Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Jum'at / Khutbah Jum’at: Rohingya Kembali Memanggil Kita

Khutbah Jum’at: Rohingya Kembali Memanggil Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق وأيده بالحفظ والنصرة، وأعزّ أصحابه الطيبين الطاهرين والصلاة والسلام على سيد الأولين والآخرين، إمام الغر المحجلين، سيدنا محمد الأمين، وعلى آله وأصحابه الميامين . اشهد ان لا إله إلا الله وأشهد ان محمد رسول الله . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ وَنَصَرَهُ وَوَالاَهُ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Ma’āsyiral Muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Nabi Muhammad ﷺ telah berpesan kepada kita, umatnya, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya. (HR. Muslim No. 2699)

Nabi Muhammad ﷺ juga telah berpesan,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)’.” (HR. Al Bukhari No. 6011)

Ma’āsyiral Muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Rohingya Kembali Memanggil Kita!

Rohingya kembali bergolak memanggil saudaranya di seluruh dunia untuk melaksanakan pesan Rasulullah ﷺ di atas. Penderitaan umat Islam di Rohingya semakin bergolak bulan ini ditandai dengan aksi represif dan diduga kembali telah melakukan pemerkosaan kepada para muslimah, penyiksaan, pembakaran desa hingga pembunuhan.

12.000 pengungsi Rohingya di Indonesia, 87.000 pengungsi yang berlari ke Bangladesh, hingga ratusan ribu lainnya, baik yang berada di kamp-kamp pengungsian maupun di tempat lain yang tidak diketahui, menantikan sikap kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk Indonesia.[1] Mereka digelari warga negara illegal oleh Pemerintah Myanmar sejak berlakunya Burmese Nationality Law (1982 Citizenship Act).

Ma’āsyiral Muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Rohingya Kembali Memanggil Kita!

Ketika Pemerintah Myanmar mengkampanyekan bahwa penduduk Muslim Rohingya adalah pendatang baru dari subkontinen India, dan sehingga mereka tidak berhak mendapatkan kewarganegaraan Myanmar maka penelitian para ahli sejarah justeru menegaskan bahwa mereka telah tinggal di sana minimal sejak abad ke-12 M, jauh sebelum negara Myanmar ada, bahkan peta kuno otentik seperti cetakan tahun 1829 dan 1901 masih menetapkan Arakan sebagai wilayah terpisah dari Burma.[2] Lebih awal lagi, Abu Tahay, dari Union Nationals Development Party (UNDP) Myanmar, pada 29 Juli 2013 merilis hasil penelitiannya bahwa Rohingya merupakan warga asli keturunan Indo-Arya yang memeluk Islam di abad ke-8 M, dan mewarisi darah campuran Arab pada periode 788-801 M, Persia pada periode 700-1500 M, dan Bengali pada periode 1400-1736 M, ditambah Mughal pada abad ke-16 M.[3] Fakta ini menunjukkan bahwa dakwah Islam telah menyentuh wilayah Arakan sejak abad ke-8 M.

Ketika banyak sebagian manusia yang meragukan adanya unsur kebencian agama di Rohingya, Paus Fransiskus dalam khutbah mingguannya di Vatikan justeru menegaskan menegaskan bahwa derita Rohingya disebabkan kebencian agama:

They had been tortured and killed simply because they wanted to keep their culture and Muslim faith. … They have been thrown out of Myanmar, moved from one place to the other because no one wants them. But they are good people, peaceful people.”

“Mereka menderita bertahun-tahun, mereka disiksa, dibunuh hanya karena mereka ingin menjalani budaya dan keyakinan muslim mereka. … Mereka diusir dari Myanmar, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya karena tidak ada yang menginginkan mereka. Tapi mereka orang-orang baik, orang-orang cinta damai.”[4]

Fakta ini menegaskan bahwa umat beragama sudah semestinya membenci kejahatan kemanusiaan dalam bentuk apapun.

Ma’āsyiral Muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Rohingya Kembali Memanggil Kita!

Negara Burma yang merubah namanya menjadi Myanmar pada 18 Juni 1989 dan berbatasan langsung dengan Bangladesh, India dan Teluk Benggala di sebelah Barat, dengan Laut Andaman di sebelah Selatan, dengan China di sebelah Utara, dan dengan Laos, Thailand, dan China di sebelah Timur ini, dihuni oleh 50 juta orang penduduk, dengan minimal 4.3%-nya adalah Muslim, sudah termasuk perkiraan 1.090.000 jiwa di Rakhine yang sengaja tidak disensus Pemerintah pada tahun 2014. Populasi Muslim terbesar terdapat di wilayah Arakan, wilayah yang memanjang sejauh 560 km sepanjang Pantai Timur Teluk Bengali, yang secara letak geografis terisolasi oleh serangkaian perbukitan yang memanjang dan sulit dilalui. Wilayah ini baru dikuasai oleh Kerajaan Burma di akhir abad ke-18 M, dan kemudian disebut Propinsi Rakhine.

