Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Gara-Gara Trompet

Gara-Gara Trompet

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustasi. (Fotolia)

dakwatuna.com – Dul dan ketiga temannya yang tergabung dalam genk macho; Baim, Didik dan Sakti tersenyum lega menatap hasil karya mereka dari pagi berkurung di gudang rumah Dul. Trompet-trompet untuk tahun baru yang dibuat dari kertas-kertas bekas hasil jarahan di kedai bapak Baim.

Rencananya trompet ini selain untuk mereka sendiri juga akan dijual, mereka sudah membayangkan akan mendapat uang saku lebih darinya karena biasanya setiap tahun baru trompet adalah salah satu benda yang laris dijual.

Trompet ini akan mereka jual di kampung, untuk memasarkannya mereka akan langsung promosi sendiri, dengan cara keliling kampung sambil meniup trompet.

Tanpa membuang waktu, Dul langsung mengajak ketiga temannya yang sudah mulai lelah namun kembali semangat dengan diiming-imingi uang hasil penjualan trompet.

“Tet tettt tetttt” trompet ditiup dengan kencang oleh Dul.

“Copot… copot… copot…” mak Ijah, tetangga Dul yang sudah tua sekaligus latah langsung melompat kaget mendengar suara trompet Dul.

“Hahaha…” gelak tawa anggota genk macho menyaksikan kelatahan mak Ijah.

“Eh Dul, kamu usil sekali, orang tua jadi juga dikerjai” tegur mbak Dina, kakak Dul satu-satunya.

“Ya elah mbak, Dul cuma bercanda doang” elak Dul, membela diri.

“Bercanda bukan begitu caranya, itu namanya ngerjain. Sudah tahu mak Ijah latah, masih juga dikagetkan dengan suara trompet. Lagian kalian ngapain sih niup-niup trompet siang bolong gini, kasihan kan tetangga lagi pada tidur” mbak Dina menceramahi adik dan teman-temannya.

“Ini Dul lagi promosi mbak, trompet ini mau Dul jual” ungkap Dul sambil memperagakan trompet buatannya.

“Jualan trompet buat menyambut tahun baru, mbak” Baim menambahkan.

“Mbak Dina mau beli?” tawar Didik.

“Buat apa?” tanya mbak Dina.

“Ya buat ditiup lah mbak, pas pergantian tahun” kata Dul. “Makanya beli mbak, khusus mbak Dina nanti Dul kasih diskon, lima ribu perak aja”

“Lho, harganya kan memang lima ribu, Dul” Sakti yang dari tadi diam angkat bicara.

“Huss, jangan buka rahasia” Dul buru-buru menginjak kaki Sakti agar tidak buka mulut lagi.

“Mbak tahu, trompet ditiup pas tahun baru. Tapi buat apaan? Nggak ada manfaatnya. Lagian tahun baru itu bukan  tahun baru Islam dan niup trompet saat pergantian tahun baru bukan kebiasaan orang Islam juga, itu kebiasaan orang-orang jahiliyah, ngapain ngikut-ngikutin kebiasaan orang lain” kata mbak Dina. “Coba kalian bayangkan, kalau saat semua orang niup trompet, trus malaikat juga niup sangkakala… hayooo apa jadinya?” tambah mbak Dina.

“Kalau sangkakala ditiup ya kiamat dong, hiyyy…” suara Sakti bergidik, ia tampak ketakutan kalau kiamat terjadi begitu cepat karena Sakti merasa belum punya amal untuk bekal di akhirat nanti. Shalatnya masih bolong-bolong, ngaji masih buta huruf hijaiyah, puasa di balik papan alias puasa beduk, masih suka bohong sama bu’e juga.

“Ahh sudahlah, kalau mbak Dina nggak mau beli ya sudah, nggak usah ceramah segala, kayak ustadzah saja” Dul mengakhiri percakapan dengan kakaknya, ia langsung mengajak ketiga temannya untuk segala keliling kampung, melanjutkan misi mereka berjualan trompet.

“Eh, jangan pergi dulu, bersihin gudang dulu, bekas sampah kalian masih berceceran di sana” kata mbak Dina, mencoba menahan adik dan ketiga temannya, tapi Dul tak mau mendengarkan ia tetap berlalu.

***

Baru satu jam keliling kampung, trompet jualan Dul laris manis, tak ada yang tersisa, makanya Dul dan ketiga temannya berencana untuk membuat kembali trompet. Tapi berhubung hari sudah sore dan mereka sudah gerah makanya mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mandi. Setengah jam lagi mereka berencana kumpul di rumah Dul, melanjutkan tugas membuat trompet.

Karena terlalu lelah, usai mandi, Dul berbaring sebentar di sofa, memulihkan kembali tenaganya yang hilang.

***

“Tet tettt tettt…” suara trompet buatan Dul terdengar dari seluruh pelosok kampung diikuti percikan kembang api yang mewarnai langit gelap saat pergantian tahun baru. Dul tersenyum puas, menikmati suara trompet tersebut. Seperti menikmati alunan musik.

Sedang asyik mendengarkan suara trompet, tiba-tiba terdengar suara besar, diiringi suara ketakutan orang-orang.

“Suara apaan tuh?” tanya Dul pada orang-orang. lama, tak ada yang menjawab Dul karena semua panik. “Mbak Dina…” Dul mengejar kakaknya yang juga ikutan lari. “Ada apaan, mbak?”

“Lari Dul, lari…” kata mbak Dina sambil berlari.

“Iya, tapi kenapa mbak?” Dul mengejar langkah mbak Dina.

“Malaikat bari niup sangkakala, Dul. Gara-gara orang-orang niup trompet buatan kamu”

“Hah…” belum sempat Dul mengejar mbak Dina kembali, bumi yang diinjak bergetar, gemuruh, suara ledakan keras disusul gunung yang beterbangan.

“Tidaakk…” teriak Dul, ketakutan.

“Dul… Dul… bangun” mbak Dina mengguncang tubuh adiknya, remaja tanggung itu hampir melompat dari sofa.

“Mbak…” suara Dul serak, siap untuk menangis.

“Kamu kenapa, sih?” mbak Dina menatap Dul, heran. “Kamu tadi mimpi, apa?”

“Dul mimpi kiamat mbak, malaikat niup sangkakala karena orang-orang niup trompet buatan Dul” cerita Dul sambil terisak.

“Makanya mbak bilang juga apa” mbak Dina senyum-senyum. “Tuh di luar teman-teman kamu nungguin, katanya mau bikin trompet lagi”

“Mbak bilangin mereka, proyek membuat trompetnya batal, trompet yang sudah dijual, ditarik kembali, uangnya akan Dul kembalikan”

Mbak Dina tersenyum puas, akhirnya adiknya sadar juga, meniup trompet dan merayakan pergantian tahun bukanlah budaya orang Islam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Ibu Rumah Tangga. Penulis.

Lihat Juga

Ulul Albab dan Hikmah Pergantian Tahun

Figure
Organization