Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Idealisme dan Relevansi Ospek Bagi Mahasiswa Muslim: Studi Kasus UI

Idealisme dan Relevansi Ospek Bagi Mahasiswa Muslim: Studi Kasus UI

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (depoknews.id)

dakwatuna.comOrientasi pengenalan kampus atau yang biasa disebut ospek adalah kegiatan yang umumnya menjadi momen pertama mahasiswa baru dalam menyelami kehidupan kampus. Selain syarat untuk mendapatkan IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa) Aktif, ospek juga menjadi ajang penentu keberlangsungan hidup mahasiswa selanjutnya. Mulai dari memperoleh peer group, link dengan senior yang strategis, maupun kepanitiaan dan organisasi yang diikuti di waktu kemudian. Meskipun di tengah jalan sangat mungkin terjadi dinamika dan perubahan haluan, namun peran ospek cukup besar dalam mempengaruhi pikiran dan lingkungan mahasiswa baru.

Bagi mahasiswa baru muslim, menjadi penting bagi mereka untuk memperoleh rangkaian kegiatan orientasi agama yang umumnya berupa mentoring wajib untuk waktu yang telah ditentukan hingga seminar atau talkshow bersama alumni atau tokoh inspiratif. Pertanyaannya, penting bagi siapakah? Kepentingan mahasiswa baru yang bisa diukur pertama kali adalah untuk memperoleh IKM Aktif. Meskipun banyak yang berniat belajar, namun naif sepertinya jika tidak mempertimbangkan hal yang menjadi kebutuhan primer mahasiswa baru yaitu IKM Aktif.

Sejatinya, dari sudut pandang senior, rangkaian orientasi agama diadakan untuk mengenalkan bahwa di dunia kampus pun tetap perlu melanjutkan belajar agama Islam. Melalui orientasi agama yang tentunya secara langsung maupun tidak memperkenalkan Lembaga Dakwah, LD menyediakan wadah untuk belajar bersama-sama meningkatkan kapasitas beragama. Selain itu, juga untuk mensyiarkan bahwa perlu adanya penjagaan di lingkungan yang lebih heterogen karena remaja seusia mahasiswa umumnya adalah usia remaja yang mudah dipengaruhi. Oleh karena itu perlu adanya designed environment sebagai wadah untuk menyebarkan kebaikan dan mencegah terbawanya kepada arus keburukan. Lebih dari semua itu, untuk memperkenalkan bahwa semua muslim itu bersaudara. Saudara seiman. Ada ikatan yang sangat kuat melebihi ikatan apapun yakni ikatan aqidah. Harapannya, senang dan susah menjadi tanggungan bersama. Kehidupan setidaknya empat tahun di dunia perkuliahan bukanlah hal yang sederhana karena itu tentu saling membutuhkan satu sama lain. Kepentingan ini yang kurang terkomunikasikan dengan baik antara senior sebagai penyelenggara dan junior sebagai peserta.

Menjadi hal yang berulang-jika tidak ingin dikatakan umum-bahwa peserta orientasi agama Islam menjadi hal yang dikesampingkan oleh sebagian mahasiswa baru. Untuk kebanyakan fakultas di UI, orientasi agama adalah gabungan rangkaian seminar atau talkshow dengan dauroh awal fakultas (DAF) yang bersifat wajib bagi mahasiswa baru muslim. Namun untuk sebagian lainnya, orientasi agama dan dauroh awal fakultas dipisahkan. Dipisahkan atau tidak, keduanya sama-sama memiliki kecenderungan untuk dikesampingkan.

Jika penyelenggara tahun ini tidak melihat data bertahun-tahun sebelumnya, secara umum mahasiswa 2015 atau 2014 sekadar berkaca pada paling banyak tiga tahun lalu. Atau jika memang berkaca pada masa pertama kali diadakannya orientasi berbasis dauroh, hanya sebatas melihat titik awal dan titik terakhir yaitu sekarang. Lalu refleksi dan evaluasi kemudian berakhir pada

Dahulu dauroh memiliki masa kejayaan
Namun kini tidak lagi
Selesai.

