Topic
Home / Berita / Daerah / Menurut Din Syamsudin, Beberapa Alasan ini Membuat Ahok Tidak Cocok Pimpin Jakarta

Menurut Din Syamsudin, Beberapa Alasan ini Membuat Ahok Tidak Cocok Pimpin Jakarta

Din Syamsudin Berpendapat bahwa Ahok Tidak Cocok Pimpin Jakarta. (kompas.com)
Din Syamsudin Berpendapat bahwa Ahok Tidak Cocok Pimpin Jakarta. (kompas.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin menegaskan, dirinya punya beberapa alasan mengapa menolak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Din juga menegaskan bahwa sikapnya ini bukan karena Ahok Kristiani atau Tionghoa, atau karena ia merupakan pendukung satu dari dua pasangan calon lain di pemilihan gubernur (pilgub) DKI Jakarta.

Beberapa alasan tersebut diantaranya, Pertama, Ahok merusak kerukunan antaragama dan antarsuku atau ras yang tengah dirajut bangsa Indonesia.

“Saya menolaknya adalah karena hati nurani saya meyakinkan bahwa dia bukan pemimpin yang cocok bagi masyarakat Jakarta apalagi Indonesia,” ujar Din, Ahad (13/11/2016) sebagaimana dilansir republika.co.id

Kedua, Selama memimpin DKI Jakarta Ahok tidak sepi dari kelemahan-kelemahan mendasar. Ahok, kata Din, sangat patut diduga melakukan korupsi dalam kasus Rumah Sakit Sumber Waras dan reklamasi pulau-pulau di Teluk Jakarta.

Din juga menyayangkan ketidakberdayaan KPK untuk menyeret Ahok dalam kasus-kasus yang menjeratnya.

“Namun KPK tidak berdaya menyeretnya seperti menyeret para tersangka yang diduga menerima suap dalam jumlah kecil sekalipun. Sepertinya ada kekuatan besar yang membelanya, dan pihak pemangku amanat dan  penentu kebijakan seperti tidak berdaya bekerja dengan hati nurani,” kata dia.

Ketiga, Ahok bukanlah pemimpin mumpuni, apalagi bekerja untuk rakyat kecil. Menurut mantan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini, Ahok lebih bekerja untuk para pengusaha besar.

“Prestasinya memimpin Jakarta selama ini lebih karena opini yang dibangun media-media pendukungnya yang tidak menampilkan keburukan-keburukannya. Apa yang dianggap sebagai  keberhasilan Ahok sesungguhnya sudah dimulai sejak masa Gubernur Joko Widodo, bahkan Gunernur Fauzi Wibowo dan Sutiyoso,” ungkapnya.

Keempat, Kebiasaan Ahok yang loncat-loncat dari partai yang satu ke partai lain menunjukkan ambisi kekuasaan yang sangat oportunistik. Bahwa dia melupakan partai atau orang yang berjasa mendukungnya juga merupakan perilaku tidak etis dari seorang  pemimpin.

Bagi Din, Ahok adalah problem maker, bukan problem solver. “Takdir Allah yang memelesetkannya dengan ujaran kebencian di Pulau Seribu yang kemudian mendorong reaksi besar adalah tanda bahwa kekuasaan dan keadilan Ilahi sedang menempuh jalannya,” ujarnya.

Dia berharap, kaum beriman dan umat beragama tidak mengabaikan hal tersebut. “Kita semua harus bersama-sama tergerak untuk menyelamatkan bangsa ini dari ketersanderaan dan perpecahan,” kata Din.

Terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok,Din Syamsuddin mengatakan, bila dilihat dari pernyataan yang disampaikan melalui berbagai video, Ahok memang salah. Tapi, permintaan maaf yang sudah disampaikan juga tidak boleh diabaikan.

“Beliau sudah minta maaf. Kalau saya berpendapat meyakini Islam berilah maaf, selesailah urusan itu,” kata Din di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (1/11/2016), dikutip dari liputan6com

Hal ini tentu harus dipisahkan dengan proses hukum yang sedang berjalan. Untuk urusan hukum, lanjut Din, biarkan pihak kepolisian yang menjalankan tugasnya.

“Urusan penegakan hukum ya urusan negara. Saya sudah mendengar dari Bapak Kapolri bahwa akan diproses, ya sudah selesai. Tinggal kita tunggu,” ujar dia. (SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Halal Bihalal Salimah bersama Majelis Taklim dan Aa Gym

Organization