Home / Pemuda / Kisah / Sebatang Kara

Sebatang Kara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Aku merasa bagai terperangkap di dalam kulkas. Hujan di luar membuat suhu kamarku terasa dingin. Dari balik jendela, pandanganku mendarat pada ranting-ranting kering yang jatuh di dekat kolam ikan di halaman rumahku.

Pohon-pohon berkesimpang kesiur diterpa angin, menari-nari. Air hujan bak tumpah dari mangkok raksasa. Lalu aku mendekatkan wajahku ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan telapak tangan kanan.

Seorang perempuan tua yang tinggal di seberang rumahku sedang duduk di atas kursi goyang dekat pintu sambil membaca buku dan memangku boneka kucing warna putih. Kacamatanya tampak lebih besar dari diameter penyangga kursi goyang. Sehari-hari, perempuan tua itu selalu melewatkan masa tua dengan membaca di kursi goyang yang nyaris rapuh, terkadang menyulam. Namanya Mbah Ros—Rosidah. Dan lakunya seringkali membuat anak cucunya khawatir, ketika tiba-tiba ia menghilang dari rumah dan pulang larut malam.

Lihatlah kedua cucunya yang masih kecil. Sebatang pohon mangga meneduhi mereka, bermain robot-robotan di halaman rumah yang sekelilingnya banyak ditumbuhi bunga euphorbia. Keduanya, bocah lelaki nakal dan selalu bertengkar kalau berbeda keinginan—yang selalu membuat Mbah Ros bising dan kesal apabila kedua cucunya itu bertengkar. Dan ujung dari pertengkaran itu selalu membuat konsentrasi membaca Mbah Ros buyar. Kecuali Alifa, cucu Mbah Ros, gadis kecil berusia tujuh tahun yang memiliki wajah seperti boneka—manis dan berkerudung. Sifat lugu dan penurut Alifa yang membuat Mbah Ros sangat menyayanginya. Ia lebih sering duduk manis di dekat jendela sambil memandang kedua saudara lelakinya bermain.

Di rumah itu, Alifa selalu membuat Mbah Ros tak pernah merasa kesepian. Ia akan menceritakan hari-harinya selama di sekolah—bermain sendiri, menahan marah ketika mendapat ejekan bertubi-tubi, dan selalu diperintah seenaknya oleh teman-teman Alifa. Hampir seluruh masa tua Mbah Ros selalu dihabiskan untuk cucunya, Alifa. Itu yang seringkali membuat kedua cucu lelakinya iri dan sangat marah pada Alifa.

Aku pun mengalihkan pandangan ke sekelilingku. Aku membayangkan kamarku dipenuhi hujan salju, gumpalan-gumpalan besar, bukan air. Ada lagi, hujan permen—kamarku dikelilingi permen-permen aneka rasa dan aku berenang-renang di atasnya. Setidaknya, aku bisa mengantongi banyak uang dari hasilku berjualan permen di sekolah. Tapi aku lebih suka gerimis daripada hujan. Hujan membuat bola mataku kaku menatap wajah ayah bundaku yang seringkali memarahiku sambil berkacak pinggang, jika aku pulang ke rumah dengan basah kuyub karena hujan. Dan apabila ayah bunda memarahiku, aku akan melihat suara-suara mereka berubah jadi bentuk alfabet yang melayang-layang, berhamburan mengelilingi kepalaku, keluar masuk telingaku. Atau hujan akan merubah segalanya, aku tidak bisa bermain di luar rumah dan itu akan membuatku terkurung seharian di dalam kamar.

Kamarku selalu berantakan. Banyak beterbaran kertas berisikan dongeng fantasi. Ada gambar-gambar karyaku yang tertempel di dinding. Di langit-langit kamarku juga banyak tergantung origami aneka bentuk dan tumpukan bintang kertas di dalam toples kaca, di atas meja belajar.

