Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Satanic Finance

Satanic Finance

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku “Satanic Finance”.

dakwatuna.com –

Judul Buku: Satanic Finance
Penulis: Dr. Ahmad Riawan Amin
Penerbit: Zaytuna
Tebal: 124 Halaman

Mungkin jika bukan karena tuntutan saya tidak akan membaca buku yang luar biasa ini. Begitu banyak ilmu tentang perekonomian negeri ini dari yang tadi nya tidak tahu menjadi tahu dan menggetarkan diri ini untuk memperbaiki perekonomian negeri yang bobrok ini dengan adanya kapitalis yang menjerumuskan kita kedalam lingkaran penganut setan!

Perkembangan perekonomian tahun 1997 yang menjadi krisis moneter bagi negeri tercinta ini, kita di landa dengan krisis moneter mulai dari harga-harga melonjak naik karena terdepresiasinya nilai mata uang Rupiah terhadap Dollar AS, banyak masyarakat yang jatuh miskin, banyak sekali masyarakat yang pada akhirnya tidak mempunyai pekerjaan. Yang kemarin sudah miskin pasti lebih miskin lagi. Para setan sang pengendali kedzhaliman bersorak gembira karena kita manusia telah tertipu daya oleh muslihatnya, yang dzhalim menurut agama dibuat indah olehnya. Salah satu tipu dayanya yaitu Bunga. Begitu system bunga ini berlaku inilah menjadi awal mula revolusi kehancuran yang disulap menjadi seperti kejayaan yang indah. Para setan ini membujuk dan mendorong manusia untuk menggunakan uang kertas (fiat money) tanpa ada backed logam mulia, sehingga mudah saja dicetak tanpa batasan karena hanya menggunakan lembaran kertas yang tidak mempunyai unsure intrinsic, dan system ini semakin lengkap ketika mereka mengenalkan Three pillars of evil yaitu Fiat Money, Fractional reserve requirement dan Interest (Bunga).

  • Fiat Money (Uang kertas)

Sebuah uang yang di ciptakan yang tidak back up nya dengan logam mulia Emas, sehingga uang ini menjadi barang yang amat sangat berharga di kalangan masyarakat yang digunakan untuk transaksi pembayaran barang ataupun jasa ataupun hutang. Karena uang kertas ini diakui resmi oleh pemerintah, oleh karena nya setiap Negara pasti tergiur untuk mencetak uang sendiri. Mencetak uang kertas yang tidak ada batasannya, ketika jumlah uang yang beredar melebihi kapasitas barang dan jasa yang tersedia maka akan menimbulkan terjadinya inflasi. Sejak penggunaan uang kertas ini setiap Negara sering mengalami inflasi perekonomian dikarenakan jumlah uang yang beredar lebih banyak dari pada barang dan jasa yang tersedia.

  • Fractional Reserve Requirement (Dana Cadangan)

Manusia disini di tipu untuk menyimpan uang nya dengan gaya permainan sedemikian rupa. Untuk menyimpan uang nya di sebuah Bank sentral suatu Negara yang mensyaratkan para nasabah nya untuk menyimpan sebagian kecil hartanya sebagai cadangan, dimana pada umumnya jauh dibawah 100%. Jika Bank central mensyaratkan besarnya FRR sebesar 10%, dan yang 90% nya Bank leluasa meminjamkannya pada nasabah lain. Dengan begitu ada tambahan yang di salah gunakan oleh pengguna Bank. Disini juga mempengaruhi Bank sebagai Agen pencipta uang/penyuplai. Misalnya jika simpanan pertama si nasabah Rp. 100.000, kalau ini dianggap sebagai jumlah yang dari 10% tadi sebagai syarat FRR maka dari 100% adalah Rp. 1.000.000 dengan kata lain ada tambahan yang bias Bank ciptakan sebesar Rp. 1.000.000-Rp. 100.000=Rp. 900.000

