Home / Berita / Internasional / Asia / New York Times: Agenda AS di Suriah Berbahaya dan Ilegal

New York Times: Agenda AS di Suriah Berbahaya dan Ilegal

Serangan AS di Suriah. (Aljazeera.net)

dakwatuna.com – Doha. Beberapa waktu yang lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Rex Tillerson, mengumumkan bahwa pasukannya akan tetap berada di Suriah hingga ISIS berhasil dimusnahkan. Jika benar, itu akan melanggar semua undang-undang yang berkaitan dengan intervensi AS di Suriah. Di lain sisi, itu juga berimplikasi pada konfrontasi tanpa batas antara AS, pasukan Suriah dan koalisinya seperti Rusia dan Iran.

Dilansir Aljazeera.net, Rabu (24/01/2018), penggalan kalimat di atas merupakan inti dari artikel yang dimuat dalam surat kabar The New York Times. Disebutkan, artikel tersebut merupakan tulisan dari politisi partai Demokrat AS, Cory Booker, dan Guru Besar di Sekolah Hukum Yale, Profesor Oona Hathaway.

Kedua penulis menilai, tim kebijakan internasional Presiden Donald Trump seakan siap melanggar undang-undang perang di AS. Hal itu merujuk pada pernyataan Tillerson sebelumnya.

Terkait hal ini, keduanya bukan yang pertama memperingatkan pelanggaran hukum tersebut. Hal senada juga pernah disampaikan oleh Bob Corker, senator sekaligus Ketua Komite Hubungan Internasional di gedung Kongres. Corker menyebutkan, keberadaan pasukan AS di Suriah jika hanya untuk memerangi proksi Iran, maka itu tindakan ilegal.

Lebih lanjut baik Booker maupun Hathaway menyatakan, jika pemerintah Trump tidak takut dengan pelanggarannya terhadap hukum di AS, maka pernyataan Tillerson juga bertentangan langsung dengan hukum internasional. Karena operasi militer AS melawan ISIS dan Al-Qaeda di Suriah berdasarkan kesepakatan dari PBB. Sementara PBB mengizinkan karena operasi tersebut diklaim sebagai bentuk pembelaan diri AS dan sekutunya terutama Irak. Sebuah argumen yang senantiasa diulang oleh Tillerson sendiri.

Masih menurut penulis, tindakan AS, seperti diisyaratkan Tillerson, yang menghalangi rezim Suriah menguasai wilayahnya, juga kesalahan lain. Itu jelas akan menyeret AS ke dalam perang baru yang panjang, berdarah-darah dan kompleks.

Selain itu, keduanya juga menyoroti operasi militer yang dilancarka oleh Turki. Disebutkan, hal itu cukup mengindikasikan rapuhnya situasi di Suriah. Sementara agenda AS akan membawa risiko yang tak terbatas. Sedangkan peran Rusia, Iran dan pihak lain yang mendukung rezim, juga akan mengkhawatirkan. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Rekonsiliasi Tidak Gratis, Israel Jamin Keamanan Arab Terhadap Ancaman Iran

Figure
Organization