Home / Berita / Silaturahim / Hardiansyah, Bocah Pengidap Herdrosepalus Mendapat Bantuan dari IZI

Hardiansyah, Bocah Pengidap Herdrosepalus Mendapat Bantuan dari IZI

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ika Amelia Chairunisa (20), Ibu dari Bayi Penderita penyakit Herdrosepalus (terdapat cairan dikepala) (Ricky/IZI)

dakwatuna.com – Tangerang.  Memiliki buah hati merupakan suatu anugerah terbesar yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada pasangan Suami dan Istri, apalagi jika lahir dalam keadaan normal tanpa ada kekurangan sedikitpun.

Ternyata hal ini tidak dirasakan oleh pasangan pengantin baru yang dialami oleh Robby Hardiyanto (21) dan Ika Amelia Chairunisa (20). Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Muhammad Hardiyansyah yang dilahirkan dalam keadaan tidak normal. Sejak usia kandungan 8 bulan, Ika sudah diberitahu oleh tim dokter Ruamh Sakit bahwa anaknya memiliki penyakit Herdrosepalus (terdapat cairan dikepala).

Setelah dilahirkan, seharusnya sang Buah Hati, Hardiyansyah langsung menjalani operasi di Rumah Sakit yang kala itu bertempat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta, karena tidak memiliki fasilitas dan kelengkapan data seperti Akta Kelahiran, Kartu Keluarga dan Kartu Jaminan BPJS akhirnya operasi tersebut tertunda. Setelah selesai mengurus kelengkapan berkas tepatnya saat usia Hardiyansyah menginjak 10 bulan, baru dilakukan tindakan operasi dan menjalani rawat inap selama 1 bulan lamanya. Setelah menjalani rawat inap, akhirnya Hardiyansyah diperbolehkan pulang dengan syarat harus menjalani terapi dan rawat jalan.

“Memang betul ketika usia kehamilan anak pertama kali menginjak di usia delapan bulan, Dokter sudah mengabari bahwa anak kami akan terlahir dalam keadaan tidak normal.  Dan setelah kelahirannya kami belum bisa membawanya ke Rumah Sakit karena bermasalah dengan Data dan jaminan BPJS yang belum kami urus, sehingga akhirnya anak kami dapat dirawat selama satu bulan dan hingga kini masih harus jalani terapi rawat jalan.”

Demikian disampaikan Robby Hardiyanto ketika dikunjungi oleh Tim Layanan Pendampingan Orang Sakit (LAPORS) Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) melalui Murriyanto pada Jumat (12/1/2018) di Tangerang Selatan, Banten.

Robby kembali menerangkan, setelah putranya menjalani rawat jalan selama dua tahun di RSUP Fatmawati, kondisi tubuh Hardiyansyah kritis. Selain karena gizi buruk, juga mengalami kejang-kejang, dan panas tinggi. Dalam keadaan seperti itu, Robby membawanya ke RSUD Tangerang Selatan. Selama tiga hari di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), tidak ada tindakan apapun oleh pihak RSUD, akhirnya Hardiyansyah dirujuk ke RSUD Tarakan – Gambir Jakarta dan langsung masuk ruang PICU.

“Setelah jalani perawatan selama dua tahun di Fatmawati, kondisi putra kami semakin kritis. Selain karena gizi buruk, juga mengalami kejang dan panas tinggi. Lantas saat itu kami membawanya ke RSUD Tangerang Selatan namun tidak ada tindakan, akhirnya berakhir merujuk ke RSUD Tarakan di Gambir, Jakarta Pusat dan masuk ruang PICU.” Terang Robby.

Saat ini kondisi Hardiyansyah masih menjalani perawatan di ruang PICU selama satu bulan. Dalam kurun waktu tersebut, orangtua Hardiyansyah harus pergi pulang Cirendeu Tansel – RSUD Tarakan Gambir. Sudah banyak pula biaya yang dikeluarkan oleh orangtuanya meski harus meminjam.

“Saat ini kondisi anak kami masih jalani perawatan di ruang PICU sudah lebih dari satu bulan. Dalam kurun waktu tersebut, kami harus pergi pulang dari rumah ke rumah sakit, dan sudah banyak pula biaya yang kami keluarkan, dan itu terpaksa kami harus meminjam uang kepada orang terdekat.” Tambah Robby.

Menurut Murriyanto, Robby hanyalah seorang kolektor di sebuah Bank dengan upah perbulan hanya mencapai angka satu juta dua ratus ribu rupiah, ditambah dengan uang makan tiga puluh ribu rupiah dalam seharinya. Istrinya hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang hanya mengurus rumah dan anak saja. Keluarga Robby saat ini tinggal disebuah rumah kontrakan di daerah Ciputat Timur, Tangsel – Banten dengan biaya sewa setiap bulannya mencapai enam ratus ribu rupiah dan biaya hidup sehari-hari mencapai tiga puluh ribu rupiah. Dengan kondisi ekonomi yang terbilang pas-pasan, sangat berat rasanya beban yang harus ditanggung oleh keduanya, apalagi saat ini kondisi buah hatinya memerlukan perhatian khusus dan biaya yang cukup besar agar kondisi anaknya kembali normal.

“Jadi, Robby ayah dari Hardiansyah bekerja sebagai kolektor di sebuah bank dengan upah perbulan hanya mencapai angka satu juta dua ratus ribu rupiah, ditambah dengan uang makan tiga puluh ribu rupiah dalam seharinya. Istrinya hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang hanya mengurus rumah dan anak saja. Mereka saat ini tinggal disebuah rumah kontrakan di daerah Ciputat Timur, Tangsel – Banten dengan biaya sewa setiap bulannya mencapai enam ratus ribu rupiah dan biaya hidup sehari-hari mencapai tiga puluh ribu rupiah. Dengan kondisi ekonomi yang terbilang pas-pasan, sangat berat rasanya beban yang harus ditanggung oleh keduanya, apalagi saat ini kondisi buah hatinya memerlukan perhatian khusus dan biaya yang cukup besar agar kondisi anaknya kembali normal.

Melihat kondisi keluarga Robby, Tim LAPORS IZI memberikan bantuan pengobatan kepada Hardiyansyah.

Diakhir pertemuannya, Ika menuturkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh IZI untuk biaya kesehatan Hardiansyah. Dan berharap agar IZI semakin memudahkan masyarakat dhuafa dan menjadi lembaga yang dipercaya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada IZI atas bantuan yang diberika untuk pengobatan putra kami. Semoga kedepannya IZI semakin mudah untuk membantu sesama, dan khususnya IZI menjadi lembaga yang dipercaya masyarakat.” Pungkas Ika. (SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

(Video) Petugas Refleks Selamatkan Seorang Balita dari Tergelincir ke Bawah Kereta Api