Home / Berita / Analisa / Faktor Kemenangan Trump Yang Mengejutkan*

Faktor Kemenangan Trump Yang Mengejutkan*

Donald Trump dan Hillary Clinton. (aljazeera)
Donald Trump dan Hillary Clinton. (aljazeera)

dakwatuna.com – Washington. Sepuluh hari menjelang pemilihan presiden Amerika, Hillary Clinton seakan bakal mendapat kemenangan dengan sangat mudah. Terlihat dari perkembangan jajak pendapat, Hilllary terus semakin jauh meninggalkan Trump.

Hillary dinilai unggul pada tiga kali debat kandidat presiden. Ditambah peran media dalam menonjolkan titik kekuatannya seperti memiliki pengalaman yang luas. Berbanding terbalik dengan sang pesaing yang minim pengalaman. Trump juga dianggap tidak layak jadi presiden AS disebabkan oleh fantasi dan kecerobohannya dalam berbagai sikap dan pernyataanya.

Tampaknya Hillary dapat mengatasi dilema utama yang bisa membuatnya kalah melawan kandidat yang ‘bukan apa-apa’ dalam politik, dan tidak punya pengalaman karena terbukti belum pernah menjadi pejabat negara ataupun pimpinan partai. Dilema itu ialah keraguan terhadap integritas dirinya yang disebabkan sikapnya dalam skandal moral suaminya, Bill Clinton, saat menjabat presiden. Juga perannya sebagai menlu AS dalam menghadapi penyerangan terhadap kantor kedutaan AS di Benghazi yang menewaskan dubes AS untuk Libya, Christopher Stevens. Belum lagi sikapnya yang lemah dalam menjaga rahasia negara dengan menggunakan email pribadi pada urusan dinas yang seharusnya menggunakan email resmi. Hillary juga dianggap menyembunyikan informasi sehingga para penyelidik tidak menemukan alat bukti untuk menggugatnya.

Hillary sudah hampir dipastikan menang. Sementara suasana putus asa terus membayangi setiap kampanye Trump, yang tampak mulai tidak dapat mengatasi dampak goncangan yang disebabkan pengakuan Trump telah melakukan pelecehan terhadap beberapa wanita. Pengakuan ini membuktikan tuduhan selama ini bahwa Trump adalah kandidat yang tidak menghormati kaum wanita. Lalu disusul dengan munculnya beberapa wanita, semuanya mengaku punya pengalaman buruk bersama Trump.

Secara mengejutkan, kepala biro investigasi FBI, mengirimkan surat kepada Kongres. Surat yang terlihat bertendesi politik menyatakan niatan untuk kembali melakukan investigasi dalam kasus email Hillary. Niatan ini berawal temuan beberapa email Hillary di komputer suami asistennya, Huma Abedin. Suami Huma Abedin sendiri adalah sosok yang dituduh melakukan pelanggaran etik dan seksual dalam kasus yang berbeda. Tindakan FBI ini benar-benar pukulan yang mematikan bagi Hillary, dan pada timing yang sangat kritis.

Kenapa? Karena hal ini membuat persepsi masyarakat tentang sosok Hillary yang ceroboh dan tidak mempunyai integritas kembali mengemuka. Publik pun bisa menilainya tidak pantas untuk dipilih. Hillary telah kehilangan keistimewaannya sebagai kandidat yang layak untuk jabatan presiden. Kontestasi kembali lagi ke kondisi pertama, yaitu ‘memilih satu dari dua pilihan yang sama-sama pahitnya’, atau dengan kata lain ‘memilih yang buruk atau lebih buruk’. Sedangkan waktu yang ada, tidak cukup untuk memperbaiki keadaan. Meskipun dua hari sebelum hari pemilihan, pihak berwenang menyatakan Hillary tidak bersalah. Tapi malapetaka telah terjadi, sementara itu kampanye Trump kembali hidup, serta pendukung Trump kembali bersemangat. Hasil survei tidak lagi menunjukkan selisih yang signifikan. Rehabilitasi nama Hillary yang dipublikasikn secara gencar pun tidak bisa membantu karena biasanya the bad news lebih cepat menyebar daripada the good news. Mungkin publik pun kembali diingatkan pada skandal moral Bill Clinton, yang memang sengaja kemukakan kembali oleh Trump guna menutupi skandalnya sendiri.