Moshe Yegar memaparkan hasil penelitiannya dalam bukunya yang berjudul Between Integration and Secession: The Muslim Communities of the Southern Philippines, Shouthern Thailand, and Western Burma/Myanmar. Di antara hasil penelitiannya adalah bahwa Bengali menjadi Muslim di tahun 1203 M., dan menjadi titik terjauh penyebaran Islam di Bagian Timur saat itu. Mulai abad ke-14 hingga abad ke-18 M, sejarah Arakan sangat didominasi oleh Muslim Bengali. Di tahun 1430, Kesultanan Bengali, Raja Ahmad Shah, membantu Raja Narameikhla (1404-1434 M) kembali dari pengasingannya di Bengali ke Arakan[5] dengan menyertakan 50.000 pasukan Muslim untuk mengembalikan kekuasaan Kerajaan Arakan.

 

Raja Narameikhla meminta suaka kepada Raja Bengal saat diserang oleh Kerajaan Ava adalah karena hubungan baik yang terbangun antara Kerajaan Arakan dengan Kesultanan Bengali selama ini, dan Kerajaan Arakan yang merasa tidak terancam selama ini dengan keberadaan Kesultanan Muslim Bengali yang penuh kasih. Pertempuran antara Kerajaan Buddha seperti Ava dan Arakan ini terjadi karena runtuhnya Kerajaan Pagan Burma saat diinvasi Kerajaan Mongol di bawah Kubilai Khan, sehingga muncul banyak kerajaan-kerajaan kecil Buddha yang saling berebut wilayah di Burma.

Sebagai bentuk terima kasih, Raja Narameikhla (Sulaiman Shah) kemudian membagi sebagian wilayah teritorinya kepada Kesultanan Bengali dan mengakui kedaulatannya di wilayah tersebut, bahkan merestui gelar Muslim bagi diri dan kerajaannya, Sulaiman Shah. Koin logam Kesultanan Bengali pun akhirnya menjadi salah satu alat pembayaran resmi. Raja Narameikhla kemudian membuat koin logam baru dengan menuliskan nama Raja Burma di satu sisi, dan gelar Muslimnya di sisi lain dalam bahasa Persia. Arakan kemudian menjadi wilayah subordinat Bengali sampai tahun 1531 M. Setelah wilayah Arakan terpisah dari Kesultanan Bengali, ternyata 9 raja Arakan berikutnya masih tetap menggunakan gelar Muslim.[6] Fakta ini menegaskan kontribusi besar kaum muslimin dalam membangun peradaban ekonomi dan budaya di Arakan.

Ribuan pasukan Muslim yang dulu membersamai Raja Narameikhla kemudian menetap di Mraung (Mrauk-U) dan mendirikan Masjid Sandi Khan. Masjid ini di tahun 1960-an masih kokoh berdiri sebelum kemudian dihancurkan. Terdapat banyak masjid tua lainnya di Arakan seperti Masjid Badae Maqam, Masjid Diwan Moosa (dibangun 1258 Masehi), dan Masjid Wali Khan (dibangun abad ke 15 Masehi). Fakta sejarah ini menegaskan bahwa Muslim dan Budha telah berabad-abad lamanya hidup berdampingan secara damai di Arakan.

Ma’āsyiral Muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Rohingya Kembali Memanggil Kita!

Penggunaan kata Rohingya sebagaimana tulisan Jacques P. Leider di tahun 1799 berjudul A Comparative Vocabulary of Some of the Languages Spoken in the Burma Empire, berarti Warga Rohang, nama Muslim awal untuk Arakan.[7] Fakta ini menguatkan keberadaan Muslim Rohingya sejak awal.

Kerajaan Arakan baru mendapatkan serangan besar dari Kerajaan Moghul saat Putra Mahkota Shah Shuja yang melarikan diri dan meminta suaka ke Kerajaan Arakan, ternyat pada akhirnya nanti dibunuh Raja Arakan karena dituduh akan melakukan pemberontakan kepada Raja Sandathudama. Kerajaan Arakan pun akhirnya diambil alih oleh kekuatan Muslim dari sisa pasukan Shah Shuja. Kerajaan ini terus memerintah hingga direbut kembali oleh Raja Burma Bodawpaya tahun 1784. 40 tahun kemudian penjajah Inggris menguasai Burma melalui 3 periode perang: I (1824-1826), II (1852-1853), III (1885). Maka sejak 1885, mulailah Burma dijajah Inggris hingga terbentuk Negara Modern Burma di tahun 1948.

