Topic
Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Aksi Bela Rakyat 121 di Samarinda

Aksi Bela Rakyat 121 di Samarinda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Aksi Bela Rakyat 121 oleh Mahasiswa di Samarinda, 12 Januari 2017. (Jumarni)

dakwatuna.com – 2017 Indonesia di kejutkan dengan peraturan-peraturan baru dari pemerintahan Jokowi JK. Penghujung tahun 2016 Indonesia dikejutkan dengan defisit anggaran. Berawal dari kegerahan mahasiswa melihat cekikan pemerintahan saat ini sangat menyesakkan dada.

Solusi pemerintah yang menerapkan aturan semena-mena membuat Indonesia menjadi sakit dan tercekik, berangkat dari itu BEM Seluruh Indonesia, melakukan konsolidasi di masing-masing daerah. Mahasiswa Samarinda pun melakukan konsolidasi terkait kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat, yang membuat masyarakat semakin menjerit dengan adanya kebijakan yang tanpa pikir panjang tersebut.

Adapun poin-poin tuntutan mahasiswa Samarinda ialah :

  1. Menolak dengan tegas PP. NO. 60 Tahun 2016 dan menuntut Presiden Jokowi untuk mencabut PP tersebut.
  2. Menolak kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik serta harga cabai yang mencekik rakyat.
  3. Mengecam Presiden dan jajarannya yang saling lempar batu sembunyi tangan atas kebijakan yang dibuatnya.
  4. Menuntut Presiden merealisasikan Reforma Agraria.
  5. Cabut PP no. 78 Tahun 2015 dan usut tuntas kasus kriminalisasi gerakan rakyat
  6. Menuntut DPRD KALTIM untuk menyegerakan APBD KALTIM dan jangan tambah dana aspirasi

Setelah melakukan audiensi kepada DPRD tetapi tidak ada tanggapan sama sekali dari para dewan perwakilan rakyat yang budiman dengan tuntutan kami.

Hari demi hari dipersiapkan untuk menyongsong pembelaan rakyat yang pastinya sesuai prosedural yang ada. Berdasarkan UUD BAB penyelenggaraan pelayanan pasal 10 yang secara gamblang menjelaskan bahwa adanya pemberitahuan bahwa peserta aksi menyampaikan pendapat di muka umum dan dilanjut Pasal 11 bahwa adanya pemberitahuan secara tertulis oleh yang bersangkutan, jelas peraturan ini sudah kami jalankan tanpa harus meminta izin tetapi hanya sekedar memberitahu.

Waktu demi waktu digunakan untuk konsolidasi dari setiap lembaga mahasiswa (BEM, PMII, GMNI, KAMMI, HMI) seluruh Indonesia untuk menemukan inti yang harus disuarakan, kemudian teknis lapangannya seperti apa. Surat pemberitahuan pun telah dikirim ke Kapolresta Samarinda, dengan arahan dari koordinator BEM SI PUSAT bahwa akan diadakannya aksi serentak di seluruh Indonesia di 19 titik aksi pada hari kamis 12 Januari 2017

Aksi 121 Samarinda

Pada waktu yang telah disepakati untuk titik kumpul tepatnya di halaman auditorium Universitas Mulawarman dan berangkatlah seluruh mahasiswa untuk mewakili aspirasi rakyat, seluruh lembaga mahasiswa sekitaran Universitas Mulawarman titik kumpulnya di halaman auditorium Unmul dan BEM Polnes berkumpul di masjid POLNES. Setiba di air hitam fly over, entah ini hanya analisa atau seperti apa, jalanan yang rute awalnya adalah M Yamin – Juanda – MT Haryono – Karang Paci. Tetapi diberikan palang mengisyaratkan bahwa jalanan ke arah Juanda dilarang untuk dilewati. Jadi dengan terpaksa kami melalui jalan Kadrie Oening – P Suryanata untuk melanjutkan titik aksi yaitu kantor DPRD berlokasi di Karang Paci.

