengecam keras penyandingan kata kekerasan dengan Islam. Kaum muslimin kelak akan mengalahkan budaya dan peradaban Barat, yakinnya.

Kalin juga menghadirkan bukti yang membantah tudingan Islam erat dengan kekerasan. Katanya, pasukan dan ekonomi terbesar di dunia, serta persenjataan nuklir dikuasai Barat, bukan Islam. Selain itu, jumlah muslimin di Eropa dan Amerika sangat sedikit.

“Masyarakat Islam-lah yang paling banyak menghadapi diskriminasi. Masyarakat Islam yang harus membayar kelakuan ISIS,” katanya.

Kalin membeberkan tiga gambaran Islam di benak Barat. Bagi Barat, tambahnya, Islam membahayakan dari segi agama, politik maupun kebudayaan.

Ia juga menyebut ada 950 kasus serangan terhadap muslim di Jerman pada tahun lalu. “Andai yang seperti ini terjadi di gereja-gereja Turki atau negara Islam lainnya, niscaya mereka akan mendirikan dunia dan tidak mendudukkannya,” imbuh Kalin. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Segala yang Perlu Diketahui Tentang Pemilu Turki Mendatang