Aku rasa ayah sudah sangat lelah memarahiku, karena melihat kamarku seperti tong sampah. Tapi aku selalu membiarkan kamarku berantakan apa adanya. Kadang aku berandai-andai dan bermimpi kamarku berubah jadi istana dongeng. Akulah pangeran negeri impian.

Kalau impian diibaratkan, maka impian itu bak benih bunga. Setetes air keringat akan menumbuhkan benih itu. Duri-duri yang tumbuh akan menjelma aral melintang. Dan daun-daun adalah lembaran demi lembaran rencana tuk menggapai impian. Kalau tiba masanya, benih akan tumbuh jadi bunga mekar impian yang bermahkota indah.

“Kaffal . . . !”

Suara bunda memanggilku, berteriak di lantai bawah dekat anak tangga. Telinga kupasang baik-baik, aku bisa mendengar langkah kaki bunda sedang naik anak tangga, mendekati arah kamarku. Sontak aku terkejut, bergegas mengambil kertas ulanganku: nilai nol, yang kuletakkan di atas tas ransel—di atas kasur, nilai nol besaaaar sekali.

Kalau bunda tahu aku mendapat nilai nol lagi, pasti bunda akan mengadu pada ayah. Lalu ayah akan menghukumku dan mengurungku di gudang bersama tumpukan buku yang harus kuhafalkan—sampai pagi sebelum berangkat sekolah. Sebuah gudang satu-satunya di rumah ini, gudang yang menakutkan, banyak tikus kecoak berkeliaran. Apabila larut malam, bayang-bayang hitam ranting pohon akan berderak seperti hendak menjeratku. Ada lagi yang paling menakutkan, yang selalu membuatku menjerit keras adalah patung wanita bergaun panjang warna hijau. Kepalanya mengenakan mahkota yang terlilit seekor ular kobra. Lama-lama kalau mataku nyalang mengawas patung itu, aku seperti melihat patung itu berkedip dan tersenyum ngeri. Sebenarnya patung itu sudah lama ditinggalkan oleh pemilik rumah ini sebelum ayah dan bunda membelinya.

Pintu terbuka. Aku menyembunyikan kertas ulanganku di balik baju belakang. Bunda berdiri di ambang pintu sambil memegang gagang pintu. Rambutnya disanggul tinggi. Lengan tangan dan lehernya melingkar perhiasan emas. Dan ada setitik tahi lalat tampak lebih besar di pipi kirinya yang berbalut make up tebal.

“Kaffal, jaga rumah ya! Bunda mau arisan.”

“Yeah, baiklah Bunda.”

Bunda menutup pintu. Tapi sejenak kemudian pintu terbuka.

“Satu lagi, jangan keluar rumah saat hujan turun! Lebih baik kerjakan PR-mu.”

“Siap, Bun !” kataku sambil menegakkan tangan kanan seperti hormat bendera, melepas tangan kananku dari genggaman baju bagian belakang. Begitu tanganku lepas, kertas ulanganku jatuh ke lantai dekat kakkiku.

Bunda melayangkan pandangan ke kertas itu. “Kertas apa itu, Fal?”

Aku menoleh ke bawah, di kakiku. “Hhh ! Tidak—” Mataku memandang Bunda dengan resah. Lalu kusepak kertas itu ke kolong tempat tidur. “Ah, bukan apa-apa kok. Ini hanya bungkus roti,” kataku, nyengir memperlihatkan gigi. Aku terus memerhatikan wajah Bunda yang sedang menatapku penuh curiga.

“Ya sudah, Bunda pergi dulu, sayang.”

Pintu tertutup.

Akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku senang bunda mengabaikannya. Dan lebih memilih buru-buru pergi arisan bersama teman-temannya—tante-tante centil yang lebih suka menghabiskan waktu untuk hura-hura di mall ketimbang mengurus anak suami di rumah.

