Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Belajar Membersihkan Hati

Belajar Membersihkan Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Judul aslinya adalah Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarriruhu ‘Ulama`is Salaf, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, Ibnu Qayyim, Abu Hamid Al-Ghazali. Judul terjemahan: Tazkiyatun Nafs: Belajar Membersihkan Hati Kepada 3 Ulama Besar: Imam Al-Ghazali (450-505 H) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (691-751 H) Ibnu Rajab Al-Hanbali (736-795 H). Nama pengarang: Dr. Ahmad Farid. Nama penerjemah: Umar Mujtahid, Lc. Tahun terbit: 2017. Penerbit: TAQIYA Publishing, Solo. ISBN: 978-602-1243-12-1 dengan tebal 208 halaman, harga   Rp35.000.

Ketika mendengar kalimat “hati” maka tidak terlepas dari lingkup kebaikan dan keburukan. Hati yang terdapat di dalam jiwa memiliki peran dalam perjalanan aktivitas kehidupan manusia. Dr. Ahmad Farid yang merupakan seorang tokoh terkemuka dari jajaran ulama salafi alexandria memberikan pemaparan bagaimana cara melembutkan hati yang keras dengan ulasan yang mendalam. Ulasan mengenai pembersihan hati dapat dirasakan ketika seseorang mendapat sentuhan-sentuhan yang mendalam di dalam jiwanya. Melalui sentuhan yang mendalam bercak noda di dalam hati dapat luntur seiring dengan niat dan ikhtiar yang menyertainya.

Dalam memurnikan niat bertaqarrub kepada Allah dari segala yang mengotorinya maka seseorang hendak melakukan ikhtiar dengan ikhlas kepada Allah Taala. Dalam buku Tazkiyatun Nafs ini, penulis memaparkan terapi untuk mengatasi dominasi keburukan di hati seorang mukmin. Salah satu titik poin penulis dalam mendefinisikan penyucian jiwa terletak dalam konteks “muhasabah diri”. Muhasabah atau intospeksi diri dapat dilakukan sebelum atau setelah beramal.

Muhasabah sebelum beramal dimaknai ketika seseorang berhenti pada saat pertama kali memikirkan dan ingin melakukan suatu tindakan. Ketika jiwa tergerak untuk melakukan suatu perbuatan dan ketika pemiliknya ingin melakukannya, ia terlebih dahulu berhenti dan berpikir, apakah pekerjaan tersebut bisa ia lakukan atau tidak, apakah pekerjaan tersebut bermanfaat atau tidak, jika bisa ia lakukan dan bermanfaat maka hendaknya ia lakukan. Akan tetapi, ketika tidak bisa ia lakukan dan tidak pula bermanfaat maka hendaknya ia tidak melakukannya.

Ketika mempraktekkan muhasabah diri setelah beramal maka seseorang terlebih dahulu memikirkan apa yang telah diperbuatnya. Setiap kekurangan harus dibenahi dengan mengganti atau memperbaikinya dengan bermuhasabah diri atas segala larangan dan menyertai diri dengan bertobat, beristigfar, dan melakukan amalan-amalan kebaikan yang menghapus keburukan. Ketika melakukan amalan-amalan tersebut dengan ikhlas, maka hati yang keras dengan mudahnya dapat meleleh menjadi lembut menyertai segala pernak-pernik kehidupan dengan kebaikan-kebaikan.

Penulis buku ini juga menguraikan penyakit-penyakit hati disertai dengan pengobatannya. Langkah-langkah penyucian jiwa dalam buku ini sangat menarik, sehingga dapat membuat pembaca luluh dalam lautan kalimatnya. Strategi dalam penataan nasihat para ulama dirangkai sedemikian rupa sehingga membuat pembaca merasakan suntukan nasihat langsung dari para ulama. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan doa-doa yang dapat menjadi bentuk ikhtiar pembaca ketika ingin mengamalkan proses pembersihan hati. Ulasan mengenai urutan dalam proses pembersihan hati dari pengenalan jiwa hingga pertobatan kepada Allah Subhanahu Wata ‘Ala dipaparkan secara indah dengan bahasa yang mudah dipahami.

Tahqiq hadis dan atsar menjadi sumber pelengkap buku ini sehingga bobot ilmiahnya tidak diragukan lagi. Terlebih lagi, buku ini disarikan dari karya tiga ulama besar, yakni imam Al-Ghazali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dan Ibnu Rajab Al-Hanbali. Oleh karena itu, buku ini sangat lengkap dalam menguraikan konsep tazkiyatun nafs.

Ketika kita menelaah buku ini secara rinci terdapat kelemahan-kelemahan yang tersebar di dalam buku ini seperti terdapat kesalahan penulisan kata, tidak adanya titik-titik yang menunjukkan nomor halaman daftar isi, dan kurangnya penyesuaian nomor halaman. Akan tetapi, kelemahan-kelemahan tersebut hanya kelemahan kecil yang tidak mengurangi sedikit pun kualitas dari buku ini.

Penyajian penulis dalam memaparkan isi buku ini memiliki ruang sasaran pada semua kalangan masyarakat terutama terhadap orang-orang yang ingin membersihkan hati atau menyucikan jiwa dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata ‘Ala. Melalui buku ini kita dapat mengenali penyakit-penyakit yang terdapat dalam diri dan bagaimana penyembuhan terhadap penyakit-penyakit tersebut sehingga kita dapat menimba banyak hikmah dari coretan sang penulis yang memiliki orientasi untuk membersihkan hati seorang hamba dari gelapnya penyakit-penyakit di dalam hati. (fakhruddin/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah, Malang

Lihat Juga

Sucikan Hati dan Sebarkan Kebaikan

Organization