Home / Berita / Nasional / Ulama Pulau Seribu Hadiri Sidang Penodaan Agama

Ulama Pulau Seribu Hadiri Sidang Penodaan Agama

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – (18/01) Habib Zein Maula ‘Aidid salah satu ulama pulau seribu menghadiri sidang penodaan agama dengan terdakwa BTP alias Ahok dimana kehadiran Habib Zein ingin meneguhkan bahwa sebagian besar masyarakat pulau seribu menolak pernyataan Ahok yang sudah menodai agama Islam.

Dalam keterangannya Habib Zein menyampaikan masyarakat pulau seribu yang hadir ketika terdakwa menyampaikan sambutannya hanya yang mendapatkan undangan saja, sedangkan kami tahu ada penodaan agama setelah melihat dari Yotube dan ramai di media terkait penodaan agama tersebut.

Saya sebagai ulama di Pulau Seribu keberatan dengan pernyataan Ahok yang menyinggung Alquran khususnya Al-Maidah ayat 51, beliau kan bukan orang Islam kenapa menyinggung kitab suci kami umat Islam ini yang kami keberatan papar ulama yang disegani di pulau seribu.

Habib Zein menyampaikan mendukung persidangan penodaan agama atas nama terdakwa Ahok dan agar terdakwa segera di tahan dan di hukum.

Kehadiran Ulama dan masyarakat Pulau Seribu dalam persidangan kali ini menjawab pertanyaan yang selama ini tentang sikap masyarakat pulau seribu yang tidak tampak ke permukaan ungkap Nasrulloh Nasution koordinator persidangan Tim Advokasi GNPF MUI.

Akhirnya jelas sikap masyarakat pulau seribu terkait penodaan agama ini, dengan kehadiran masyarakat pulau seribu memberikan dukungan atas persidangan ini maka sudah jelas dan terang sikap masyarakat pulau seribu, tegas Nasrulloh dalam keterangannya.

Polisi Dicecar Hakim dan Jaksa dalam Sidang Kasus Penodaan Agama

Petugas SPK Polresta Bogor, Ahmad Kurniawan, hari selasa (17/01) dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan pemeriksaan Perkara Dugaan Tindak Pidana Penodaan Agama dengan Terdakwa Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok di Gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan.

Polisi yang telah berdinas 7 tahun tersebut dicecar berbagai pertanyaan oleh Majelis Hakim dan Tim Jaksa terkait adanya kekeliruan penulisan waktu kejadian (tempoes delicti) dalam Laporan Polisi (LP) No. 1134 yang dibuat oleh saksi atas nama Pelapor Wilyudin. Saksi bahkan oleh salah satu Anggota Majelis Hakim ditanya mengenai salahnya saksi dimana karena waktu kejadian yang tertulis dalam LP lebih dulu dari waktu kejadian di Kepulauan Seribu tanggal 27 September 2016.

Saksi membenarkan bahwa pengetikan LP 1134 copypaste terhadap LP sebelumnya dan hanya mengganti-ganti saja mengikuti format LP yang sudah ada. Pada saat mengetik LP, saksi juga membenarkan tidak mencocokkan hari dan tanggal kejadian dengan kalender yang ada di ruangannya.

Nasrulloh Nasution, Ketua Tim Persidangan GNPF MUI yang hadir dalam ruang sidang menyampaikan bahwa seharusnya Polisi yang bertugas di bagian SPK adalah polisi yang profesional. Saksi harusnya lebih teliti dalam mengetik LP yang dibuat masyarakat. Jangan hanya jadi Juru Ketik saja tanpa cek dan ricek. ” Pelapor sudah mencoret dan minta diperbaiki kesalahan tulis bulan dari September menjadi Oktober kok, tapi Polisinya gak merubah, jadi semakin kelihatan kan ketidakprofesionalannya”, ujarnya.

Advokat yang akrab dipanggil Nasrulloh ini memastikan bahwa saksi telah mengakui ada 2 waktu kejadian yang dilaporkan Pelapor yaitu 27 September 2016 di Kepulauan Seribu terkait Penistaan Agamanya dan 6 Oktober 2016 di Bogor terkait waktu Pelapor menyaksikan video di Youtube. Menurutnya semakin jelas kebenaran materiilnya, jadi persoalan kekeliruan Polisi menuliskan bulan di dalam LP dapat dikesampingkan oleh Majelis Hakim.

Apalagi dalam persidangan terungkap Pelapor telah menyerahkan kronologis tertulis kepada saksi sebagai panduan pengetikan LP. “Dalam kronologis sudah jelas tertulis 06 Oktober 2016, jadi perlu ditanyakan alasan kepada Polisi tersebut mengapa menulis 06 September 2016 “, pungkasnya.(nn/ha/sb/dakwatuna.com)

 

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

Di Mauritania, Ratusan Tokoh Agama Mendesak Pusat Pendidikan Ulama Dibuka Kembali

Organization