Tak diragukan lagi, bahwa ini adalah penyebab langsung sehingga seorang kandidat yang tidak berpengalaman bisa mendapat kemenangan secara mengejutkan. Trump juga kadidat yang dinilai mayoritas rakyat AS tidak layak menjadi presiden. Bahkan para elit partai pengusungnya (Partai Republik) tidak mau merekomendasikan Trump. Ada juga yang merekomendasikannya karena terpaksa dan setelah lama ragu. Ada pula yang secara terang-terangan malah mendukung Hillary. Apa yang dialami Hillary pada hari-hari terakhir ini memang penyebab langsung yang membuat Trump menang, tapi bukan yang membangun kemenangan itu. Hanya menjadi faktor yang membantu kemenanga Trump. Memang tanpa faktor ini, seorang Trump tidak mungkin menang melawan kandidat presiden wanita yang paling banyak pengalamannya dalam sejarah Amerika modern. Kemenagan yang diraih dalam pemilihan presiden yang paling aneh di Amerika, karena kedua kandidat tidak populer di kalangan masyarakat. Para pemilih pun memberikan suaranya bukan untuk mendukung seorang kandidat, tapi untuk menentang kandidat yang lain. Benarlah apa yang dikatakan seorang analis politik, bahwa Trump adalah satu-satunya kandidat Partai Republik yang mungkin dikalahkan Hillary, dan sebaliknya, Hillary adalah satu-satunya kandidat Partai Demokrat yang bisa dikalahkan Trump.

Berikut ini beberapa sebab dan faktor yang membuat kejutan menangnya Trump :

Pertama, Hillary adalah korban kedua dari skandal moral suaminya (dengan Monica Lewinsky), yang sebenarnya cukup untuk mencopot Bill Clinton dari jabatannya sebagai presiden. Skandal ini juga yang menyebabkan Al Gore, yang saat itu menjadi wakil Bill, kalah dalam pilpres melawan George Bush yang tidak jauh berbeda dengan Trump. Terjadi polemik panjang tanpa kejelasan tentang sikap  Hillary dalam skandal seks itu, sehingga merusak namanya.

Kedua, voting memilih untuk melakukan perang di Irak yang penuh dengan bencana adalah faktor penting kekalahan Hillary dari Obama pada pemilihan internal Partai Demokrat tahun 2008. Sangat mungkin kutukan ini masih terus mengikutinya hingga pemilu kali ini.

Ketiga, Perbedaan fundamental antara dua partai utama di Amerika. Partai Republik layaknya partai koservatif di negara-negara Arab yang memiliki ikatan dan disiplin sangat kuat. Tidak perlu upaya keras untuk meyakinkan para anggotanya agar berpartisipasi pada pemilu, dan memilih siapapun kandidat mereka. Kebanyakan anggota partai ini adalah kelompok beragama. Agenda partai ini juga lebih jelas dibanding Partai Demokrat yang merupakan koalisi berbagai kekuatan yang disatukan berdasar pada kesamaan beberapa prinsip-prinsip konvensional. Pada Partai Demokrat, seorang kandidat memerlukan upaya besar untuk meyakinkan para anggota, yang bersifat lebih terbuka dibanding anggota Republik, untuk berpartisipasi dan memilih dirinya. Ini adalah ujian yang tidak dihadapi Trump, sedangkan Hillary gagal melewatinya. Hal inilah yang memaksa para pendukung Hillary, termasuk juga Obama, pada pekan-pekan terakhir berkonsentrasi menggiring para anggota sendiri untuk memilihnya.