Kali ini aku menduga, bunda pasti akan memamerkan perhiasan emas yan baru aja dibelinya tadi pagi. Tidak hanya itu, teman-teman bunda yang tak mau kalah saingan pun akan menghambur-hamburkan uang untuk membeli perhiasan yang lebih mahal dari perhiasan bunda. Aku benci sekali laku orang-orang seperti itu.

***

Dari garasi, bunyi mesin mobil menderu bising. Aku menyibak korden jendela, memandang keluar. Di luar, aku masih melihat awan tebal menggantung di langit Kota Malang. Langit itu benar-benar tak sejernih kaca. Tapi hujan turun tak sederas satu jam yang lalu.

Jalan aspal depan rumahku baru saja ada perbaikan. Anak-anak kecil berlarian di atasnya dengan telanjang kaki. Salah seorang anak menggenggam erat sebatang kayu, lalu melempar kayu itu dengan ayunan kencang ke arah anak lain. Aku memerhatikan wajah-wajah anak yang penuh semangat itu. Betapa senangnya mereka, bisa bermain di tengah hujan. Seandainya saja aku diperbolehkan seperti itu.

Dan ketika bunda sudah pergi dengan mobilnya, aku langsung merogoh kertas ulangan di kolong tempat tidur. Lalu kubuka lemari. Di dalam lemari itu ada setumpuk kertas gambar kosong, di atas kotak kecil. Aku mengambil kotak itu, membukanya. Kotak itu tersimpan kertas-kertas ulanganku, yang selalu mendapat nilai di bawah 50. Paling banyak adalah nilai nol. Tapi aku selalu menambahkan tanda senyum di dalam bulatan nol itu. Setidaknya itu bisa membuatku bersemangat dalam menjalani ulangan-ulangan berikutnya dan berpikir bahwa nilai nol bukanlah akhir dari segalanya.

Mungkin orang berpikir bahwa aku adalah pelajar bodoh. Begitulah yang selalu dikatakan oleh orangtua, guru, dan teman-temanku. Tidak ada dan tak pernah ada yang mengatakan aku: PINTAR. Waktu kelas dua SD aku pernah tidak naik kelas. Dan untuk mengusir rasa malu, ayah membawa kami sekeluarga pindah ke Malang. Sekarang aku menginjak kelas empat SD. Sungguh sebuah kebahagiaan terbesar bagi ayah karena aku bisa masuk sekolah negeri favorit dengan fasilitas terbaik.

Aku memasukkan kertas ulangan bersama tumpukan kertas-kertas ulangan lain, lalu menutupnya kembali. Tidak ada yang tahu isi kotak ini, tidak pun orangtua dan juga kakakku.

Sekarang aku sendirian di rumah. Aku tidak ubahnya binatang jalang yang selalu hidup sebatang kara. Hmmmh ya, sebatang kara. Kusandarkan punggungku pada pintu lemari dengan kedua tangan memeluk kaki yang kutekuk. Tak ada siapa-siapa di rumah ini, kecuali aku dan serangga-serangga yang suka berkeliaran di dalam kamarku. Kakak kandungku, Izal selalu pulang sore karena ada les di sekolah. Bunda sibuk bernostalgia dengan teman-temannya. Sedangkan ayah lebih mementingkan bisnisnya.

“Membosankan.”

Kemudian aku bangkit dan menghambur keluar kamar. Menuruni tangga secepat kereta express. Di sudut ruang tamu, kuambil sebuah payung warna hijau yang tersandar pada rak sandal dan sepatu. Tiba-tiba pintu terbuka. Izal masuk, baru pulang dari les. Jas hujan yang dipakainya basah kuyub membasahi lantai. Jasnya menutupi tas dan seragam putih abu-abunya dari hujan.

“Mau kemana kamu?”

“Main. Bosen di rumah melulu.” Aku jalan keluar pintu, melewati Izal yang lagi berdiri di ambang pintu.

“Hujan-hujan begini. Aku bilangin Ayah dan Bunda lho,” ancamnya.

