Home / Berita / Opini / Surat Nabi Yusuf untuk Habib Rizieq

Surat Nabi Yusuf untuk Habib Rizieq

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Habib Muhammad Rizieq Shihab, imam besar Front Pembela Islam (FPI). (FOTO ANTARA/Rosa Panggabean/ss/Spt/10)

dakwatuna.com – Di dalam Al-Quran, terdapat satu surat yang isinya full dengan kisah satu tokoh, Surat Yusuf.

Di akhir surat, terdapat sebuah penegasan tentang fungsi kisah-kisah yang diceritakan Al-Quran maupun cerita yang dikisahkan oleh yang lainnya.

Ayat tersebut artinya, “Sungguh pada kisah mereka terdapat ibrah bagi orang-orang yang memakai akalnya…” (Yusuf: 111)

Setelah Allah berkisah panjang lebar, maka Allah beri tahu manusia kenapa Allah bercerita. Tidak lain adalah untuk suatu ibrah.

Ibrah dalam bahasa Arab berasal dari tiga huruf: ain-ba’-ra. Dari tiga huruf ini bisa kita buat kata: Mi’barah yang artinya jembatan.

Jembatan adalah alat penyebrangan. Membantu manusia untuk melewati satu rintangan dari satu titik menuju titik yang lainnya. Dari satu daratan ke daratan yang lainnya.

Begitu pula dengan kisah, Allah jadikan “Ibrah” supaya manusia yang mau menggunakan akalnya bisa menyeberangi masa. Terbang dari masa dan tempat ia berpijak, menuju ratusan bahkan ribuan tahun ke belakang untuk melihat kejadian apa yang pernah terjadi.

Setelah itu, ia simpulkan dari apa yang ia lihat dalam kisah tersebut sebuah nilai dan pedoman hidup yang terangkum dalam hukum sebab-akibat, dengan tujuan agar ia tidak terjatuh pada kesalahan orang yang pernah jatuh dalam jurang. Supaya ia mendapatkan ibrah jangan sampai terkena petaka karena kesalahan yang sama dengan orang-orang yang terazab.

Surat Yusuf memuat banyak kisah. Dimulai dengan kisah mimpinya melihat matahari, bulan dan bintang; kisah kecemburuan saudara-saudaranya; kisah persekongkolan jahat; kisah pembunuhan karakter dengan menghilangkan objek (sumur); kisah akting di depan Nabi Ya’qub; Kisah rombongan dagang; dan seterusnya.

Hari ini kita melihat, episode-episode permulaan kisah Yusuf tersebut terulang lagi.

Kali ini yang menjadi aktor adalah umat Islam yang disimbolkan pada sosok Habib Rizieq, penguasa dan cukong.

Marilah kita mulai kisah Nabi Yusuf abad modern. Barangkali ada kecocokan yang membuat kita tersenyum ketika kalimat “The End” muncul di lembaran akhir sejarah bangsa abad 21 ini.

Kisah ini berawal dari kecemburuan kaum barat yang tersimbolkan pada diri orang-orang kafir terhadap orang Islam. Sebagaimana Saudara Yusuf terhadap Yusuf.

Kecemburuan tersebut karena melihat umat Islam sebagai umat terakhir yang memiliki risalah paripurna. Didukung dengan letak geografis yang di dalamnya mengandung berbagai macam mineral bumi.

Karena kecemburuan tersebut, akhirnya mereka berkomplot untuk menghabisi umat Islam. Mulailah mereka melakukan ekspedisi ke negeri-negeri muslim kemudian menjajah penduduknya.

Di saat terjadinya penjajahan fisik dan non fisik tersebut, muncul sosok Habib Rizieq yang teriakannya menggaung mengusik kapitalisme cukong-cukong China, Komunisme penguasa dan sekularisme orang-orang yang gila popularitas.

Merasa terganggu, mereka pun ingin memasukkan Habib Rizieq ke penjara. Sebagaimana mereka ingin memasukkan Yusuf dalam sumur.

Sukmawati melaporkan Habib Rizieq karena statemen sang Habib yang dinilai melecehkan Pancasila Soekarno.

PEMKRI melaporkan Habib Rizieq dengan tuduhan Sang Habib telah melecehkan teologi umat Nasrani.

JMAF melaporkan Habib Rizieq dengan tuduhan penghasutan terkait Palu-Arit dalam lambang uang baru Bank Indonesia.

Seorang anggota LINMAS melaporkan Habib Rizieq terkait statemen otak jendral-otak hansip.

Para pelapor tersebut telah mewakili orang-orang seluruh dunia untuk menghabisi Habib Rizieq. Sedunia…

Keempatnya, dibantu dengan media masa gila yang jor-joran membuat berita hoax.

Media mereka yang membuat berita palsu, media kita yang dituduh sebagai pelaku hoax. Media kita pun akhirnya kena blokir.

Model-model berita tersebut meniru gaya saudara Yusuf yang mendatangi Ya’qub dengan terseduh-seduh sembari menyodorkan baju Yusuf berlumur darah binatang.

Lihatlah, betapa cantiknya media mainstream berakting laiknya bintang Hollywood.

Mereka pun gunakan instrumen-instrumen pendukung agar kelihatan berita mereka adalah fakta. Persis seperti Saudara Yusuf yang melumuri baju Yusuf dengan darah binatang: Barang bukti palsu, instrumen palsu. Pencitraan.

Sampai hari ini, kisah Habib Rizieq dan umat Islam baru sampai di sini. Kita lanjutkan kisahnya, sampai perdagangan manusia, pencara, fitnah zina, hingga duduk manis di singgasana.

Entah Habib Rizieq yang akan memegang tampuk kekuasaan, atau orang lain dari umat Islam, dan orang-orang komunis tersebut bersujud-sujud meminta ampunan, meminta amnesti politik. Ja`al haqqu wazahaqal bathil, innal bhatila kana zahuqa.

Wallahu galibun ‘ala amrihi, walakinna aktsaran nasi la ya’lamuun. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,86 out of 10)
Loading...

Alumni Ponpes Maskumambang Gresik, Jatim. Kader Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jakarta.

Lihat Juga

Surat “Cinta” untuk Saudaraku, Buni Yani: Innallaha Ma’ana