Moshe Yagar dalam karya penelitiannya yang lain berjudul Muslim of Burma menyebutkan bahwa di masa penjajahan Inggris, terjadi peningkatan populasi Muslim dari India. Komunitas Muslim ini sangat aktif dalam seluruh aktifitasnya. Mereka mendirikan Masjid, Sekolah Islam, surat kabar, dan organisasi-organisasi filantrofis, sesuatu yang belum dilakukan oleh Muslim sebelumnya dalam skala massif, dan warga lokal Arakan.[8]

Ma’āsyiral Muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Rohingya Kembali Memanggil Kita!

Dari seluruh fakta ilmiah sejarah di atas, tidak ada lagi alasan yang dapat diterima oleh dunia modern hari ini, untuk tidak mendukung dimasukkanya warga Muslim Arakan di Propinsi Rakhine sebagai Warga Myanmar. Apalagi diskriminasi yang telah berjalan bertahun-tahun ini hanya mengkhususukan kepada warga Muslim semata.

Dari seluruh fakta ilmiah sejarah di atas, tidak ada lagi alasan bahwa kaum muslim Rohingya, sebagaimana klaim rezim Militer Myanmar, baru masuk ke Arakan pada periode penjajahan Inggris saja. Padahal Ensiklopedia Myanmar (1964) telah mendeskripsikan secara detail tentang asal muasal populasi ini.[9] Bahkan di dalam buku Teks Geografi yang diterbitkan oleh Universitas Yangon dan diterbitkan Kementerian Pendidikan Myanmar di tahun 2008 menegaskan bahwa kaum minoritas Rohinggas telah hidup di sana sejak dahulu.[10]

Patut dipertanyakan mengapa Pemimpin Myanmar yang juga peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi berdiam diri atas pembantaian Muslim di Rohingya. Patut dipertanyakan, mengapa PBB tidak segera menurunkan pasukan perdamaian atas derita Muslim di Rohingya, dimana banyak di antara mereka harus meregang nyawa di tengah lautan yang ganas hanya tidak ada alternatif lain untuk melarikan diri.

Jika sosok non-Muslim, seperti Dr. Maung Zarni, seorang Buddhis eks warga Myanmar yang sekarang tinggal di Inggris, sangat bersungguh-sungguh bersama istrinya, Alice, sehari-hari aktif menyuarakan aksi genosida perlahan-lahan[11] yang dilakukan Pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya di dunia internasional melalui kajian akademik dan literasi, bagaimana dengan kita kaum muslimin?

Ma’āsyiral Muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Rohingya Kembali Memanggil Kita!

Apa yang terjadi di Myanmar adalah Kejahatan Kemanusiaan (Crime Against Humanity) dan pembersihan etnis dan pemusnahan suku bangsa (Genocide), sebagaimana hasil penelitian pakar Hukum di Indonesia, Heru Susetyo Nuswanto sejak tahun 2008. Rohingya adalah kaum minoritas yang paling teraniaya di dunia (the world’s most persecuted minority), sebagaimana penelitian Lindsey N. Kingston yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.[12]

Jika Barat terlihat tidak terlalu garang atas darurat kemanusiaan yang terjadi di Rohingya, besar kemungkinan karena korbannya adalah Muslim.

Namun, jika Muslim tetap tidak mau tahu dengan persoalan Rohingya, bagaimana kita mempertanggungjawabkan diri di hadapan Ilahi Rabbi?

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hujurāt [49] ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.

Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan kita sebagai umatnya dalam sebuah hadits dengan derajah lemah namun diriwayatkan dari banyak jalur,

مَن لَمْ يهتَمَّ بأمرِ المُسلِمينَ فليس منهم

Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan golongan mereka. (HR. Thabrani dalam Mu’jam ash-Shagir hal. 188)

Ma’āsyiral Muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Rohingya Kembali Memanggil Kita!

Kaum muslimin tidak bisa menggantungkan harapannya kepada para pemimpin Barat dan PBB, karena sepanjang sejarah, kaum muslimin hanya akan dihormati dan berada dalam posisi terhormat hanya jika kaum muslimin bersatu dalam tali keimanan agama Allah, tanpa terbatasi sekat-sekat kenegaraan.

Mari kita dorong pemerintah NKRI yang berdaulat untuk berkontribusi aktif dalam melawan segala bentuk penjajahan di atas muka bumi, menginisiasi terlaksananya pertemuan darurat negara-negara ASEAN, OKI dan PBB khususnya untuk menyelamatkan warga sipil yang tidak bersenjata.

