Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Kebodohan bagi Sebuah Peradaban

Kebodohan bagi Sebuah Peradaban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (halidayanti.blogspot.com)

dakwatuna.com – Seorang ahli hikmah telah mengatakan, “Apabila kebodohan itu berbentuk makhluk hidup, aku akan membunuhnya.” Ungkap ini menunjukkan betapa bahaya kebodohan bagi sebuah peradaban. Dengan apa peradaban dibangun jika masyarakat terdiri dari orang-orang bodoh yang tak mengenyam pendidikan. Suatu hal yang di sayangkan bahwa Islam merupakan agama yang melandasakan segala sesuatuu di atas fondasi ilmu, namun banyak sekali umat Islam yang dilanda kebodohan.

Setiap orang yang bodoh memiliki ciri yang sama, yaitu mudah ditipu dan diperdayakan orang lain. Demikian pula masyarakat yang bodoh, akan mudah ditipu dan diperdayakan masyarakat lain, dan pada gilirannya akan dikuasai atau diarahkan dan dikalahkan oleh masyarakat lain tersebut. Kalaupun ada seseorang bodoh yang menjadi pemimpin, bisa dipastikan kepemimpinannya berada dalam pengaruh dan kendali orang lain. Sungguh, tidak ada kemenangan yang bisa diraih oleh siapa pun yang dilanda kebodohan.

Di Indonesia, dampak dari anggaran negara yang terbatas dan skala prioritas pembangunan yang tak jelas maka sektor pendidikan sering dinomorbelakangkan. Sarana pendidikan sangat tidak memadai dan tunjangan bagi kaum pendidik juga amat rendah, padahal orang tua siswa atau mahasiswa sudah dipaksa untuk membayar pendidikan yang terus meroket. Mahalnya biaya pendidikan amat bertentangan dengan tujuan utama berdirinya Republik Indonesia, yang menurut konstitusi, seharusnya berupaya “mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Angka putus sekolah untuk tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan pertama (SLTP) hingga sekolah menengah umum (SMU) rata-rata mencapai 5% dari total jumlah murid yang ada. Namun, di daerah tertentu yang dilanda konflik seperti Maluku Utara, serta Nanggroe Aceh Darussalam, jumlah itu meningkat tajam. Rendahnya kualitas pendidikan dasar dan menengah sudah pasti berpengaruh terhadap kondisi pendidikan tinggi.

Sesungguhnya, kejumudan berpikir banyak melanda masyarakat dunia saat ini, baik di Barat maupun di Timur, baik kalangan masyarakat Islam maupun non-Islam. Hanya saja, ada “pencurian sejarah” yang dilakukan masyarakat Barat terhadap kegemilangan ilmu pengetahuan Islam. Pada saat peradaban Eropa masih berada dalam zaman kegelapan, sesungguhnya Islam telah mencapai puncak kegemilangan peradaban ilmu. Berbagai universitas yang menjadi pusat kegiatan intelektual Islam telah menjadi lembaga pendidikan terbesar pada waktu itu, baik di Baghdad, Kairo, Damaskus, Cordova, dan tempat-tempat lainnya.

Rujukan ilmiah masyarakat dunia tidak pernah dilepaskan dari karya intelektual muslim pada masa itu, baik dalam bidang kedokteran, astronomi, optik, fisika, kimia, matematika, sastra dan bidang lainnya. Sebagai contoh dalam bidang kedokteran kaum muslimin menghasilkan karya besar yang dituangkan pada kitab Al Khawi karya Ar-Razi, Al-Qanun karya Ibnu Sina, Al-Kulliyat karya Ibnu Rusyd dan lainnya.

Dengan demikian, sesungguhnya kebodohan tidak pernah ada tempatnya dalam Islam. Ilmu merupakan persyaratan penting dalam Islam, seperti pembahasan para ulama terdahulu bahwa syarat sahnya ibadahnya adalah mengilmui, dan syarat diterimanya syahadat adalah memiliki ilmunya. Tanpa ilmu seorang muslim tidak akan bisa menunaikan kewajibannya dalam Islam, seperti beribadah dan bahkan bagian yang paling fundamental menyangkut keyakinan akidah.

Pada akhirnya, pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital bagi upaya pemberantasan kebodohan dan peningkatan kecerdasan masyarakat muslim. Sarana-sarana pendidikan bagi masyarakat seluas-luasnya harus diupayakan dengan serius, karena kebodohan akan melahirkan sejumlah permasalahan lain yang sangat serius. Tidak terbayangkan sebuah bangsa akan bisa berwibawa dan mencapai puncak peradaban jika dihadapkan pada permasalahan kebodohan mayoritas penduduk.[1] (dakwatuna.com/hdn)

[1] Cahyadi Takariawan. 2009. Tegar di Jalan Dakwah.. Surakarta.: Eka Adicitra Intermedia

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Laki-laki yang terlahir di keluarga yang sederhana. Mencari jati diri di Universitas Negeri Jakarta, berusaha hijrah dari pribadi yang buruk menjadi pribadi yang berakhlak yang berlandaskan Al Quran dan Sunnah. Saat ini sedang duduk di semester empat jurusan Pendidikan Tata Niaga Fakultas Ekonomi UNJ. Aktif berorganisasi islami pada Lembaga Dakwah Fakultas, Kelompok Studi Ekonomi Islam, Remaja Masjid Al Hidayah, yang insya Allah bercita-cita menjadi ustad dan pembisnis yang islami.

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban

Figure
Organization