Hasil survei mengungkapkan bahwa mayoritas rakyat Amerika tidak puas atas kondisi Amerika saat ini. Mereka berkeyakinan bahwa negara tengah melangkah pada koridor yang salah. Inilah kenapa mayoritas rakyat Amerika memilih Trump. Dengan kata lain, rakyat Amerika menginginkan perubahan walau ke arah yang masih gelap. Rakyat memilih melakukan spekulasi daripada berjalan di atas jalan yang mereka yakini salah. Seperti orang sakit yang sudah sangat menderita sehingga mau mencoba obat yang belum diketahui akan efektif atau malah berefek samping membahayakan. Di sini, rakyat Amerika jelas berbeda dengan rakyat di negara Arab. Rakyat Amerika berani melakukan petualangan dan coba-coba tanpa ada rasa takut. Mereka tidak memilih mempertahankan yang buruk hanya karena alasan takut mendapat yang lebih buruk.

Pemilihan di Amerika sangat ditentukan segelintir suara dari kelompok nonpartisan. Kelompok inilah yang tidak diberi Hillary alasan kuat untuk memilihnya. Hillary mungkin terjebak dalam perangkap ‘menyepelekan pesaing’. Selama ini Hillary tidak menunjukkan diri dan gagasannya kepada para pemilih itu. Mereka hanya diyakinkan bahwa pesaing Hillary tidak kompeten menjabat presiden. Hillary hanya mengandalkan kelebihan pengalamannya. Hillary benar-benar tidak bisa menunjukkan bahwa dia istimewa karena memiliki kompetensi. Masalah ini menjadi semakin merugikannya saat FBI menyatakan berniat kembali membuka kasuh email Hillary. Setelah bom FBI ini, terjadi persamaan bargaining antara kedua kandidat, keduanya sama-sama tidak memiliki kompetensi. Persaingan pun terbatas antara pengalaman (Hillary) dan perubahan (Trump). Padahal pengalaman masa lalu yang tidak diiringi dengan program masa depan, bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Terlebih pengalaman Hillary ini tidak berisi prestasi yang fenomenal. Sementara kekurangan utama Trump adalah pada kebijakan luar negeri yang biasanya menjadi sorotan kedua saat rakyat tidak puas dengan situasi dalam negeri. Posisi Hillary bertambah parah ketika dalam berbagai kesempatan mengungkapkan akan melanjutkan kebijakan-kebijakan Obama jika terpilih jadi presiden. Obama juga sangat sering dilibatkan dalam kampanye Hillary. Padahal Obama dicintai rakyat karena sosok dan retorikanya, bukan karena kepemimpinan dan kebijakannya.

Kesalahan strategis lainnya pada kampanye Hillary adalah tidak jelas dan tegas terkait sikap dan kebijakannya. Seperti kebijakan untuk melanjutkan strategi Obama yang ragu-ragu, mengarah pada pengelakan dan selalu memilih jalan tengah. Sebuah stretegi yang membuat Obama kehilangan popularitasnya, dan bahkan juga membahayakan Amerika. Sebaliknya, Trump berhasil menyampaikan sikap dan rencana-rencananya, termasuk rencana-rencana ekstremnya, dengan sangat jelas dan tegas. Partai Demokrat mungkin akan menyesali telah memenangkan Hillary daripada Bernie Sanders pada pemilihan awal. Bernie Sanders cenderung tegas dalam visi perubahan yang menggairahkan simpul-simpul partai. Visi Sanders juga berhasil meyakinkan pihak-pihak independen dan yang masih ragu-ragu. Mereka inilah yang biasanya menjadi penentu siapa yang memenangkan pemilu.

Terbukti, kemanusiaan adalah faktor yang cukup menentukan dalam pemilihan presiden Amerika. Apabila persaingan ini untuk memperebutkan kursi di parlemen ataupun senat, tentu Hillary akan mendapat kemenangan besar dikarenakan pengalaman dan kedudukannya dalam bidang politik dan pemerintahan. Tapi untuk jadi presiden, rakyat Amerika lebih fokus pada sisi kepemimpinan dan dimensi kemanusiaan.

