Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Guru dalam Amanah Keprofesiannya

Guru dalam Amanah Keprofesiannya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Seorang Guru tengah mengajar murid-murid di daerah terpencil (ilustrasi).  (tribunnewes.com)
(ilustrasi). (tribunnews.com)

dakwatuna.com – “Guru adalah agen perubahan karakter bangsa. Bangsa ini harus menjadi bangsa pemenang, tetapi tetap memiliki keluhuran budi pekerti yang tinggi.” (Presiden Joko Widodo).

Tidak bisa dipungkiri jika guru memegang peranan penting dalam pembangunan Sumber Daya Manusia suatu bangsa. Bahkan guru merupakan pelaku utama pendidikan di sebuah lembaga yang bernama sekolah. Pendidikan yang oleh undang-undang diamanatkan sebagai sebuah proses pengembangan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.

Guru menjadi pelaku utama dari sebuah proses pendidikan di sekolah karena keberadaannya yang sangat dekat interaksinya dengan peserta didik. Mulai dari peserta didik hadir sampai pulang dari sekolah, sosok guru tidak begitu jauh dari mereka. Guru menjadi tempat peserta didik bertanya, melakukan proses pembelajaran di dalam kelas, sampai pentransferan nilai-nilai lewat perbincangan santai antara keduanya. Bahkan ada guru yang peranannya tidak terbatas pada sekat-sekat sekolah. Termasuk dalam kehidupan bermasyarakat, ia hadir untuk membantu dan memberi pengarahan kepada peserta didiknya. Karena bagi dia, lingkup sekolah terlalu kecil untuk membatasi pemberian pembelajaran ke siswa. Terkadang, beberapa teguran dari seorang guru memang tak jarang terlontar kepada para peserta didiknya. Namun itu hal yang biasa saja bagi kebanyakan peserta didik. Sebab untuk pembentukan kepribadian dan karakter yang religius, butuh pembiasaan dan pengontrolan yang intens.

Guru dalam jabatannya selalu memiliki dua sisi yang berbeda. Sehingga sangat sempit cara pandang dan pikir kita, jika hanya melihat sebuah profesi keguruan pada satu segi saja. Sebab, akan banyak menuai protes dan kritikan jika itu terjadi. Selain itu penilaian masyarakat akan sangat tidak berimbang terhadap sosok guru. Juga akan berakibat pada ketidakpuasan masyarakat yang cukup besar terhadap sosok seorang guru, yang nantinnya akan berujung pada penyalahan guru secara serampangan dalam profesinya. Salah satu sisi perbedaan dari profesi keguruan adalah guru sebagai sebuah amanah keprofesian dan alat untuk mencari nafkah. Posisi inilah yang terkadang sulit terpisahkan dari seorang guru. Mengutip pernyataan Nasution yang menyatakan, “sekalipun pekerjaan guru selalu dipandang dalam hubungannya dengan ideal pembangunan bangsa dan guru diharapkan sebagai manusia idealis, namun guru sendiri tidak dapat tidak, harus menggunakan pekerjaannya untuk mencari nafkah bagi keluarganya”. Posisi guru dalam amanah keprofesiannya dituntut untuk melaksanakan amanat Undang-undang. Mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengembangan minat dan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara adalah tugas utama seorang guru. Tugas yang tidak mudah tentunya, jika semua amanat ini dituntut pelaksanaannya tanpa dilandasi dengan pemakluman terhadap kesejahteraannya. Karena guru juga memiliki kewajiban terhadap anggota keluarganya yang harus ia tunaikan.

Guru yang profesional tentunya akan mampu melaksanakan amanah keprofesiannya sesuai dengan tupoksinya, sekaligus tempat ia menggantungkan hidupnya. Sosok inilah yang diharapkan oleh masyarakat secara umum. Sebab dalam masyarakat manapun, guru menempati posisi yang istimewa dan terhormat dan selalu disandarkan harapan-harapan yang tinggi terhadapnya. Namun, walaupun demikian, guru dalam amanah keprofesian yang diamanatkan oleh undang-undang, bukan berarti tidak mendapati masalah. Bahkan masalahnya sangat kompleks, dan tidak jarang berhadapan dengan ranah hukum. Sebab yang dihadapi oleh guru adalah manusia yang memiliki akal dan rasa. Ketidaktepatan metode dengan kondisi kepribadian dan kematangan peserta didik, akan menimbulkan sebuah efek tertentu. Walaupun sebenarnya niatan awal guru adalah baik dalam mendidik. Sebab sejatinya seorang guru adalah mereka yang memiliki kesadaran diri dalam keprofesiannya sebagai yang digugu dan ditiru. Kalaupun ada yang niatannya menyimpang, maka tidak lain hanyalah oknum tertentu. Sehinga tidak boleh guru dijustifikasi secara umum dalam keprofesian telah melakukan pelanggaran.

Masih hangat dalam ingatan kita akan beberapa peristiwa yang sempat menyeret beberapa oknum guru dalam ranah hukum. Salah satunya adalah seorang guru di Bantaeng yang dipenjara karena mencubit siswanya. Kejadian lainnya adalah seorang guru babak belur dipukuli oleh orang tua murid hanya karena menggunting rambut anaknya. Sangat miris akhirnya dunia pendidikan kita ketika mendapati kejadian ini benar adanya. Saat pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang dibenturkan dengan undang-undang perlindungan anak. Akibatnya beberapa sekolah tidak lagi mempertegas dan mengindahkan pembinaan dan pembentukan karakter peserta didiknya. Lebih parah lagi, peserta didik akhirnya tidak lagi memiliki adab dan kesopan santunan terhadap guru. Sedangkan di satu sisi, generasi kita saat ini sedang dihadapkan pada perang candu yang sangat masif. Mulai dari teknologi yang berbuah tontonan asusila, penggunaan obat-obat terlarang, sampai pada gaya hidup asing yang masuk lewat interaksi terbuka sehari-hari dengan dunia luar.

Sehingga untuk memutus masalah ini, harus ada kejelasan aturan atau prosedur dari pemerintah yang mengatur mekanisme pemberian sanksi terhadap peserta didik. Aturan yang juga memiliki kekuatan hukum tetap. Sehingga ketika ada oknum guru yang terlibat ketidakdisiplinan dalam tugasnya, maka akan ditindak sesuai prosedur yang ada. Tidak lagi tersandera oleh undang-undang perlindungan anak. Sebab generasi kita butuh pertahanan yang kuat dalam menghadapi pola hidup di era globalisasi saat ini. Sedangkan pertahanan tersebut bisa dibangun oleh guru sebagai pelaku utama pendidikan di sekolah lewat pembudayaan nilai-nilai yang dianut oleh sekolah.

Selamat Hari Guru Nasional. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Guru Konsultan Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Figure
Organization