Home / Berita / Daerah / Sari Roti yang Dijajakannya Tidak Laku, Bapak Ini Jadi Semangat Produksi Sendiri

Sari Roti yang Dijajakannya Tidak Laku, Bapak Ini Jadi Semangat Produksi Sendiri

Roti Usaha Baru (Facebook)

dakwatuna.com – Jakarta. Dampak dari klarifikasi PT. Nippon Indosari Corporindo Tbk (Sari Roti) terkait aksi 212 yang menunjukan ketidakberpihakannya pada aksi tersebut, tidak hanya sampai pada merosotnya penjualan dan nilai saham, tapi juga berlanjut kepada semangat bangkitnya para pengusaha kecil dan menengah. Hal ini terjadi pada seorang pria yang kembali memilih memproduksi sendiri roti dagangannya.

Kisah ini dikutip dari status Facebook Aad Madura, dalam status tersebut dikisahkan seorang bapak pengayuh roda tiga Sari Roti yang mulai memproduksi kembali roti dagangannya bersama keluarga. Berikut percakapan dengan bapak penjual roti seperti yang dikutip dari Facebook Aad Madura:

S = Saya
A = Abang penjual Sari Roti
(Percakapan dalam bahasa Madura)
S : Tumben masih banyak pak?
A : Iya mas, banyak yang gak beli, pemiliknya sih berulah?
S : (pura pura bego saya tanya) ulah gimana pak?
A : Itu lho buat pernyataan bahwa tidak mendukung aksi umat islam segala, padahal yang beli banyakan Islamnya.
S : Wah bahaya dong pak, nanti nasib bapak gimana kalau gak laku terus begini?
A : Biarkan sajalah mas, Rizky Allah SWT yang ngatur, pasti ada hikmahnya dari kejadian ini.
S : (mantuk-mantuk) Kira-kira hikmahnya apa ya pak?
A : Ya usaha roti rumahan jadi laku, saya itu 20Tahun mas dagang Roti, dulu Taun 90an, saya buat roti sendiri sekeluarga, istri istri saudara dan istri saya yang buat di Rumah, Laki lakinya ngayuh speda jualan ke toko toko, warung makan dan rumah-rumah.
S : Kenapa gak dilanjut pak?
A : Ya Sari Roti ini yang ngebuat gak lanjut, Roti saya banyak balik (retur) dari toko dan warung warung Krn gak laku kalah bersaing dengan sari roti, waktu itu dia jual murah murah rotinya malah sering beli satu dapat satu, jadi gak jalan punya saya, di Rumah Rumah juga banyak sudah ada stok sari roti yg dari toko, dulu sari roti gak punya becak kayak gini, pas ada becak sari roti sayalah yang daftar duluan, tapi ya gitu akhirnya produksi roti saya stop, istri istri kami jadi buruh cuci dan setrika, laki lakinya mancal sari roti Krn kita sudah tau jual kemana dan siapa jd mudah.
S : wah gitu ya pak, dulu apa nama usaha rotinya pak?
A : “Roti Usaha Baru”
S : (langsung saya teringat roti ini), dulu yang naik speda ontel ya pak? Gerobaknya putih ada tulisannya usaha baru?
A : Iya bener mas
S : (saya terharu) saya dulu penggemar roti bapak yang rasa kelapa hijau, sejak gak jualan saya jadi nyariroti lain.
A : Mau ta mas? Saya nyoba buat lagi udh 3 hari, bersama keluarga keluarga yang lama.
S : lah mana rotinya pak?
A : ya kan gak boleh masuk ke grobak sari roti mas, anak saya yang keliling, masuk ke kantin sekolah dan madrasah, kalau mau tak suruh kesini.
S : Mau pak, kirim rasa kelapa hijau, coklat dan tawar.
A : (langsung nelpon) sudah mas nanti kesini anak saya.

Akun Yona Nonok memberi komentar dari kisah tersebut, bahwa ada hikmah positif dari aksi boikot yang dilakukan umat Islam. :Alhamdulillah… Hikmah positif dibalik kejadian yg ada… Marilah kita terus berkarya agar kita menjadi tuan diNegeri sendiri… Aamiin ..” tulisnya.

Komentar lain datang dari akun bernama Akilla Az Zahra, menurutnya bapak penjual roti tersebut telah menjadi inspirasi bagi yang lain. “Terimakasih untuk inspirasinya bapak, semakin istiqamah,” tulisnya.

Status kisah ini pun menjadi viral di media sosial. Hingga berita ini dimuat kisah tersebut sudah dibagi sebanyak 14.400 kali dan di like sebanyak 28.000 akun Facebook (abr/dakwatuna)

Advertisements

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Israel Berupaya Usir Rakyat Palestina ke Negara-negara Arab