Home / Berita / Internasional / Asia / Kemerdekaan Kurdistan Irak Disebut Sebagai Ancaman, Ada Apa?

Kemerdekaan Kurdistan Irak Disebut Sebagai Ancaman, Ada Apa?

Tampak pendukung referendum Kurdistan Irak mengibarkan bendera Israel. (hidayatullah.com)

dakwatuna.com – Baghdad. Surat kabar Amerika Serikat, The National Interest, mengangkat tema tentang referendum yang dilakukan Kurdistan Irak. Seperti diketahui, referendum dimenangkan oleh suara yang menghendaki kemerdekaan bagi wilayah Kurdistan. Sementara itu, penolakan keras datang dari negara-negara baik regional maupun internasional. Pertanyaannya, mengapa sebagian negara menganggap kemerdekaan Kurdistan Irak sebagai ancaman?

Dalam artikel yang dimuat National Interest, disebutkan bahwa pada tanggal 26 September, para politisi Kurdistan Irak mengadakan pertemuan di salah satu hotel di Arbil, ibu kota Kurdistan Irak. Dalam kesempatan itu, mereka membicarakaan banyak hal. Termasuk berbagai tantangan dan kesulitan yang akan mereka hadapi dampak dari referendum bersejarah itu.

Artikel juga menyebutkan bahwa Turki sebelumnya telah mengancam untuk menutup perbatasannya dengan wilayah Kurdistan Irak. Termasuk juga dengan akses ekspor – impor wilayah itu setiap harinya.

Selanjutnya, pihak Baghdad telah memerintahkan Kurdistan Irak untuk menyerahkan dua bandara internasional yang ada di sana. Bahkan Baghdad juga mengancam untuk mengirimkan pasukan ke wilayah-wilayah yang diperebutkan di sekitaran Kirkuk. Sedangkan Iran memutuskan untuk menutup kantor ‘Kurditan 24’ yang dikenal untuk informasi dan penelitian di Teheran. Serta ancaman untuk memberi hukuman lain juga datang dari Iran.

Seth Frantzman, penulis artikel menambahkan, para penonton seakan bertanya-tanya terkait sikap Arab Saudi. Mereka menunggu apakah Arab Saudi akan berdiri mendukung Kurdistan Irak atau sebaliknya. Hal ini mengingat kekhawatiran umum terhadap pengaruh Iran baik di Iran maupun Suriah.

Frantzman melanjutkan, para politisi Kurdistan Irak menaruh harapan besar pada para pemilih Kurdistan di Turki. Mereka diharapkan mampu memberi pengaruh pada sikap Ankara terhadap polemik referendum Kurdistan Irak.

Pertemuan Arbil juga berharap, masyarakat internasional dapat mengubah sikap mereka terhadap referendum. Hadirin menjamin, minyak akan tetap mengalir dari Kirkuk. Dalam hal ini, sepertinya AS telah mendorong Turki untuk membiarkan perbatasannya tetap terbuka.

Frantzman menyebutkan, seorang hadirin menyebut kesediaan rakyat Kurdistan Irak untuk bersabar dalam mewujudkan harapan mereka untuk berdaulat. Rakyat telah merasakan pedihnya genosida di masa lalu, tambahnya.

Kemudian, hadirin ini berbicara panjang terkait penderitaan rakyat Kurdistan Irak, lanjut Frantzman. Ia juga berbicara tentang krisis ekonomi akibat kebijakan Baghdad yang mengurangi anggaran untuk wilayah itu. (whc/dakwatuna)

Sumber: Al-Jazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Rekonsiliasi Tidak Gratis, Israel Jamin Keamanan Arab Terhadap Ancaman Iran

Organization