Setelah melalui jalan tersebut tibalah kami di jalan MT Haryono yang kemudian 2 mobil aparat kepolisian telah menghadang rombongan kami untuk sampai ke titik aksi. Kita ketahui bersama mahasiswa adalah salah satu garda terdepan untuk melakukan penyampaian aspirasi dari masyarakat, apalagi hal itu merupakan hal yang membuat masyarakat menjerit. secara umum peran penting polisi adalah mengamankan, mengayomi masyarakatnya. Tetapi yang kami lihat pada tanggal 12/1/2017 seolah bukan polisi yang kami hadapi.

Kami hanya ingin duduk bersama bapak dewan perwakilan rakyat, yang dapat tidur nyenyak dengan Kasur empuk tetapi mungkin lupa dengan masyarakat miskin di Samarinda yang karena krisis ekonomi yang melanda hingga meningkatnya kriminalitas di Indonesia. Kami hadir hanya ingin menjadi alarm untuk orang tua kita tercinta.

Tetapi tindakan aparat kepolisian seakan amnesia terhadap demokrasi atau mungkin sengaja menghianati negeri ini dengan membungkam aspirasi mahasiswa.

Melihat sambutan istimewa mobil aparat yang telah menghalangi jalanan, membuat sebagian mahasiswa geram dengan perlakuan yang demikian. Terdapat orasi dari salah satu anggota BEM Unmul sebagai pembuka melihat sambutan dari bapak aparatur yang terhormat. Sebelum adanya instruksi untuk memarkirkan motor dan membuat benteng. Tetapi sempat terjadi aksi saling dorong dan sempat terlihat polisi merangkul mahasiswa laki-laki terdepan yang menerobos benteng pertahanan polisi. Setelah hal itu terjadi beberapa waktu kemudian Presiden mahasiswa universitas Mulawarman, eks Presiden BEM FKIP Universitas Mulawarman, ketua HMI cabang Samarinda, dan anggota GMNI pun hilang. Pastinya tidak ditelan bumi, tetapi diamankan oleh aparat kepolisian, inikah yang namanya demokrasi?

Beberapa menit kemudian setelah para ketua lembaga melakukan audiensi. Dan dilanjut orasi dari kepala kepolisian tetapi ada beberapa polisi yang memprovokatori aksi kami dengan menendangkan batu ke benteng kami. Sempat terekam kamera oleh mahasiswi Unmul. Dan ketika ditegur pak polisi tersebut berhenti untuk melempar batu tersebut, selicik itukah, memprovokatori kami? Sebegitu bencinyakah kepada mahasiswa? Apakah aparatur negara yang kian gagah tetapi takut dengan gerakan mahasiswa?

Satu jam lebih kami di lokasi tersebut tanpa menghasilkan apa-apa tetapi justru kehilangan 20 orang peserta aksi. Menurut berita yang saya dapatkan salah satu dari 20 orang tersebut mengalami kerusakan baju setelah diseret oleh 3 orang polisi. 3 di antara 20 yang ditahan oleh aparat kepolisian adalah Fadly Idris eks ketua BEM FKIP Unmul, Norman Iswahyudi Presiden BEM KM Unmul, Jamaluddin eks ketua BEM FTIK, masih banyak lagi yang perlakukan kasar, aparat ini suka lucu sepertinya, kami hanya sekedar menyampaikan aspirasi malah di perlakukan demikian.

Muak dengan hal tersebut, kami mendapatkan arahan dari korlap untuk memutar lewat jalan MT Haryono – Antasari – Selamet Riyadi menuju arah samping masjid. Dan ternyata polisi mengajak kami bermain dan lagi-lagi memblokir jalan yang akan kami lalui dari jalan ulin. Lelah bermain-main dan akhirnya pun kami merapatkan barisan dengan serapi mungkin setelah terasa melihat polisi dengan arah dekat saling mendorong sembari menguatkan, tanpa ada yang berpikir untuk sensitif ketika disentuh punggungnya oleh teman di belakang dan lagi-lagi terjadi aksi saling dorong dan saya sebagai di barisan ketiga melihat dengan jelas ada polisi yang memukul mahasiswa yang berada di depan, luar biasa anarkis. Nyaris menerobos pertahanan aparat tetapi mereka mengeluarkan gas air mata yang kami pikir itu adalah petasan yang akan meledak tetapi bukan, nafas seketika sesak dan matapun perih dan tak bisa lagi menahan hal tersebut, teman-teman yang lainpun berlarian untuk menjauh dari lokasi yang telah dilempari gas air mata. Seolah melempar dengan sembrono banyak tercecer di pinggiran jalan dekat dengan rumah warga. Memang tidak memandang tempat begitu ya untuk melakukan hal tersebut? Entahlah, mungkin belum melakukan briefing dulu..