Langkahku terhenti. Aku berbalik badan menghadap Izal. “Bisa nggak sih kalau nggak ngadu. Kan bawa payung,” gerutuku. Mataku menyorot tajam ke arahnya. Pipiku mengembung. “Kalau sampai ngadu, aku bakal bilang pada Ayah, kalau selama ini Aa 1 Izal main bola dan sering bolos les. Iya kan?”

“Tahu dari mana kamu?”

“Aku kan punya mata-mata. Aku juga tahu, Aa gabung di klub sepakbola. Kalau Ayah sampai tau hal ini, Ayah pasti marah. Bisa-bisa… Aa dikurung seharian di gudang, sepertiku.”

Tampaknya aku bisa membuatnya ketakutan, akhirnya. Kali ini kami sama-sama memegang rahasia yang tak boleh diketahui Ayah dan Bunda. Oke, satu sama.

Kemudian aku berpaling darinya. Tapi sebelum aku pergi, ia memanggilku.

“KAFFAL !”

Aku berhenti, lalu menoleh ke arahnya.

“Umm. Apa?”

“Hati-hati di jalan! Daaaaaaaan… ini aku ada uang saku lebih,” ia merogoh saku celana. “Kalau kamu mau, kamu bisa ambil kok.”

Aku menatap Izal dengan pandangan menyelidik. “Engga mau, kalau mendadak baik gitu pasti ada maunya.”

Izal tersenyum lebar memamerkan gigi. “Iya. Heee. Jangan bilang ke Ayah ya!”

Aku pun bergumam. “Mmmh, di dunia ini gak ada yang gratis. Adaaa…”

“Iya deh, aku bantuin ngerjain PR. Gimana?”

“Oke. Setuju. Ambil di tasku! Kerjain soal di buku paket bahasa Inggris halaman enam puluh delapan.”

***

Aku mengibarkan payungku. Berjalan di atas jembatan layang. Sebuah jembatan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarku dengan membawa keranjang besar berisi sayuran hijau. Apabila aku berjalan terus, aku akan bersampai ke pasar. Di sana banyak penjual kecil sedang berjualan di tepi jalan. Dan hujan membuat para pedagang berhamburan ke tempat teduh. Tapi kini hujan berubah menjadi tirai-tirai gerimis. Dan gerimis adalah bingkai adalah damai adalah imaji.

Tanganku berpegang di penyangga jembatan, merasakan titik-titik embun bekas air hujan. Aku melayangkan pandangan ke sekeliling, melihat ke bawah jembatan. Jalan begitu lengang. Sesekali terdengar kendaraan lewat dengan mesin menggema. Di waktu hujan, kota ini tampak seperti kota eskimo—dingin.

“Hei, batang kara.”

Batang kara, itulah nama ejekanku di sekolah. Seseorang berteriak mengataiku. Aku sangat mengenal suara itu. Kemudian aku memutar badanku 180 derajat. Seorang anak lelaki bertubuh kurus berdiri di ujung jembatan layang. Ia adalah teman sekolahku. Ralat, mungkin lebih tepatnya musuh. Namanya Nata. Tubuhnya kerempeng seperti lidi. Kalau di sekolah ia mengejekku dengan sebutan batang kara, kadang aku menudingnya dengan sapu lidi sambil menatap sangat tajam—tak berkedip.

Seperti biasa, ia selalu bersama keempat teman bermainnya. Yeah bisa dikatakan teman mainnya itu seperti berandalan kecil. Preman ingusan.

“Batang kara. Batang kara.” ejeknya terus, sambil menjulurkan lidah. Sementara keempat temannya hanya tertawa menatapku.

Mataku nyalang, menatap sangat tajam seperti mau lepas. Gigiku saling bertaut erat dengan otot-otot pipi membengkak menahan marah. Lalu aku membanting payung, lepas dari genggaman tangan. Tangan kananku mulai menuding ke arah mereka.

“KALIAN PECUNDANG. BERANINYA NGATAIN DARI JAUH,” teriakku.

