Topic
Home / Berita / Opini / Cabai Naik, Rakyat Makin Tercekik

Cabai Naik, Rakyat Makin Tercekik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi.

dakwatuna.com – Pergantian tahun, baru saja berlalu kurang lebih dua minggu. Rajutan harapan kembali digantungkan rakyat, agar setidaknya mendapat penghidupan yang lebih baik di 2017 ini, terlebih di bidang ekonomi. Namun ibarat kata jauh panggang dari api, kejutan demi kejutan tampaknya semakin gencar disuguhkan oleh para petinggi negeri. Mulai dari naiknya tarif dasar listrik, harga BBM, tarif pembuatan tetek bengek surat perlengkapan kendaraan bermotor, sampai pada harga cabai pun turut mengalami lonjakan. Berkisar Rp 100.000/kg dari harga semula hanya sekitar Rp 40.000. Bahkan di Pasar Kebayoran Lama, harga cabai sudah setara dengan harga daging per kilogramnya, yakni Rp 120.000. Di wilayah Kalimantan jauh lebih memprihatinkan, Rp 200.000/kg. Deretan angka yang terlalu fantastis untuk bahan pangan sesederhana cabai. Lebih ironis lagi, kenaikan tersebut nyatanya tidak memiliki dampak apapun bagi para petani cabai di Magelang. Bukannya meraup untung, mereka pun turut merasakan ‘buntung’.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah melalui Jokowi selaku Presiden memberikan mandat kepada seluruh kabinet untuk bekerja sama dalam menurunkan kesenjangan di awal tahun ini. Di bidang pangan khususnya, Presiden meminta untuk memangkas rantai tengkulak dengan sistem IT. Namun perlu diketahui bahwa hal tersebut bukan lagi sesuatu yang baru. Solusi serupa bahkan pernah diterapkan sebelumnya namun nyatanya tetap tidak memberikan efek apapun. Rakyat kembali dipaksa menikmati lonjakan demi lonjakan secara berulang.

Lebih mencengangkan lagi, Menteri Perdagangan justru menawarkan solusi untuk menanam cabai sendiri. Alternatif lain juga disampaikan, yakni dengan mengonsumsi cabai yang sudah dikeringkan. Dua solusi yang disuguhkan sekilas memang terasa menentramkan, namun begitu rancu ketika dicermati. Menteri Perdagangan seolah lepas dari tanggung jawabnya sebagai pengatur perekonomian perdagangan. Rakyat seolah diminta untuk mengatasi problematikanya sendiri.

Bisa dikatakan bahwa melonjaknya harga barang disebabkan tingginya permintaan pasar yang tidak diimbangi oleh hasil produksi (dalam hal ini panen). Namun perlu diingat pula, bahwa sebenarnya Indonesia ini adalah negara agraris yang sarat akan julukan ‘gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Sebuah ungkapan yang menggambarkan keadaan bumi pertiwi berkat kekayaan alam yang melimpah dan keadaan yang tenteram. Oleh karena itu, kelangkaan semacam ini seharusnya tidak mungkin terjadi jika pemerintah jeli dan serius dalam mengatur manajemen penanaman cabai yang berkesinambungan. Fasilitas pasca panen semestinya juga menjadi fokus perhatian pemerintah.

Terkait meningkatnya harga barang ini, Islam dengan kesempurnaan dan keparipurnaan yang ada di dalamnya juga mengatur bagaimana seharusnya seorang pemimpin mengatasi problematika satu ini. Pemberlakuan sanksi secara tegas benar-benar akan dilakukan kepada oknum yang sengaja melakukan penimbunan barang. Yang secara tidak langsung berpengaruh pada tidak imbangnya jumlah persediaan dan permintaan.

Pematokan harga yang biasa dilakukan oleh pemerintah juga tidak dibenarkan menurut sistem ekonomi Islam. Karena meski sekilas tampak membantu rakyat menjangkau harga pasar suatu barang, pada dasarnya pemilihan kebijakan ini hanya akan berujung pada menurunnya daya beli mata uang itu sendiri. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Kedamean, Gresik.

Lihat Juga

Pemimpin adalah Cerminan Rakyat

Figure
Organization