Topic
Home / Narasi Islam / Ekonomi / Ekonomi Islam vs Ekonomi Kapitalis

Ekonomi Islam vs Ekonomi Kapitalis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ekonomi Islam – Inet

dakwatuna.com – “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja, lalu dia berkata, “Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.” (QS shad [38]:23)

Ilustrasi ini diambil dari sebuah buku karya Muhaimin Iqbal yang berjudul “Kambing putih bukan kambing hitam”. Ceritanya adalah tentang perbedaan nyata antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi kapitalis. Ilustrasi yang mewakili penjelasan terkait ancaman kapitalisme dan peluang ekonomi Islam.

Alkisah ada dua orang yang berjalan di tengah hutan. Orang pertama bertanya pada orang kedua: “Seandainya tiba-tiba ada harimau datang mau menerkam kita, apa yang akan engkau lakukan?” Yang kedua menjawab: “Saya akan berlari kencang mengalahkanmu!”

Orang pertama heran dengan jawaban yang mengagetkan tersebut, lalu bertanya lagi: “Mengapa engkau hanya akan berlari mengalahkanku?”. Yang kedua menjawab: “Iya karena bila aku dapat berlari mengalahkanmu, harimau akan cukup puas dengan menerkammu dan tidak perlu lagi mengejarku!”.

Kemudian orang kedua ganti bertanya: “Kalau kamu sendiri bagaimana?”, orang pertama menjawab: “Kalau saya akan mengajakmu bersama-sama menghadapi harimau tersebut. Karena harimau hanya akan menerkam dari belakang, strategi kita adalah kita padukan punggung-punggung kita, sehingga darimanapun dia datang, dia akan menghadapi salah satu wajah kita. Dia tidak akan berani menerkam kita”.

Tahukah anda siapa tokoh dari ilustrasi diatas? Yang pertama adalah ekonomi Islam sedangkan yang kedua adalah ekonomi kapitalis. Dalam prinsip ekonomi Islam ada istilah laa dharara wa laa dhirara yang artinya kurang lebih tidak membahayakan diri sendiri dan tidak pula membahayakan orang lain. Dalam ekonomi kapitalis berprinsip pada survival of the fittest, sebuah prinsip yang bermakna tidak apa membahayakan orang lain asalkan diri sendiri selamat. Tidak apa mengambil ‘kambing’ satu-satunya milik orang lain, meskipun kambingnya sendiri sudah 99 ekor. Seperti yang tercantum dalam ayat di atas.

Jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini,  sebagian besar dari kita adalah pemilik seekor kambing tersebut. Rata-rata kita hanya memiliki satu sumber penghasilan; gaji dimana tempat kita bekerja. Lantas siapa pemilik 99 ekor kambing tersebut? Mereka adalah para pemilik modal besar di Indonesia dalam berbagai sektor.

Dapat kita ambil salah satu contoh yaitu dalam sektor ekonomi; konsumsi. Berdasarkan data BPS, terdapat peningkatan impor golongan barang konsumsi sebesar 12,80 persen sepanjang Januari-September 2016. Ini menandakan bahwa produk lokal tidak mampu bersaing dengan produk luar, salah satu faktor penyebabnya dari sisi permodalan.

Dengan prinsip yang sama tentunya akan mengancam sektor ekonomi lainnya. Namun disisi lain, dalam sektor kesehatan telah dikeluarkanya fatwa baru mengenai rumah sakit syariah. Tentunya ini menjadi peluang besar bagi para pejuang ekonomi syariah. Di tengah peluang dan ancaman ini kita harus dapat memosisikan diri sebaik mungkin, dan perlahan akan menegakkan ekonomi Islam di Negeri ini.

Lantas bagaimana seharusnya para pejuang ekonomi Islam bertindak di negeri penduduk mayoritas muslim ini? Jawabannya adalah persis seperti strategi yang dilakukan orang pertama dalam ilustrasi diatas. Kita harus dapat melihat dan menghadapi ancaman kapitalisme bersama. Darimanapun datangnya ancaman, kita harus selalu sigap menghadapinya. Bagaimana implementasinya? Yaitu dengan mulai menjauhi seluruh sektor yang bersentuhan dengan kapitalis. Misal: perbankan konvensional, asuransi konvensional, pasar modal, bahkan telekomunikasi dan media pun harus kita waspadai. Rubah perlahan dengan prinsip ekonomi Islam.

Langkah konkrit dimulai dari diri sendiri. Karena bagaimana kita bisa mengajak orang lain apabila kita sendiri tidak melaksanakannya? Ibarat seorang calo bus yang hanya menyuruh penumpang untuk naik namun ia sendiri tidak ikut naik. Mari mulai dari hal sederhana seperti mengkonsumsi produk dalam negeri yang halal dan seperlunya bila posisi kita sebagai konsumen, menjalankan bisnis dengan prinsip Islami bila kita sebagai produsen. Dengan demikian, minimal kita dapat mempertahankan satu-satunya kambing yang kita miliki dan perlahan akan menggeser kapitalisme dari dalam Negeri. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa Akuntansi Syariah sekaligus penerima manfaat beasiswa EKSPAD (Ekonomi syariah pelopor pembangunan daerah) di STEI SEBI Depok. Aktif dalam organisasi Islamic Economics Forum (IsEF SEBI). Mempunyai motto hidup “Pelaut yang hebat tidak dilahirkan di laut yang tenang”.

Lihat Juga

Seminar Nasional Kemasjidan, Masjid di Era Milenial

Figure
Organization