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, dengan kedua tangan mengepal.

“Wah, batang kara marah nih. Ayo kita kabur!” seru Nata.

“BERHENTI. JANGAN KABUR KALIAN!”

Ketika mereka mau kabur, aku mempercepat langkah, semakin cepat dan berlari. Namun sebelum mereka benar-benar pergi, seseorang menghadang langkah mereka di ujung jembatan layang. Aku pun terhenti.

Seorang perempuan seusiaku berdiri di sana.

Ia agak tomboi. Pada lehernya melingkar syal hitam. Rambutnya yang panjang dikuncir dengan tali pita warna putih. Tali pita yang kutemukan di bangku taman, lalu kuhadiahkan padanya saat ia mendapat rangking satu berturut-turut sampai sekarang. Ia adalah sahabat terbaikku. Aku tidak punya teman lain selain ia. Kami bersahabat sejak kelas tiga SD, karena adalah murid pindahan. Aku memanggilnya Rara.

“Heh, arep nangdi kalian? Beranine ngejek tekan adoh. Abis gitu kabur dan gak gelem tanggung jawab karo omongane dewe, (Heh, mau kemana kalian? Beraninya ngejek dari jauh. Abis gitu kabur dan nggak mau tanggung jawab ama ucapan kalian sendiri),” katanya, menyembunyikan tangan kiri ke belakang. Sedangkan tangan kanannya berkacak pada pinggang.

“Ah kutu, kamu selalu aja ikut campur urusan cowok. Ups, lali…” Nata menutup mulutnya dengan telapak tangan kiri. “Rara kan cewek dadi-dadian. Iyo gak?”

“Iyo betul,” sahut yang lain.

Nata dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Bagi Rara ucapan Nata selalu membuatnya kesal dan telinganya panas. Ucapan itu bak tamparan keras.

“Jaga ya mulut kalian!”

“Uuuh, wediiii. Wes tah, minggir kono! Basi, ngerti ora. (Uuuh, takuuuut. Udahlah, minggir sana! Basi, tau enggak.)”

Nata cs berdusel melewati Rara, mendorong tubuh Rara hingga terjatuh ke lantai jembatan. Tapi dengan segera, Rara bangkit.

“TUNGGU !”

Rara langsung menarik kerah baju Nata, mencengkeram erat. Ia memperlihatkan sesuatu dari balik tangan kiri. Seekor tikus putih menggelantung di tangan Rara.

“Ti… tikuuuuus…” teriak salah seorang teman Nata.

Mereka berduyun-duyun menuruni tangga jembatan, kecuali Nata yang masih di tempat—tidak bisa kabur karena cengkeraman Rara semakin erat. Wajah Nata tampak sangat jijik melihat tikus besar itu menggelantung dekat matanya yang terbelalak lebar. Sementara Nata terus menjerit-jerit dan berteriak: lepaskan aku, kutu!

“Gak bakal aku lepaskan sebelum tikus ini menggeliat-geliat di tubuhmu.”

Kemudian Rara memasukkan tikus putih itu ke dalam baju Nata. Tikus itu mulai merambati punggung. Bulu kuduk Nata mendadak berdiri ketika dirasanya telapak kaki tikus itu menggaruk-garuk punggungnya. Nata menjerit-jerit seperti orang kepanasan. Ia berlari pontang-panting menuruni tangga jembatan. Membuka baju yang dikenakannya, lalu membuangnya jauh-jauh ke tepi jalan. Sehingga ia pulang dengan telanjang dada. Sementara seekor tikus itu menyembul keluar dari baju Nata.

Kami tertawa, aku dan Rara. Ia menoleh ke arahku. Wajah sumringahku mulai terkembang bak layar ketika ia menghampiriku. Ia membalas senyumku dengan senyum termanis yang dimilikinya. Aku pun melangkahkan kakiku, menghampirinya.

