Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Jum'at / Khutbah Jum’at: Nestapa Palestina pada Hari Bumi

Khutbah Jum’at: Nestapa Palestina pada Hari Bumi

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٍ. اَلَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَياَةَ ليَِبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ. أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له الذى هدانا وانعمنا بالاسلام وامرنا بالجهاد ونور قلوبنا بالكتاب المنير. واشهد ان محمدا عبده ورسوله الذى بلغ الرسالة وادى الامانة ونصح الامة برسالته الخالدة رحمة للعالمين فى ايامنا هذا وفى يومئذ يوم عسير على الكافرين غير يسير. اللهم صل وسلم على هذا النبى الكريم محمد بن عبدالله وعلى اله واصحابه اجمعين.

اما بعد :

فَيَا عِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ

فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS Al-Maidah [5]: 82)

Pada kesempatan yang mulia ini, Al-Faqir (Khatib) mengingatkan diri sendiri juga kepada para jamaah sekalian, agar kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Karena, ketakwaan adalah sebaik-baik bekal bagi kita dalam mengarungi kehidupan di dunia menuju Akhirat kelak.

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Peringatan Hari Bumi adalah seperti membaca sejarah tentang tragedi yang menimpa bangsa Palestina. Bumi yang dimaksud adalah tempat tinggal. Memperingati Hari Bumi (bagi bangsa Palestina) artinya memperingati tempat tinggal yang hilang. Inilah kondisi yang dirasakan oleh warga Palestina yang hidup di bawah penjajahan Israel puluhan tahun lamanya.

Semua bermula dari pendudukan yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap tanah Palestina. Sejak orang-orang Yahudi didatangkan oleh Inggris, sejengkal demi sejengkal tanah warga petani Palestina diambil paksa. Hal itu terjadi pada saat kekuatan Turki Utsmani yang menjadi payung bagi Palestina melemah dan pada akhirnya runtuh. Kemudian, dengan dukungan Inggris, Zionis berani mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara bernama Israel.

Selanjutnya, kekejaman Zionis Israel semakin menjadi-jadi, tanah dan hasil bumi rakyat Palestina dirampas, rakyat dibantai dan diusir dari tanah kelahirannya. Aksi kekejaman Israel sulit dihindari. Inggris dan Zionis Israel bahu-membahu memadamkan aksi perlawanan Palestina dengan beragam cara yang kejam. Ribuan nyawa rakyat tak berdosa akhirnya melayang.

Itulah penjajahan yang dilakukan oleh Zionis Israel. Penjajahan yang kekejamannya tak pernah terbayangkan dalam sejarah dunia. Mereka telah merebut tanah sebuah peradaban, mengusir sejumlah besar penduduknya, mengosongkan kota-kotanya, menggusur pemakaman, masjid, sekolah dan berbagai sarana lainnya. Zionis Israel berupaya keras untuk menghilangkan identitas asli bangsa Palestina.

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Sejak pertama kali penjajahan terjadi di bumi Palestina, rakyat tidak pernah gentar. Mereka mengorbankan segalanya untuk mempertahankan tanah suci warisan umat Islam itu. Rakyat Palestina lebih memilih berhadapan dengan penjajah yang bersenjata lengkap daripada hidup di bawah penjajahan. Harta hingga jiwa mereka korbankan demi mendapatkan kemerdekaan.

Sejengkal demi sejengkal tanah Palestina telah dikuasai Zionis Israel. Tercatat sejak tahun 1948 hingga 1972, ada satu juta hektare tanah milik rakyat Palestina yang berhasil mereka rampas. Kondisi buruk ini terus meningkat setiap tahunnya. Israel tak henti-henti memperluas wilayah tanah jajahan mereka. Di antara puncak dari penderitaan rakyat Palestina terjadi pada tahun 1976, yang kemudian mencapai klimaksnya pada hari Sabtu, 30 Maret 1976.

Setelah menderita selama 28 tahun di bawah penindasan dan beragam kezaliman, rakyat Palestina bersatu-padu melakukan perlawanan. Mereka menuntut dikembalikannya tanah yang dirampas. Beragam aksi dilakukan, seperti aksi mogok massal dan demonstrasi turun ke jalan. Demonstrasi yang dilakukan tidak berjalan mulus karena Israel menghadang dan melawan aksi tersebut secara brutal. Penghadangan itu menyebabkan lokasi demonstrasi seketika berubah menjadi lautan darah. Timah panas tentara Israel menembus tubuh para demonstran. Sedikitnya ada enam orang Palestina tewas, puluhan orang terluka dan lebih dari 300 orang ditangkap dalam peristiwa naas itu.

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Warga Palestina hingga kini masih kehilangan tanahnya. Oleh karena itu, perjuangan mengembalikan hak-hak mereka sebagai pemilik Palestina seutuhnya adalah sebuah kewajiban dalam membela kebenaran. Ada 2/3 warga Palestina dengan status terusir dari tanah kelahirannya. Rakyat Palestina harus mendapatkan kembali tanah mereka yang dirampas oleh Israel. Ini merupakan hal mutlak yang harus dipahami dalam mencari solusi atas konflik di Palestina. Menyerah dan pasrah atas penjajahan Israel tidak akan menghadirkan kedaulatan dan keadilan di Palestina.

Ironisnya, saat ini penjajah Israel sudah menguasai 85% tanah Palestina. Artinya, pemilik asli tanah,yaitu warga Palestina, hanya mendapatkan sisanya, yaitu 15% saja. Kondisi menyedihkan ini berlangsung hingga sekarang dan disaksikan jutaan pasang mata masyarakat dunia. Melihat hal ini, di manakah mereka yang selama ini meneriakkan keadilan dan membela HAM?

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Seyogianya, Hari Bumi bukan sekadar peringatan akan nestapa yang dialami rakyat Palestina. Namun, menjadi momen bersama untuk menyeru nurani umat manusia agar membantu dan membela bangsa yang masih terjajah dan dirampas tanahnya,agar kembali mendapatkan hak mereka dan hidup merdeka. Memenuhi seruan kemanusiaan ini merupakan sebuah kemestian, bahkan kewajiban antarsesama mukmin, karena sesama mukmin adalah saudara. Allah SWT berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara….” (QS Al-Hujurat [49]: 10)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالْحِكْمَةِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

Penulis: Ustadz Iskandar Samaullah, S.Sos

Advertisements

Redaktur: Muh. Syarief

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Muh. Syarief
Wakil Direktur Studi Informasi Alam Islami (SINAI) Mesir 2008

Lihat Juga

Zionis Israel Nekat Bangun Tembok di Perbatasan Jalur Gaza