Mari kita ciptakan kebersamaan negeri-negeri kaum Muslimin pada khususnya, dan negeri-negeri pendukung tegaknya kemanusiaan pada umumnya, untuk memberi rasa aman kepada kaum muslimin Rohingya, menekan Pemerintah Myanmar agar mau memberi status kewarganegaraan untuk Muslim Rohingya sebagai bagian integral dari Negara Myanmar yang demokratis, serta membuka keran akses kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Mari kita salurkan shadaqah kita kepada lembaga-lembaga sosial yang kredibel dan amanah untuk membantu kebutuhan kaum muslimin di Rohingya.

Bersama kita satukan hati, satukan fikir dan satukan gerak untuk menyelamatkan saudara kita di Rohingya. [Selesai]

Doa

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ،

اللَّهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُد، ولَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُد، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الجِدَّ بالكُفَّارِ مُلْحِقٌ

Ya Allah kami memohon pertolongan kepada-Mu, beristighfar kepada-Mu dan tidak kufur pada-Mu, kami beriman kepada-Mu dan berlepas dari orang yang bermaksiat kepada-Mu. Ya Allah hanya kepada-Mulah kami beribadah, shalat dan sujud, kepada Engkau kami beramal dan berusaha, kami mengharap rahmat-Mu dan takut akan adzab-Mu. Sesungguhnya adzab-Mu pasti sampai pada orang kafir.

اللهُمَّ أَعِزَّ الإسْلَامَ وَالْمُسلمين، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْن

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُؤْمِنِينَ فِى بورما خَاصَّةً وَفِى أَنْـحَاءِ بُلْدَانِ المْـُؤْمِنِيْنَ عَامّةً

Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, dan hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin. Ya Allah hancurkan musuh-musuh-Mu yang merupakan musuh-musuh agama (Islam).

Ya Allah, selamatkan orang-orang beriman di Burma pada khususnya, dan di negeri-negeri orang-orang beriman lainnya.

أَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْكُفَّارِ وَشُرَكَائِهِمْ وَشَطِّطْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ أَللَّهُمَّ إِهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu atas orang-orang kafir dan sekutu-sekutunya, dan goncangkanlah mereka, dan cerai-beraikanlah kesatuan mereka. Ya Allah, hancurkanlah mereka dan porak-porandakanlah mereka.

(wido/dakwatuna.com)

[1] BBC Indonesia, 05 September 2017.

[2] http://www.oldmapsonline.org/map/rumsey/5075.069, Online, 6 September 2017

[3] Abu Tahay, Rohingya Belong to Arakan and Then Burma and So Do Participate, UNDP, 2013, hlm. 1.

[4] Reuters, 08 Pebruari 2017.

[5] Moshe Yegar, Between Integration and Secession: The Muslim Communities of the Southern Philippines, Shouthern Thailand, and Western Burma/Myanmar, USA: Lexington Books, 2002, hlm. 24.

[6] Ibid.

[7] https://www.economist.com/news/asia/21654124-myanmars-muslim-minority-have-been-attacked-impunity-stripped-vote-and-driven

[8] Moshe Yagar, The Muslims of Burma, A Study of a Minority Group, Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1972, hlm. 27.

[9] The Myanmar Encyclopedia, 1964, vol, 9, hlm. 89-90.

[10] PAHAM, PIARA, Rohingya: Stateless People and Nowhere To Go, 2016, hlm. 10. | Yangon University of Distance Education, 2012. Text Book. Module No. Geog-1004. Geography of Myanmar. Ministry of Education, Department of Higher Education.

[11] http://www.maungzarni.net/2017/06/i-am-deeply-troubled-by-aung-san-suu.html, Online, 6 September 2017.

[12] http://dx.doi.org/10.1080/13642987.2015.1082831, | Lindsey N. Kingston, Protecting the world’s most persecuted: the responsibility to protect and Burma’s Rohingya minority, The International Journal of Human Rights, Volume 19, 2015.

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Anggota Komisi Ukhuwah MUI Pusat | Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor (ppsuika.ac.id) | Peneliti INSISTS (insists.id) | Pendiri Yayasan Adab Insan Mulia (adabinsanmulia.org), Pembina Majelis Iman Islam (manis.id) | Pengurus Pusat BKsPPI (bksppi.org) | Pengurus Pusat Hijrah Center | Pengelola Portal Ukhuwah (ukhuwahislamiyah.org) | Dosen Sekolah Pemikiran Islam ITJ | supraha.com

Lihat Juga

Kebijakan Trump Akui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel Kontraproduktif