Dari segi kepemimpinan, masing-masing kandidat tidak memiliki kharisma dan keterampilan kepemimpinan yang unggul. Tapi Trump diuntungkan dengan kejelasan dan ketegasannya, ditambah kesuksesannya sebagai pebisnis. Sedangkan sisi kemanusiaan, Trump lebih diunggulkan sejak awal kemunculannya dengan pembawaan yang spontan dan impulsif. Berbeda dengan Hillary yang dalam komentar dan tindakanya tampak lebih dominan pencitraan penuh dengan kepura-puraan yang dibuat-buat. Hillary terlalu diplomatis dan profesional. Padahal publik yang dihadapinya adalah publik yang didominasi jiwa pemberontak dan spontanitas, publik yang sangat menghormati inisiatif baru dan petualangan. Persis seperti yang tergambar dalam film koboi.

Hillary gagal menarik suara kaum wanita, bahkan keunggulan suaranya sangat jauh dari yang diharapkan. Padahal ada ‘hadiah’ dari Trump dari pernyataan dan kebocoran skandalnya, yang sangat memungkinnya dibenci kelompok wanita. Hillary juga gagal mengajak rakyat Amerika memilih presiden wanita pertama bagi Amerika. Ia mungkin khawatir terkesan mengemis suara hanya karena ia wanita. Atau takut jika rakyat Amerika belum siap memilih memiliki presiden wanita untuk pertama kalinya. Apalagi baru saja sebelumnya untuk pertama kalinya memilih seorang keturunan Afrika menjadi presiden. Obama yang berhasil menjadi presiden setelah mengefektifkan dirinya sebagai kandidat pertama yang berkulit hitam, dan juga masalalu dan kisah hidupnya. Tampaknya Hillary harus mengalami kerugian karena dirinya seorang wanita, dan tidak bisa menjadikan hal itu sebagai peluang.

Trump memanfaatkan pengalamannya di media dengan efektif untuk mengalahkan Hillary. Meskipun Hillary mengeluarkan dana yang lebih besar dibanding Trump untuk belanja iklan. Apalagi kebanyakan media lebih pro kepada Hillary. Tapi dengan segala kontroversinya, Trump berhasil selalu tampil di media. Pemberitaan tentang kontroversi itu memberinya kesempatan beriklan gratis. Sejak era televisi, iklan di televisi berperan penting dalam setiap pemilu di Amerika. Ini juga dapat dilihat dalam pemilu tahun 1960, saat John F. Kennedy menang melawan politisi kawakan Richard Nixon.

Segmen pemilih yang membuat Trump lebih unggul adalah segmen dengan pendidikan menengah (tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi) dari kaum laki-laki kulit putih. Trump mengetahui bagaimana beretorika dengan mereka. Trump berbicara kepada mereka dengan bahasa yang ringan yang berisi banyak slogan menarik dan dikemas untuk mudah dalam pemberitaan. Terutama slogam “Mengembalikan kejayaan Amerika”, sama seperti slogam (Yes we can) yang memenangkan Obama pada tahun 2008.

Di sini, terlihat peran media komersial dalam memberikan pemahaman yang dangkal kepada publik. Yaitu publik yang tidak memiliki waktu, kemampuan ataupun motivasi untuk memperluas wawasan hanya untuk bisa memberikan suaranya dalam pemilu dengan berdasarkan wawasan tersebut. Di waktu yang sama mereka merasa kebingungan ketika media banyak menyuguhkan berita dan analisis yang saling bertentangan. Akhirnya mereka lebih memilih dan terpengaruh dengan kandidat yang memiliki slogan paling menarik.

