Home / Berita / Internasional / Membaca Arah Koalisi Turki, Rusia dan Iran

Membaca Arah Koalisi Turki, Rusia dan Iran

Program Aljazeera Lens, membahas tentang masa depan koalisi Turki, Rusia dan Iran. (aljazeera.net)

dakwatuna.com – Doha. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, hubungan antara Turki, Rusia dan Iran mengalami pasang surut. Bahkan, hubungan Ankara dan Moskow sempat mengalami pertentangan yang hebat. Tapi, hubungan mengalami arah yang berbeda khususnya dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini tak terlepas dari perubahan kebijakan luar negeri Ankara seiring dengan terpilihnya Binali Yildirim menjadi Perdana Menteri (PM).

Program ‘Aljazeera Lens’ episode Selasa (28/11/2017), membahas tentang arah koalisi antara Turki, Rusia dan Iran dengan tiga orang narasumber. Dari Istanbul, Direktur Aljazeera Turki, Abd Al-Adhim Muhammad menyebutkan, pasca kudeta gagal 2015 lalu, Turki melihat bahwa AS bukan lagi sekutu yang dapat dipercaya. Hal ini mendorong negara dua benua itu mengarah kepada realitas politik dan membangun hubungan baru di sekitarnya.

Muhammad menambahkan, arah kebijakan resmi Turki saat ini mengonfirmasikan bahwa Kawasan saat ini berada dalam Sykes-Picot baru. Menurutnya, Turki menjadi salah satu sasaran dalam skema ini.

Sementara itu, Direktur Aljazeera Rusia Zawar Shog menyebutkan, Moskow mencoba memanfaatkan pengalaman masa lalunya untuk membangun hubungan sementara yang mungkin menjadi strategis. Hubungan yang dimaksud adalah dengan dua kekuatan dasar di Kawasan yaitu Turki dan Iran.

Shog menambahkan, Suriah saat ini menjadi arena yang cocok untuk kekuatan ini. Dengan begitu, katanya, akan ada arena bersama di antara sejumlah kutub. Bukan hanya satu kutub saja yaitu AS seperti yang terjadi pasca runtuhnya Uni Soviet.

Shog juga meyakini, koalisi yang terbangun bisa saja mengundang lebih banyak lagi negara yang terlibat. Hal tersebut dapat terjadi jika permasalahan diperluas ke negara-negara tetangga seperti Afghanistan, yang juga menjadi perhatian Rusia dan Iran.

Sedangkan dari Teheran, Jurnalis Aljazeera Noureddin al-Dagheer mengutip pernyataan yang diungkapkan ilmuwan AS tentang aliansi terbatas. Aliansi model ini hanya menghubungkan semua pihak karena satu kepentingan tertentu. Namun, aliansi bisa saja rapuh saat terjadi benturan kepentingan.

Al-Dagheer menyatakan, Suriah yang menjadi pokok pembicaraan Turki, Suriah dan Iran di Sochi, dibahas dalam tema yang besar. Namun ada beberapa catatan yang didiamkan dan rincian yang mungkin dapat mengundang kehadiran iblis.

Ia melanjutkan, di bawah tema besar itu terdapat akun nasionalisme Iran. Ini mengindikasikan bahwa peran Iran jauh lebih besar daripada peran Moskow sendiri. Selain juga Iran menyadari bahwa dirinya merupakan sekutu bagi Turki tatkala kaum Kurdi mendeklarasikan kemerdekaan.

Kesimpulannya adalah, bahwa koalisi tiga negara ini tidak menghilangkan sepenuhnya draf-draf perbedaan di antara mereka, seperti misalnya berkaitan dengan masa depan Bashar al-Assad. Karena itulah maka para pengamat melihat bahwa di Suriah pada tahun-tahun mendatang akan ada beberapa penolakan baru dari ketiga negara tersebut. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi