Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Bagaimana Menyentuh Hati

Bagaimana Menyentuh Hati

Oleh: adilia rahayu (STEI SEBI)

dakwatuna.com – Ada banyak diantara para da’i yang tidak mengetahui cara mengambil hati objek dakwah, padahal mereka memiliki semangat tinggi untuk menyeru manusia dalam kebaikan, sehingga banyak kesempatan berharga yang terbung sia-sia. Sebenarnya cara untuk memikat hati objek dakwah dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya umur, latar belakang pendidikan, dan tradisi.

Di dalam buku ini disebutkan bahwa salah satu metode dakwah adalah dakwah fardiyah. Apa itu dakwah fardiyah? Yang dimaksud dengan dakwah fardiyah adalah dakwah yang dilakukan secara personal. Dimana da’I mendakwahkan mad’u (objek dakwah) secara perorangan dan sesuai kebutuhan mad’u, karena setiap insan memiliki karakter dan kondisi yang berbeda. Dakwah fardiyah berada dalam kondisi damai dan penuh cinta kasih, dakwah ini memberikan kesempatan untuk saling memahami dan juga berdialog tentang pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu jwanya. Dalam dakwah fardiyah, dapat dilakukan dengan atau tanpa kata-kata. Dakwah tanpa kata-kata berarti berdakwah melalui qudwah hasanah, keyakinan pada dakwah seperti ini akan melahirkan keyakinan pada fakta konkret dan realita yang nyata. Sedangkan dakwah melalui kata kata adalah dakwah yang ada pada umumnya dalam menyampaikan nilai nilai islam.

Selanjutnya setelah mengetahui bagaimana metode dakwah kita harus mengetahui bagaimana cara menarik hati objek dakwah, Langkah awal dalam mengikat objek dakwah yang pertama, mengenal si objek dengan cara yang unik. Setiap orang tentu akan mersa senang jika dipanggil dengan namanya apalagi nama yang ia sukai. Kedua, setelah tau namanya, cobalah memahami sifat dan karakteristik mad’u kita agar kita tidak salah dalam mengajaknya. Ketiga, barulah kita mengajaknya untuk sekedar mengobrol seputar islam lalu mengajaknya kearah kebenaran.

Lalu siapa yang harus kita proritaskan dalam berdakwah? Dalam buku ini dijelaskan ada tiga karakteristik manusia. Yang pertama adalah manusia yang berprilaku dengan akhlak islamyah. Golongan inilah yang harus diutamakan karena mereka lebih dekat dengan dakwah kita, dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan. Kedua, manusia yang berprilaku dengan akhlak asasiyah yaitu mereka yang tidak taat dalam beragama namun tidak pula terang terangan dalam bermaksiat. Golongan ini menempati posisi kedua. Ketiga, manusia yang berprilaku dengan akhlak jahilyah, mereka bukan lah orang dari golongan pertama maupun kedua, mereka yang tidak perduli orang lain dan orang lain pun membenci mereka karna perangainya yang jelek. Golongan ini yang disebut rasulullah dalam hadisnya sebagai “sejelek jelek teman bergaul”. Golongan inilah yang menempat urutan terkhir dalam prioritas dakwah fardiyah.

Ada beberapa sarana-sarana dakwah yang dapat kita tempuh, diantaranya ialah ucapkan salam kepadanya. Ucapan salam yang keluar hendaknya berasal dari  lubuk hati yang paling dalam dan disertai dengan rasa cinta. Dan ucapkan lah salam kepada semua orang, baik yang sudah dikenal ataupun orang-orang yang baru kita temui. Dengan begitu anda telah memasuki tahap awal dalam berdakwah. Kemudian ketika anda telah mengenalnya dan tidak menemukannya dalam waktu yang lama maka carilah. Ketika ia sakit maka jenguklah, dan lebih baik lagi dengan membawakan hadiah yang sesuai untuknya. Ketika ia mengundang maka penuhilah. Ketika ia bersin dan mengucapkan “hamdalah” maka jawablah. Dan ketika ia meninggal maka antarkanlah ketempat pemakamannya. Dan jika sebelumnya anda dapat mengenal pribadi orang yang telah meninggal dunia, maka saat itu anda dapat menggunakan kesempatan untuk berkenalan dengan keluarganya.

Tak hanya metode dakwah, penampilan seorang da’I pun juga berpengaruh dalam dakwahnya. Cara bertutur kata dan penampilan seorang da’I akan menarik perhatian orang yang mendengar dan melihatnya. Penampilan dan akhlak yang baik  akan membuat orang yang  baru saja memandang menjadi tertarik dan simpati. Karena pada kenyataannya penampilan yang menarik itu dapat berpengruh paada hubungan antar individu dan bahkan hubungan secara umum. Dan islam sebagai agama dakwah bagi seluruh umat manusia tidak boleh melewatkan hal ini dalam menarik hati seseorang.

Kemudian ada dua sifat yang harus dimiliki seorang da’I agar dakwahya berhasil, yaitu memiliki sifat cerdas dan bersih. Cerdas yang dimaksud adalah cerdas akalnya, dimana ia mampu memandang segala sesuatu secara proporsional. Dan bersih yang dimaksud adalah bersih hatinya, hati yang dapat mencintai dan menyayangi orang lain serta hati yang tidak bersuka ria diatas peneritaan orang lain.

Seperti sebuah bangunan, yang menjadi pondasi adalah aqidah, yang menjadi tiang adalah syariat, dan yang menjadi atap adalah dakwah itu sendri. Diibaratkan seperti ini, ketika sebuh rumah tidak ada atap yang menutupinya maka akan bolong dan bocor sehingga banyak pengaruh luar yang masuk, maka dari itu perlunya dakwah untuk menaungi atau menjadi penutupnya agar ada yang melindungi. Itulah alasan mengapa kita harus berdakwah. Namun ingat, dakwah akan terus berjalan dengan ada atau tidaknya kita dalam dakwah tersebut. Karena pada hakikatnya kita lah yang membutuhkan dakwah bukan dakwah yang membutuhkan kita. Dan teruntuk para da’I hendaklah gemar berkenalan dan menarik simpati, demikian itu agar diantara kaum muslimin saling mengenal.

Sumber:

As – Siisy Abbas. 2016. Bagaimana Menyentuh Hati : Kiat Kiat Memikat Objek Dakwah. Surakarta : Era Adictra intermedia.

(SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Bentuk-Bentuk Penyimpangan di Jalan Dakwah (Bagian ke-3: Persoalan Jamaah dan Komitmen (Iltizam))

Organization