Kejayaan itu cenderung dianggap sebagai siklus yang hanya ditunggu untuk kembali datang. Mahasiswa memiliki kecenderungan berkaca pada tahun lalu. Meneruskan program dakwah yang sama, dengan teknis yang tidak jauh berbeda. Padahal, memandang suatu program kerja atau program dakwah sebaiknya tidak hanya dengan melihat evaluasi, tetapi juga melihat idealisme dan relevansi. Terlebih jika fenomena yang ada sudah terjadi bertahun-tahun. Ada dua kemungkinan ketika suatu program menurun dan tidak terjadi peningkatan signifikan dalam waktu yang panjang, apalagi jika di awal memiliki masa kejayaannya. Pertama, program tersebut tidak lagi relevan. Bisa jadi, ada kegiatan lain yang sudah atau menyerupai kebutuhan yang “dijual” atau kebutuhan masyarakat kini sudah berbeda. Kalau dalam istilah ekonomi, tidak terjadi equilibrium atau bertemunya kurva permintaan dan kurva penawaran.

Bayangkan bagaimanapun hantaman ombaknya, LD akan selalu ada, program akan terus berjalan. Mengapa? Penghapusan program tentu bukan perkara mudah. Apalagi ada niat luhur dan ekspektasi besar dari para pendahulu. Idealnya, penggenggam amanah masa kinilah yang selayaknya menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Umumnya, program itu bersifat fleksibel. Tujuan tetap sama, hanya caranya menyesuaikan era. Namun, dengan berbagai kendala yang ada, selain permintaan pasar, memang ada kemungkinan program dakwah tidak lagi relevan dan lebih mendatangkan maslahat jika tidak dilanjutkan. Seperti program-program yang cenderung hanya memberikan manfaat untuk internal anggota organisasi atau bahkan tidak terlalu bermanfaat bahkan untuk internal. Hal ini dapat diketahui dari riset yang umumnya dilakukan oleh biro penelitian dan pengembangan.

Saat ini, umumnya di perusahaan-perusahaan besar, R&D atau Research and Development adalah divisi yang paling banyak memakan anggaran, yaitu sekitar dua puluh hingga tiga puluh persen. Hal ini menunjukkan bahwa peran riset sangat berarti bagi penentu langkah dan kebijakan sebuah perusahaan. Hal ini dapat diaplikasikan dalam pengelolaan sebuah organisasi. Apalagi mengingat masa kepengurusan organisasi umumnya adalah satu tahun, yang mana setiap tahun memiliki tantangan yang berbeda maka dibutuhkan riset yang semakin berkembang. Selain riset di awal masa kepengurusan, perlu dilakukan evaluasi melalui kuesioner untuk mengukur kepuasan dari peserta yang terlibat ataupun tidak dalam pelaksanaan suatu program dakwah. Validitas suatu kuesioner pun perlu diperbarui, seperti diperbanyak kolom untuk menulis kritik dan saran, penjelasan indikator angka (misalnya satu hingga lima) menandakan kriteria apa saja. Hal ini bertujuan untuk memperjelas penilaian angka agar angka-angka yang ada dapat diterjemahkan secara jelas dan tepat sasaran.

Kehidupan mahasiswa, kehidupan makhluk-makhluk intelektual yang lingkungannya tak lepas dari orang-orang yang memiliki intelektual yang lebih tinggi dan diakui seperti dosen dan profesor. Kehidupan makhluk-makhluk intelektual yang hari-harinya tak lepas dari tugas paper, penelitian, bahkan syarat untuk meraih gelar sarjana adalah dengan melakukan penelitian. Meski tak selalu dengan skripsi, tetapi dapat dikatakan bahwa setiap mahasiswa pasti pernah melakukan penelitian. Kehidupan jenis inilah yang selayaknya diaplikasikan dengan tepat dalam berorganisasi. Merancang, menentukan langkah, mengambil kebijakan, segalanya dilakukan dengan melakukan penelitian di awal, pengawasan di perjalanan, dan evaluasi di akhir. Kini, penelitian adalah cara yang terbilang cukup signifikan dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi. Maka peluang mahasiswa muslim dengan lingkungan yang kondusif ini sangat menguntungkan untuk mengembangkan keberhasilan suatu organisasi, tak terkecuali bagi lembaga dakwah dan program-programnya, terutama dalam pelaksanaan orientasi. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Syifa Aziza
Kelahiran Bogor tahun1996. Pernah menempuh pendidikan di At Taufiq Bogor dan Insan Cendekia Serpong. Saat ini menjadi mahasiswi jurusan Bisnis Islam FEB UI 2015 dan menjalani pembinaan di Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta. Memiliki hobi terkait kepenulisan dan desain grafis serta ketertarikan di bidang pengetahuan Islam, ekonomi, dan sosial politik.

Lihat Juga

Putra Mahkota Arab Saudi dalam Pusaran Konflik Teluk

Organization