Home / Berita / Internasional / Asia / Potret Kehidupan di ‘Penjara Terbesar Dunia’, Ghouta Timur

Potret Kehidupan di ‘Penjara Terbesar Dunia’, Ghouta Timur

Anak-anak terlantar di Ghouta Timur. (aljazeera.net)

dakwatuna.com – Doha. Sekitar 400.000 manusia tinggal di Ghouta Timur di bawah serentetan peluru yang terus ditembakkan. Ghouta  Timur merupakan salah satu kota di Suriah yang dijuluki oleh para aktivis kemanusiaan sebagai ‘Penjara Terbesar di Dunia’.

Julukan tersebut bukan tanpa dasar. Kota yang berada di wilayah Damaskus itu kini menjadi zona paling berbahaya di muka bumi. Namun, faktanya dunia masih saja bungkam dalam keheningannya. Sebah ironi yang tentu sangat mengiris hati.

Untuk mengetahui secuil potret kehidupan di Ghouta Timur, Aljazeera.net berhasil melakukan komunikasi dengan salah satu warga di sana yang bernama Majed Sayar.

“Keluargaku mulai berpindah ke tempat-tempat penampungan sejak dimulainya kampanye militer oleh pasukan rezim Bashar al-Assad. Ribuan wanita dan anak-anak tinggal di ruang bawah tanah sejak tiga pekan terakhir, tanpa melihat sinar matahari walau sejenak,” katanya.

Sementara para laki-laki, lanjut Sayar, terpaksa harus keluar untuk beberapa waktu guna mencari air dan makanan. Di malam hari, ruang-ruang bawah tanah itu penuh sesak dengan warga. Bahkan satu ruang bisa mencapai 400 orang yang tinggal di dalamnya.

Masih banyak lainnya yang disampaikan Sayar terkait kondisi yang ia dan seluruh warga Ghouta alami. Di antaranya adalah buruknya ventilasi di tempat penampungan, yang juga dinilai kurang layak karena terburu-buru dalam pembuatan. Menurutnya, hal itu mengakibatkan aroma busuk yang menyengat di ruangan-ruangan tersebut. Kondisi diperparah dengan tidak mampunya mereka untuk membeli popok bayi. Sehingga penyakit dermatologis dan pernafasan mulai mengancam.

Paling Mahal

Selain menjadi penjara terbesar, Ghouta juga disebut-sebut sebagai kota termahal di dunia. menurut Sayar, harga satu kilo Jelai saja bisa mencapai 4,3 Dolar (sekitar Rp. 59.200). Sementara tepung terigu harganya mencapai Rp. 96.400 per kilonya. Kesulitannya bukan pada pemboikotan dan eksploitasi para pedagang dalam mendapatkan bahan-bahan tersebut. Tapi pabrik tidak dapat menggiling gandum karena takut dibom.

Sementara menurut warga lainnya, penduduk juga membeli pakan ayam yang mungkin terkontaminasi zat kimia dan bercampur dengan kotoran. Pakan ayam ini digunakan sebagai pengganjal perut bagi anak-anak mereka.

Selain itu, warga juga tidak mendapat aliran listrik sejak beberapa bulan terakhir. Sementara beberapa tempat penampungan terpaksa menurunkan panel surya yang jadi andalan mereka karena takut dibom. Bahan bakar bahkan telah benar-benar hilang. Warga harus menyuling plastik agar mendapatkan bahan bakar.

Beberapa pekan terkahir juga menjadi mimpi buruk bagi para petani. Mereka merugi karena tanah mereka diserbu oleh pasukan rezim. Mereka terpaksa memindahkan ternak ke daerah pemukiman. Jadilah manusia dan hewan ternak sama-sama kehilangan sumber penghidupan mereka.

Para aktivis banyak bersuara di media sosial terkait lumpuhnya perekonomian di Ghouta. Kantor-kantor transfer uang menutup pintu pelayanannya. Hal ini mengakibatkan kemungkinan warga untuk mendapat kiriman bantuan dari luar terputus. Sementara separuh dari jumlah warga yang ada, kehilangan mata pencaharian mereka.

Salah satu sudut kota Ghouta. (Aljazeera.net)

Masa Depan Suram

Seorang warga lainnya mengatakan, dari hari ke hari perkembangan situasi yang ada menyebabkan kecemasan dan kekhawatiran. Rumor demi rumor berhembus liar tanpa dokumentasi yang jelas.

Ia menambahkan, sejak pasukan rezim menguasai Beit Sawa, penduduk di Hamuriya melarikan diri ke Arbeen. Sementara saat kabar tentang masuknya pasukan rezim ke wilayah tersebut, banyak dari penduduk yang kemudian mengurungkan niatnya untuk pindah. Sedangkan penangkapan oleh pasukan rezim, semakin menambah kepanikan.

Sumber menjelaskan, suara tembakan terdengar sangat dekat dan jelas di sebagian tempat penampungan. Sementara pengungsi yang ada, tidak punya senjata apapun untuk membela diri. Sangat mudah bagi pasukan untuk sewaktu-waktu mengejutkan mereka dengan masuk ke tempat penampungan. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

100 Hari Masa Pemerintahan, Erdogan Berhasil Wujudkan 340 dari Total 400 Program Kerja

Organization