  • Interest (Bunga)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan berdirinya           seperti orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit Gila. (QS. Albaqarah : 275). Saat inilah bunga atau Riba adalah kepastian. Bunga (interest­) adalah semacam charge yang wajar. Begitulah system ini berlaku. Ada konsekuensi akibat dari penggunaan bunga itu sendiri, diantaranya : Bunga akan terus menuntut tercapainya pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus, meskipun kondisi ekonomi actual sudah mencapai titik jenuh atau constant, bunga mendorong persaingan diantara para pemain dalam sebuah ekonomi kemudian bunga cenderung memosisikan kesejahteraan pada segelintir minoritas dengan memajaki kaum mayoritas.

Ketika tiga pillar setan ini bertemu maka sudah diciptakan akan selalu ada korban. Sector riil tidak lagi mampu berkembang karena seluruh kapasitas produksi sudah terpakai. Kondisi inilah yang dialami Asia Tenggara pada tahun 1997.

Rasululloh SAW. bersabda “(ketahuilah) seorang yang berhutang apabila bertutur, ia berkata bohong, dan bila berjanji, ia berdusta.”

Naudhzubillahhimindzalik. Semoga kita bukan termasuk kedalam orang-orang yang senang berhutang. Itulah begitu pentingnya urusan utang. Percaya kepada Tuhan adalah satu hal. Melaksanakan perintah Tuhan, itu hal lain. Manusia, seperti halnya kami, boleh percaya kepada Tuhan. Tapi soal menyembah dan melaksanakan perintah-Nya adalah hal yang berbeda. Jika tidak ingin disetarakan dengan setan, maka kita harus menjalankan apa yang telah Allah perintah kan dan Nabi kita contohkan. Seperti halnya yang dibahas dalam buku ini. Seharusnya kita kembali menggunakan Dinar dan Dirham sebagai alat transaksi utama dikarenakan selalu stabil sepanjang sejarah, dinar dan dirham tidak pernah mengalami inflasi. Inflasi itu ada sejak fiat money berlaku. karena uang kertas mudah dicetak dan tidak mempunyai unsure intrinsik seperti dinar dan dirham, sehingga uang kertas cenderung mengalami inflasi setiap saat. Sejak penggunaan uang kertas kita mengalami inflasi berkali-kali, tapi tetap saja uang kertas ini digunakan padahal tidak ada kebaikan di dalam pengunaan uang kertas ini. System kapitalis memang saat ini unggul, namun bukan emas yang dipilih tapi uang kertas yang diangkat, sehingga inipun menjadi salah satu prestasi untuk setan, mereka bergembira dan kita umat manusia sengsara. Mereka cerdik sekali membuat apa yang telah dilarang oleh agama, mereka buat indah dipandang mata. Agama manapun mengakui bahwa bunga itu menyengsarakan umat sehingga semua agama jelas-jelas melarang penggunaan bunga. Hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali ke panggung. Namun akhirnya muncullah sebuah pendapat penolakkan pada sistem ekonomi yang telah berjalan yaitu dengan mengadakan bank syariah. Arti syariah disini bukan arti yang sama seperti pandangan islam. Dalam pandangan agama Islam syariah itu adalah aqidah,syariah,ibadah, dan akhlak. Dimana dalam hukum syariah telah dilarang adanya bunga atau riba dan menerapkan sistem bagi hasil. Dan dengan ekonomi syariah dapat menyelamatkan perekonomian di dunia. Wallahualam bis shawab… (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Tentang

Reni Marlina, kelahiran Garut 03 mei 1997 sekarang duduk di bangku kuliah semester 3 dengan jurusan Perbankan Syariah di STEI SEBI. motto hidup Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. "Teruslah berada dalam barisan ini, Barisan Peradaban Ekonom Rabbani"

Lihat Juga

Tantangan DPS Untuk Meningkatkan Citra Keuangan Syariah

Organization