Aku sadar, aku takkan bisa berbuat apa-apa tanpa ada Rara di sisiku. Yang pasti ia selalu ada untukku, termasuk jika aku butuh bantuan, sedih, dihina orang, dan dijaili oleh Nata cs. Itulah gunanya memiliki sahabat sejati. Tuhan mengirim seorang peri kecil untuk menjagaku dan membuatku tersenyum sepanjang waktu.

Aku begitu sinis dan benci orang yang berlalu lalang di sekitarku, bahkan orang yang tidak kukenal sekalipun. Apabila aku melihat mereka secara tidak sengaja, kadang dalam hati aku merasa bahwa orang yang kutemui tengah menghinaku, seperti mengatai tentang diriku yang memiliki wajah bodoh. Dan sekali orang melihatku, mereka sudah bisa menduga dengan melihat wajahku bahwa aku adalah pelajar bodoh. Intinya, aku benci semua orang, tapi tidak pada Rara. Meski aku mengenalnya lama, sesekali ia tak pernah mengataiku pelajar bodoh.

“Rara.”

Kami saling berhadapan.

“Hai, kamu tidak apa-apa kan.”

“Tenang aja, aku baik-baik aja kok. Makasih ya karena kamu udah belain aku!”

“Itulah gunanya sahabat.”

“Kamu memang sahabat terbaikku. Sayang, aku cowok lemah. Aku enggak bisa membela diriku sendiri. Aku memang payah.”

“Biarpun kamu cowok lemah, tapi aku suka kok ama sifatmu.”

“Sifat? Yang mana?”

“Mmmh, aku suka ama semangatmu. Semangatmu yang tinggi untuk menggapai sesuatu. Dan kamu punya banyak impian melebihi impian anak-anak lain di sekitarmu. Yang pasti, kamu beda ama Nata.”

“Emang bedanya apa?”

“Kalau Nata sih… punya impian, tapi menggapainya dengan sadis. Tahu sendiri kan Nata kayak apa.”

“Tahu banget. Pasti maksa kacung-kacungnya buat ngelakuin apa yang dia mau. Kalau nggak gitu, kacung-kacungnya bakal ngerasain dunia seperti neraka.”

Kami tertawa membayangkan tubuh Nata berubah menjadi merah, ada tanduk runcing di kepalanya, lalu wajah Nata membelah jadi dua… ah tidak, tujuh dan berputar-putar mengelilingi kacung-kacungnya dengan menampakkan wajah penuh amarah dan kata-kata pedas yang meledak dari mulut Nata. Well, mungkin sepedas makan cabe rawit berkilo-kilo.

“Lucu yah kalau dibayangin.” Rara tertawa. “Oh iya, tunggu bentar ya, aku mau ambil jualanku di bawah.”

Aku menganggukkan kepala. Kemudian Rara menuruni tangga dan mengambil jualannya. Ada satu hal, Rara memang pintar dan selalu menjadi juara kelas, tapi Rara bukanlah anak orang kaya. Hidupnya berkecukupan. Setiap sore atau sepanjang waktu luang yang ia miliki, Rara selalu menghabiskan waktu untuk berjualan gorengan dan pepes ikan. Sementara emaknya sibuk menggarap sawah orang lain. Dan bapaknya… entah berada dimana. Sudah dua tahun merantau ke Sumatera, tapi tak kunjung kembali, dan sekalipun tak pernah ada kabar tentang bapaknya. Bahkan sekali saja bapaknya tak pernah mengirim uang.

Aku kagum pada Rara, ia rela menukar waktu bermainnya dengan bekerja. Yang pasti ia berbeda dengan anak-anak seusianya yang selalu menghabiskan waktu dengan bermain, les, dan makan makanan super enak yang biasa dijual di restauran. Dan sekali saja ia tidak pernah mencicipi rasa hamburger, pizza, pudding, dan semua yang berbau makanan mahal. Baginya, ia lebih suka menikmati gorengan buatan emaknya, kemudian memakannya dengan ketela bakar. Bila tak ada beras untuk dimasak, ia akan mengganti beras dengan ketela yang ia cabut dari ladang belakang rumahnya.

