Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengenal Syukur

Mengenal Syukur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Kata syukur sangat tidak asing didengar. Akan tetapi, banyak dari kita memaknai syukur hanya salah satu jalan untuk menambah rizki saja. Atau sebatas cara mengapresiasi karunia-Nya yang sudah diberikan kepada kita. Bahkan dalam penerapan syukur sebagai salah satu cara menambah rizki ataupun cara pengapresiasi atas karunia-Nya masih terdapat banyak kesalahan. Mayoritas dari kita belum mengetahui makna syukur sebenarnya dan cara penerapannya yang benar sesuai keinginan-Nya.

Kata syukur diambil dari bahasa arab, asy-syukr yang berarti membuka dan menunjukkan (transparan and show). Sedangkan secara istilah syariat ialah menunjukkan kebaikan Allah (sebagai pemberi nikmat) dan menggunakan nikmat itu untuk pekerjaan yang direkomendasikan-Nya. Sebagaimana perkataan Nabi Sulaiman yang terdapat dalam Surat An- Naml ayat 40 yang berbunyi “… Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Lawan dari kata syukur adalah kufur. Kufur menurut bahasa arab diambil dari kata kafara yang artinya menutupi. Berarti secara istilah syariat, kufur ialah menutupi kebaikan Allah (sebagai pemberi nikmat) dan tidak menggunakan nikmat itu untuk pekerjaan yang direkomendasikan-Nya atau mendustakan Allah sebagai pemberi nikmat. Allah menjelaskan hal ini melalui perkataan Qarun yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Qoshosh ayat 78, Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberikan harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Sehingga jika syukur itu diartikan membanggakan Allah, maka kufur itu membanggakan diri atau kelompok. Jika syukur berarti menggunakan nikmat sesuai rekomendasi Allah maka kufur ialah menggunakan nikmat sesuai rekomendasi selera diri atau kelompok. Maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa syukur berarti menunjukkan kebaikan Allah sebagai pemberi rizki dan menggunakan apa yang Allah berikan sesuai rekomendasi-Nya dan lawan kata dari syukur ialah kufur yang memiliki arti kebalikan dari pengertian syukur diatas.

Banyak kekeliruan yang terjadi di masyarakat dalam memahami syukur ini. Masyarakat menganggap syukur itu berpesta pora sehingga ketika mengadakan walimah pernikahan sebagai bentuk rasa syukur mereka menyelenggarakan walimah yang mewah, dengan anggaran yang luar biasa. Ada juga yang melakukan ritual membuang hasil panen yang berlimpah ke laut sebagai ungkapan rasa syukur. Padahal jelas ini merupakan tindakan mubazir yang sangat bertentangan dengan bersyukur. Ada lagi yang bersyukur dengan membanggakan kemampuan dirinya, menganggap semua terjadi atas kemampuan dan kehebatan dirinya sehingga ia bebas bertindak semaunya. Dan banyak lagi kesalahpahaman masyarakat dalam bersyukur. Lantas bagaimana cara bersyukur yang benar?

Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur. Terdapat banyak dalil untuk perintah syukur ini salah satunya tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 152, “Maka bersyukurlah kalian dengan nama-Ku, lalu bersyukurlah kalian dengan nikmat-Ku, dan janganlah kalian kufur.” Dalam Ilmu Tasawuf dijelaskan, ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur. Selalu tanamkan keyakinan bahwa semua nikmat yang kita dapatkan datangnya dari Allah. Atas izin Allah. Sehingga tidak terlintas sedikitpun dalam pikiran untuk membanggakan diri. Selalu memuji Allah karena kuasa-Nya dan keMaha Besaran-Nya karena dapat mengatur segala apa yang terjadi di langit ataupun di bumi. Yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Sebagaimana yang terdapat dalam Surat Al-An’am : 45, “terputuslah usaha pelaku kezaliman dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan Semesta Alam”. Selain itu kita dapat bersyukur melalui perbuatan/amal dengan cara mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu yang sudah dimiliki. Seperti membuat karya atas ilmu yang sudah diperoleh, menjadi tenaga pendidik, menjadi relawan di daerah terpencil, sehingga ilmu yang didapat tidak terputus sampai di kita saja. Tapi tersebar luaskan sehingga akhirnya banyak orang yang tahu. Kemudian yang sudah mengetahui menyebarluaskan kembali dengan berbagai cara yang dapat dilakukan. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya ilmu itu dapat diketahui oleh semua masyarakat dari berbagai golongan. Kita juga dapat beramal  secara continue sebagai salah satu cara bersyukur. Melakukan amal yaumiah secara rutin terus menerus. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori berikut, “Kekhasan Nabi SAW adalah bangun malam untuk shalat malam yang panjang hingga telapaknya membengkak. Jika ada yang bertanya maka beliau menjawab : “Aku ingin menjadi Hamba yang bersyukur dengan cara ini.” Subhanallah, padahal kita sudah mengetahui bersama bahwa Rasul itu ma’sum dan terjamin masuk surga kelak. Tapi jaminan tersebut tidak membuatnya menjadi lalai bahkan semakin membuatnya giat beribadah sebagai ungkapan rasa syukurnya. Yang terakhir, kita dapat berhati-hati dalam menggunakan nikmat-Nya dan tidak menyalahgunakannya karena kelak nikmat tersebut akan diminta pertanggung jawabannya. Hal ini terdapat dalam Surat At-Takatsur:8, “Pada hari kiamat nanti, setiap nikmat yang telah digunakan akan diminta pertanggung jawabannya,”

Kemudian apa yang akan didapat setelah bersyukur? Selain Allah memerintahkan kita untuk bersyukur, bersyukur dapat menjadi penyebab bertambahnya nikmat dari Allah. Bersyukur dapat pula menjadi jalan untuk dicintai Allah. Selain itu jika kita bersyukur, Allah akan menghindarkan kita dari azab dunia dan akhirat. “Kami kirimkan azab berupa angin yang menimpakan batuan membara kepada kaum Luth. Dan Kami selamatkan mereka yang beriman, begitulah Kami membalas orang-orang yang bersyukur.” (Qs. Al-Qomar:34-35). Dan terakhir, dengan bersyukur Allah akan mengangkat derajat di sisi-Nya. Ini terdapat di surat An-Naml:40 ”Seseorang yang bersyukur, sesungguhnya akan diangkat derajatnya.”

Wallahua’lam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lebih akrab disapa “Hanifah”. Dilahirkan di Kota Bekasi, bulan Maret 1998. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan di STEI SEBI Depok semester 1. Kecintaannya pada membaca, membuatnya tertantang untuk mencoba dunia menulis. Selain karena kewajibannya sebagai penerima beasiswa untuk mempublikasikan minimal 2 tulisan setiap semesternya, ia pun menyadari bahwa sudah saatnya untuk ikut berkontribusi dalam berkarya melalui tulisan, dan menebarkan manfaat atas apa yang sudah penulis dapatkan.

Lihat Juga

Bersyukurlah, Maka Hidupmu Akan Bahagia

Figure
Organization