Home / Berita / Internasional / Silmy, Gadis Tak Berdosa Yang Lumpuh dan Kelaparan Akibat Blokade Pasukan Rezim Suriah

Silmy, Gadis Tak Berdosa Yang Lumpuh dan Kelaparan Akibat Blokade Pasukan Rezim Suriah

Silmy, gadis kecil tak berdosa yang lumpuh sejak lahir. (aa.com.tr/ar)

dakwatuna.com – Ghouta. Di Kota Ghouta Timur, Damaskus, hidup seorang gadis bernama Silmy (7 tahun) yang harus menderita kelaparan dan kelumpuhan dalam waktu bersamaan. Silmy diketahui menderita Cerebal Palsy, sebuah penyakit kelumpuhan akibat kerusakan otak, yang harus diobati dengan baik. Namun, semua itu tampak mustahil mengingat kehidupan di kota yang diblokade pasukan rezim itu sangat sulit.

Badan Anak PBB (Unicef) pada Rabu (29/11) lalu mengumumkan, tingkat malnutrisi di Ghouta timur mencapai tingkat yang membahayakan. Disebutkan bahwa saat ini merupakan yang tertinggi sejak pecah perang Suriah beberapa tahun silam.

Menurut laporan disebutkan, sekitar 400 ribu warga sipil di Ghouta timur hidup dalam keadaan yang sangat sulit. Terlebih setelah pasukan rezim memberlakukan blokade terhadap kota tersebut sejak lima tahun yang lalu.

Silmy dan Zeyna

Hari demi hari, kelaparan dan penyakit senantiasa mengancam kehidupan gadis tak berdosa, Silmy. Menurut sang ayah, Silmy memerlukan setidaknya tiga gelas susu setiap harinya. Namun apalah daya, kota yang terblokade mengakibatkan keluarga Silmy jatuh dalam kubangan kemiskinan.

Silmy merupakan satu dari sekian banyak anak-anak yang menjadi korban dalam blokade tersebut. Keadaan Silmy bahkan lebih buruk daripada yang terbayangkan. Cerebal Palsy yang dideritanya, membuat dirinya tak mampu berjalan dan berbicara, apalagi sekedar pergi ke kamar mandi seorang diri.

Kondisi serupa juga diderita oleh kakak perempuan Silmy, Zeyna (14 tahun). Ia menderita kelainan pada tulang punggungnya, dan sekarang dalam kondisi kritis. Sekali lagi, blokade rezim mengakibatkan ia dan adiknya kekurangan gizi, atau sekedar menikmati hidup yang layak.

Sebenarnya, Ghouta timur termasuk ke dalam zona aman yang diinisiasi oleh Turki, Rusia dan Iran. Selain juga menjadi pusat perhatian dalam Perundingan Astana Mei lalu. Meskipun Rusia telah mengumumkan gencatan senjata di wilayah ini, tapi rezim Bashar al-Assad masih tetap saja menembakkan pelurunya ke kota ini.

Sehari Tanpa Makanan

Situasi kehidupan yang memilukan harus dijalani oleh keluarga Silmy dan Zeyna. Selama beberapa tahun belakangan, keluarga harus menyaksikan kedua anak mereka sakit serta kemiskinan yang mencekik.

Abu Sulayman, ayah kedua gadis tersebut, kepada Anadolu Ajansi mengatakan, “Anakku yang kecil, Silmy, menderita cerebal palsy sejak lahir. Keadaannya kian hari kian bertambah buruk. Itu diakibatkan kelaparan dan ketidakadaan perawatan medis yang menyentuhnya. Padahal, ia sangat memerlukan hal itu.”

Abu Sulayman juga menjelaskan sumber mata pencahariannya sehari-hari. Katanya, “Aku bekerja mengumpulkan sampah-sampah plastik di sekitar sini, yang senantiasa diintai oleh serangan kekerasan. Lalu aku menjualnya pada produsen diesel untuk mencukupi kebutuhan keluarga.”

Selain itu, ia juga menggambarkan situasi di Ghouta yang menurutnya lebih buruk dari yang dibayangkan kebanyakan orang. “Jika aku jelaskan, mungkin hanya akan memercayainya sedikit. Di sini tidak ada roti ataupun air. Harga roti 1800 lira (sekitar 4 dolar), dan tentu saja kami tidak mampu membelinya,” katanya lagi.

Abu Sulayman menambahkan, “Demi Allah, aku belum mampu memberi makan anak-anakku hari ini. Aku juga tidak mampu memberi obat bagi anak perempuanku. Rezim melarang obat-obatan masuk di pos-pos pemeriksaan. Yang kami miliki saat ini hanya Allah Swt.”

Dengan penuh kesedihan, ia melanjutkan, “Aku telah menjual semua yang ku miliki agar keadaan Silmy dan Zeyna lebih baik. Silmy perlu tiga gelas susu setiap harinya. Tapi harga satu gelasnya saja 1000 lira (2 dolar).”

“Anak-anak di Ghouta timur ditinggalkan begitu saja. Bahkan hingga organisasi-organisasi internasional tidak memperhatikan mereka. Padahal keadaan di sini sangat sulit, kemiskinan merajalela, akibat blokade,” imbuhnya lagi.

Kesaksian tentang begitu tragisnya kehidupan di kota ini juga disampaikan Abu Jamil, seorang dokter anak di Ghouta. “Anak-anak dengan berbagai penyakit yang ada di sini memerlukan terapi fisik yang cukup lama,” katanya.

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya bantuan obat-obatan dan makanan yang baik selama periode penyembuhan. “Susu, buah segar dan cairan jadi kebutuhan yang pokok. Jika tidak maka keadaan akan makin buruk bagi mereka yang lumpuh,” lanjutnya.

Unicef telah mengecam keras kurangnya bantuan kemanusiaan ke Ghouta timur serta terus berlanjutnya penyerangan rezim ke kota ini. Selain itu, Badan PBB tersebut juga mencatat bahwa harga kebutuhan pokok di kota ini mencapai rekor tertinggi. (whc/dakwatuna)

Sumber: Anadolu Ajansi Arabic

Advertisements

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra

William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma’had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.

Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma’had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Kebijakan Trump Akui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel Kontraproduktif