***

Tanganku menengadah di antara gerimis. Aku dan Rara berjalan berdampingan di atas jembatan layang. Payungku masih kukibarkan lebar-lebar, meneduhiku dan Rara. Sementara tangan kiri Rara memegangi baskom berisi gorengan dan pepes ikan. Lalu, tangan kanannya menyeret payung yang ia tutup.

“Udahhh. Gak usah dipayungin. Aku kan bawa payung sendiri. Lagian hujannya kan udah berhenti. Tutup aja payungnya!”

“Nanti bajuku basah, Ra.”

“Ah, nggak bakalan basah kuyub deh. Tenang aja!”

Aku mencoba mengalihkan payung dari atas kepala. Dan wajahku menengadah ke langit. Kurasakan titik air jatuh ke wajahku. Lembut sekali. Dan dingin. Kemudian kututup payungku.

“Fal, emang kamu mau kemana sih ? Tumben boleh keluar. Biasanya kalau ujan gini, kamu selalu mendekam di rumah.”

“Aku mana boleh keluar. Ini aja aku kabur dari rumah. Abisnya bosen di rumah. Rumahku sepi kayak kuburan. Semua pada sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Pokonya selama Ayah dan Bunda gak tau, nggak apalah.”

“Terus, gimana dengan Kak Izal? Apa dia tahu kalau kamu keluar rumah?”

“Tau. Tapi aku ancam dia. Abisnya dia mau mengadu ke Ayah kalau aku keluar rumah. Aku ancam saja tentang dia ikut klub sepakbola dan diam-diam sudah bolos les. Yeah, kamu bener-bener mata-mata ulung, Ra. Kamulah penyelamat hidupku.”

“Biasa aja, kali. Eh, tadi aku abis jualan lagi di tempat Kak Izal biasa latihan lho. Denger-denger sih Kak Izal bakalan dijadiin kapten pas pertandingan tingkat kabupaten bulan depan.”

“Yeah, Kak Izal memang pintar dalam segala hal, termasuk pelajaran. Buktinya, dia selalu mendapat rangking tiga besar di kelas. Pantes kalau Ayah dan Bunda selalu membangga-banggain dia. Ayah selalu aja membeda-bedain antara aku dan Kak Izal. Terus ujung-ujungnya, Ayah bakal menjelek-jelekkan kebodohanku. Sementara Bunda, pasti akan menceritakan kebodohanku di depan teman-temannya yang centil.”

“Hah, centil gimana?”

Aku mengangguk, lalu tertawa. “Abisnya masih suka hura-hura di mall. Ngapain lagi kalau bukan cuci muka. Mandangin cowok-cowok brondong. Aku pernah ngeliatin mereka, waktu aku iseng-iseng pergi ke mall sendirian.”

“Sejak kapan kamu berani pergi ke mall sendiri?”

“Cuma iseng, Ra.”

Begitu kami turun dari jembatan layang, Rara menawarkan gorengan dan pepes ikan pada orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Ia mengumbar senyum ramah pada setiap orang.

“Gorengan-gorengan. Pepes ikan. MASIH HANGAAAAT, IBUK !”

Kemudian datang dua anak kecil berlarian menuruni jembatan dan menyenggol lenganku. Mereka memakai kaos kutang dan celana pendek selutut. Mungkin mereka baru saja main hujan-hujanan. Pakaiannya basah kuyub. Sementara Rara, menghampiri seorang ibu yang akan membeli pepes ikan. Ibu itu memakai daster panjang, rambutnya tergelung ke atas, dan tangan kirinya membawa plastik besar berisi selada air.