Masing-masing menyelamatkan diri setelah dilempari gas air mata, kami tidak menyediakan odol ataupun persiapan apa-apa Karena kami berniat untuk datang baik-baik, kami bukanlah penjahat yang harus ditangkap, tetapi kami hanya menyampaikan aspirasi rakyat yang sedang galau dengan kebijakan pemerintah yang ada saat ini

Saya sampai tidak habis berpikir mengapa mereka sangat kekeh untuk tetap menghadang jalan kami, toh kami tidak anarkis jika tidak disentuh. Ketika itu merugikan ya kita lawan.

Sembari beristirahat dengan mata merah karena gas air mata dan nafas yang sesak, teman-teman mahasiswa berusaha menerobos dan berorasi di depan benteng kepolisian. Hari semakin sore dan entah apa yang membuat polisi itu mengizinkan kami untuk berjalan menuju kantor DPRD. Banyak tanggapan peserta aksi bahwa para wakil rakyat telah pulang karena kesorean terlebih jalan kaki dari jalan Meranti – Ulin – Tengkawang yang pasti memakan waktu. Tiba di sana kami hanya disambut di pagar tanpa adanya audiensi Karena memang para pejabat sedang tidak di tempat dengan berbagai alasan.

Hari pun semakin senja dan teman-teman kami tidak kembali entah diapakan, dalih-dalih polisi bahwa mereka telah di jalan, pada saat ditelepon ternyata belum dan alasan selanjutnya mereka shalat di Islamic Center, alasan pertama di jalan kemudian shalat apakah mereka shalat sambil berjalan, ketus salah satu peserta aksi. Sembari berorasi di depan tanpa ada hasil yang signifikan akhirnya aksi di pending 15 menit sembari menunggu teman-teman kami yang ditahan dan sekaligus untuk melaksanakan shalat.

Setelah jeda beberapa saat, dan kami pun kembali berkumpul di depan halaman DPRD dengan kembalinya kerabat kami tanpa ada yang kurang. Dan kami kembali evaluasi di kampus Unmul. Setelah tiga kali di hadang dan dipersulit perjalanan menuju kantor DPRD. Dengan hasil nihil yang kami dapatkan, kami tidak sampai di sini, akan ada aksi lanjutan. Selama perjalanan saya diajak bicara dengan sopir angkot pada saat di lampu merah “demo apa dek”, aksi untuk membela rakyat pak, salah satunya tentang kebijakan pemerintah menaikkan harga tarif BBM non subsidi, jawabku. Kembali bapak sopir angkot berbicara, “iya itu sangat membebani kami, tapi apa daya, kami tidak bisa melakukan apa-apa, hanya nurut saja”. Dan memang di sinilah peran mahasiswa sebagai penyalur aspirasi rakyat, yang ketika bergerak dihina apa diam. Masyarakat pun mendukung aksi yang kami gelar dengan adanya bakso gratis yang ada di jalan meranti samping Islamic Center.

Hal yang saya sayangkan dengan perlakuan dari pihak kepolisian adalah adanya penghadangan mahasiswa yang ingin berunjuk rasa, menangkap secara paksa, bahkan mereka telah memukul mahasiswa yang ingin beraspirasi dan perlakuan ini adalah tindakan yang merusak nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswi aktivis dakwah kampus Universitas Mulawarman.

Lihat Juga

Pemimpin adalah Cerminan Rakyat

Figure
Organization