Home / Berita / Internasional / Asia / Di Teheran, Erdogan Bahas Dampak Referendum Kurdistan Irak

Di Teheran, Erdogan Bahas Dampak Referendum Kurdistan Irak

Presiden Erdogan bersama Presiden Iran Hassan Rouhani. (Aljazeera.net)

dakwatuna.com – Teheran. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, tiba di Teheran hari ini, Rabu (04/10/2017). Dilansir dari Aljazeera.net, dalam kunjungan resminya kali ini, Erdogan akan bertemu dengan Pimpinan Republik Ali Khomeini dan Presiden Hassan Rouhani.

Pernyataan resmi pemerintah Iran menyatakan, kunjungan ini merupakan permulaan hubungan strategis kedua negara. Disebutkan, hubungan strategis dimaksud dari dua sisi, bilateral dan regional.

Masih menurut pernyataan resmi, Erdogan selama di Teheran akan membahas road map untuk mengatasi dampak referendum Kurdistan Irak. Selain itu, perkembangan di Suriah, zona aman dan koordinasi bersama pemberantasan teroris juga tak luput dari pembahasan.

Tampak Presiden Turki itu didampingi oleh beberapa pejabat penting negerinya. Seperti Menlu Mevlut Covusoglu, Menteri Ekonomi Nihat Zeybekci, Menteri SDM Berat Albayrak, Mendag dan Bea Cukai Bulent Tufenkci, dan lainnya. (whc/dakwatuna)

Sumber: Al-Jazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Iran Disebut Masih Jadi Ancaman Utama Amerika Serikat