Aku memandang sekeliling yang penuh gelak tawa anak-anak kecil dan wajah-wajah getir orang dewasa. Pemandangan sekilas telah membawa memoriku menelusuri masa kecilku, melewati tahun demi tahun yang berlalu, dan di masa ketika aku masih tinggal di Lembang. Sebuah kecamatan yang terletak di belahan barat kota Bandung. Itulah kota kelahiranku. Dan entah mengapa, ayah memutuskan untuk pindah ke Kota Malang yang sama-sama dikelilingi oleh pegunungan seperti di Kota Bandung.

Aku tak memiliki teman bermain satupun di sekolah lamaku. Tak ada yang mau bermain denganku. Karena aku anak yang aneh. Mungkin mereka menganggapku bodoh dalam hal apapun, termasuk memainkan sesuatu. Tetapi menurutku, itu adalah sebuah alasan yang sangat tidak masuk akal.

Kadang aku iri melihat teman-temanku, lelaki bermain bola dari pelepah pisang. Dan juga iri melihat teman-temanku, perempuan sedang asyik bermain tali karet, sonda, ataupun gobak sodor. Intinya, aku seperti patung di mata mereka. Yang selalu diam di pintu kelas dengan punggung bersandar pada pintu. Dan kalau guruku bertanya tentang mengapa aku tidak ikut bermain, aku lebih memilih untuk menggelengkan kepala—tak menjawab apapun. Tapi kini aku senang. Karena aku punya sahabat sejati. Setidaknya, aku bisa terbebas dari kesepian saat berada di sekolah. Dan Tuhan telah mengabulkan doaku setelah sepanjang malam aku berdoa agar Tuhan mengirimkanku teman sejati.

“Kaffal !” Rara menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku. “Lamunin apa?”

“Nggak ngelamunin apa-apa. Aku lagi mikir aja, emangnya sebodoh apa sih aku. Sehingga gak ada yang mau jadi teman mainku.”

“Siapa bilang kamu bodoh? Kamu gak bodoh kok. Aku percaya, suatu saat nanti kamu bisa jadi anak pintar atau… jenius, kali. Seperti Albert Einstein.”

“Bagaimana caranya?”

“Belajar dong !” Rara menghela napas. “Fal… sebenarnya kamu enggak bodoh. Kalau kamu mau, kamu bisa kok jadi pintar melebihi Kak Izal. Orang bodoh, idiot, dan gila aja bisa dianggap jenius.”

“Emang iya?”

“Iyah.”

Aku mengelus rambut. “Aku gak percaya. Pasti kamu cuman sekedar nyenengin aku doang, kan. Kamu bohong. Cuman kamu lho yang bilang kayak gitu. Semua orang pada bilang kalau aku adalah pelajar bodoh.”

“Aduh, Faaaaal… emang wajahku ada tampang lagi bohong, apa?”

“Ya mana aku tahu, Ra.”

“Mmmh, terserah kamu aja deh. Tapi ada satu lagi, selain itu, kamu adalah anak yang berbakat.”

Aku semakin bingung sambil menggaruk-garuk kepala. Mataku bergerak-gerak tak tentu arah ke kanan kiri. Dan mulai berpikir: berbakat dari mana ? Langkah kakiku memelan hingga Rara berjalan mendahuluiku.

“Terus, menurutmu apa aku kelihatan kayak anak batang kara?” lanjutku.

Sebelum menjawab, Rara menghela napas, memutar badan ke arahku. “Pikir aja sendiri ! Jangan terlalu percaya apa yang diucapkan orang lain !”

“Yah, Raaaaa…”

Kemudian ia berpaling dariku. Kembali menawarkan gorengan dan pepes ikan pada gerombolan mahasiswi berjilbab yang tengah asyik bergurau di pinggir jalan. (dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 5)
Loading...
Niken Larasati
Juara 1 event menulis cerpen antologi CABE pedasnya cinta tingkat nasional 2012 dengan judul cerpen Buku Harian Bersampul Merpati

Lihat Juga

Sanlat for Executive RISKA Cetak Generasi Muslim Sejati