Pemilu aneh dengan hasilnya yang mengejutkan ini harus mendorong Amerika dengan melakukan revisi sehinggal hal seperti ini tidak terulang kembali. Setidaknya harus ada syarat bagi calon kandidat agar punya rekam jejak politik, dan pernah menduduki jabatan politik maupun jabatan partai. Adalah hal yang tidak masuk akal, untuk sebuah jabatan rendahan disyaratkan adanya pengalaman, tapi syarat itu tidak ada untuk jabatan tertinggi, yaitu presiden. Hal lain yang perlu dicegah adalah upaya pendangkalan kesadaran dan pemahaman publik. Hal buruk inilah yang telah berhasil meloloskan Trump menjadi kandidat dari partai Republik, lalu memenangkan pemilu. Sama seperti yang terjadi di Inggris, di mana aspirasi rakyat menuntut negara mengadakan referendum yang hasilnya keluar dari Uni Eropa, padahal konsekuensinya sangat buruk.

Adapun pengaruh kemenangan Trump kepada negara-negara Arab dan Islam, juga kepada komunitas Arab dan Muslim Amerika, harus dituangkan dalam artikel khusus. Namun di sini saya katakan bahwa Amerika adalah negara lembaga dan kontrol masyarakat. Kalau ada pertentangan di dalamnya, sekeras apapun, tidak akan berbahaya karena dilakukan oleh kekuatan-kekuatan yang sepadan. Aturan politik dirancang untuk mencegah dominasi mayoritas. Maka tidak mudah bagi presiden ataupun partai untuk mengatur semau mereka. Walaupun itu partai mayoritas yang menguasai parlemen dan senat sebagaimana yang dihasilkan pemilu terakhir ini.

Rintangan pertama yang harus dihadapi dalam setiap kebijakan adalah meyakinkan partai dan para wakilnya di Kongres. Partai di Amerika sangat berbeda dengan partai di dunia Arab, perwakilan partai di Kongres tidak begitu saja secara otomatis bersepakat dengan keputusan presiden yang berasal dari partai mereka. Mereka tidak sungkan-sungkan untuk berseberangan dengan presiden. Sistem pemerintahan Amerika dan kuatnya kontrol masyarakat menghalangi terjadinya kebijakan ekstrim, baik ke kiri maupun ke kanan. Menuntut pemerintah untuk bersifat moderat dan proporsional. Juga bisa menjinakkan kandidat yang baru saja berhasil menjadi presiden. Rakyat Amerika pernah membiarkan tindakan ekstrim Bush, tapi itu disebabkan tragedi 9/11 yang sangat mengerikan. Pun demikian, mereka tetap menyesal dengan hal itu, terlihat dari pandangan mereka kepada Bush yang berbeda dibandingkan dengan mantan-mantan presiden lainnya.

Bagi kita, inilah waktunya untuk menyelesaikan akar masalah, yaitu kelemahan, kehinaan, keterbelakangan, ketergantungan, dan kebuntuan yang sudah sangat membosankan. Ini semua yang menjadikan kita bangsa yang terbelakang. Nasib kita berada di tangan bangsa lain, serta menjadi sasaran empuk konspirasi. Menjadikan kita selalu mengemis hak, kehormatan, pinjaman dan bantuan. Kita hidup di antara kejadian-kejadian yang berada di luar kuasa kita, dengan selalu berharap-cemas kejadian-kejadian itu tidak membahayakan kita. Semua ini adalah akibat dari elit politik yang dangkal dan tergila-gila kepada diri sendiri. Sudah itu, mereka juga lemah dan oportunis.

Sudah waktunya bagi bangsa Arab dan Islam untuk bangkit melawan keadaan yang menyedihkan dan memalukan ini. Bangsa dan negara yang maju di depan kita itu tidak punya keunggulan apapun. Mereka hanya berani bermimpi dan bertekad untuk mewujudkannya berapapun mahalnya harga pengorbanan. Jika memang takdir kita adalah kita harus melakukan hal itu tanpa kepemimpinan dan dengan meninggalkan para elit pembawa petaka itu, maka ayo kita lakukan! (wili/msa/aljazeera/dakwatuna.com)

*Artikel ini ditulis oleh Sohail Ghannouchi

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Survei: Mayoritas Warga Amerika Serikat Ingin Gulingkan Trump

Figure
Organization