Topic
Home / Berita / Internasional / David Hearts: Kegagalan Akan Mewarnai Petualangan Militer Pertama Bin Salman

David Hearts: Kegagalan Akan Mewarnai Petualangan Militer Pertama Bin Salman

Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, Putra Mahkota Arab Saudi. (Globalresearch.ca)

dakwatuna.com – Riyadh. Penulis terkenal asal Inggris, David Hearst menegaskan, awal petualangan militer dari Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman Al Saud, akan diwarnai kegagalan dari segi taktis dan strategi. Seperti diketahui, pangeran muda yang baru berusia 32 tahun itu saat ini juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kerajaan Saudi.

Paragrap di atas merupakan kesimpulan dari artikel yang ditulis Hearst dan dimuat di surat kabar Midle East Eye, seperti dilansir Paltoday.ps, Ahad (26/11/2017). Dijelaskan di sana bahwa, setelah berlangsung selama 2 tahun perang Yaman, tampaknya koalisi yang digalang Saudi mendekati keruntuhan.

Hearts menambahkan, perpecahan mulai tampak di antara pasukan Yaman dan pasukan asing yang berperang melawan milisi syiah Hutsi di sana. Jika dibiarkan, hal itu tentu akan mengancam masa depan koalisi yang dipimpin langsung oleh Arab Saudi tersebut.

Di antara pasukan koalisi itu, terdapat di dalamnya pasukan Sudan yang merupakan bagian terbesar. Tercatat, jumlah pasukan Sudan mencapai 10.000 prajurit, yang otomatis juga memiliki presentasi kematian terbesar. Sumber terdekat di Khortoum menjelaskan, jumlah prajurit Sudan yang tewas di Yaman hingga saat ini mencapai 500 orang. “Berbagai tekanan mulai internsif dilakukan untuk menarik diri dari peperangan ini,” katanya kepada laman Midle East Eye.

Sementara itu, tampak Presiden Sudan Omar al-Bashir mulai meninjau ulang permasalahan ini. Meski masih ada kegalauan dalam dirinya, yaitu berkaitan dengan satu milyar dolar yang didepositokan Riyadh ke Bank Sentral Sudan dua tahun lalu.

Hearst juga menyebutkan, pembelotan justru muncul dari barisan pasukan Yaman yang dua setengah tahun lalu menyambut baik intervensi militer Saudi melawan Hutsi. Seperti diketahui, saat itu milisi Hutsi melakukan pemberontakan dan berupaya menguasai seluruh wilayah Yaman.

Hearts melanjutkan, kelompok tempur terorganisir yang bergabung ke dalam pasukan koalisi adalah Kelompok Al-Islah. Menurutnya, pimpinan al-Islah saat ini sudah merasakan harga politik yang mereka bayar dari dukungan terhadap kampanye Saudi, yang disebut-sebut telah berubah menjadi penjajahan di mata rakyat Yaman.

Para pimpinan al-Islah juga harus membayar dengan nyawa mereka. Ini dapat dilihat dari maraknya pembunuhan atau upaya pembunuhan terhadap para syaikh dan ulama al-Islah. “Rasanya sudah cukup kerugian yang kita alami.” Mungkin itu yang tengah dipikirkan para pimpinan al-Islah saat ini, yang mendorong mereka untuk memulai perundingan dengan Hutsi.

Unsur lain dari kampnye Saudi di Yaman, menurut Hearts, adalah Kesultanan Oman. Bagi Oman, wilayah Yaman Selatan merupakan pekarangan belakangnya. Maka tak heran jika saat ini merasa prihatin dengan banyaknya pelabuhan dan pulau strategis yang di kuasai Emirat.

Rakyat Oman saat ini disebut-sebut menjalin hubungan dengan para pemimpin kabilah di Yaman Selatan. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang mengikuti pasukn sparatis. Tujuannya adalah untuk mengkoordinasikan respon kepada sejumlah milisi yang didukung dan didanai Abu Dhabi.

Pada bagian kesimpulan, Hearst menyebut petualangan militer pertama Bin Salman akan diwarnai kegagalan dari segi taktik dan strategi. “Pangeran ini, yang dipuji Barat sebagai reformis muda, akan memelopori kampanye melawan Iran. Ia hanya akan berhasil jika dapat mempersatukan Yaman untuk melawan Iran. Sebuah prestasi yang langka di dapat dalam dunia yang terpolarisasi seperti ini. Terlebih Iran telah menembakkam peluru ke arah kedua kakinya, bukan hanya sekali, tapi telah berulang kali,” imbuh Hearst. (whc/dakwatuna)

Sumber: Palestine Today

Redaktur: William

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar

Lihat Juga

Laporan PBB: Putra Mahkota Saudi Bertanggung Jawab Atas Kematian Jurnalis Jamal Khashoggi

Figure
Organization