Home / Narasi Islam / Sejarah / Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing

Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Mohammad Natsir
Mohammad Natsir

dakwatuna.com – Saya hadir pada hari itu kebetulan bertemu dengan bapak Agus Salim, diplomat ulung dari Indonesia. Kehadirannya pada waktu itu di hadapan saya kabarnya membawa sebuah berita menarik tentang seorang staff kenegaraan di kementerian penerangan Indonesia pada waktu itu. Agus Salim hanya tersenyum-senyum saja, membayangkan sesuatu lucu saya kira, perilaku aneh itu membuat saya heran, ditambah lagi saya memang hidup di barat, dimana orang yang tersenyum-senyum sendiri sebelas-duabelas dengan orang sakit ingatan.

“Apa yang anda tertawakan bapak? Apakah cerita yang anda bawa dari negeri anda ini sungguh demikian lucu?” Tanya saya heran, bagaimanapun saya seorang akademisi yang logis dan berpikiran maju.

“Ah tidak saudara, saya hanya tidak percaya masih saja ada orang seperti itu di zaman ini” jawab Agus Salim, lebih seperti heran dan tidak percaya, namun dia meneruskan ucapannya.

“Bapak George Kahin punya berapa setelan jas di rumah? Diganti berapa hari sekali?” Tanya diplomat lucu ini kepada saya, insiden “kambing silahkan makan rumput di luar” langsung terngiang di kepala saya.

“Cukup banyak Pak Agus, bisa lah sehari sekali ganti jas..” jawab saya setengah bercanda setengah serius. Ada apa gerangan diplomat ulung Indonesia ini bertanya seperti itu kepada seorang akademisi tulen seperti saya.

“Tahukah kamu, di negeri saya, ada seorang menteri, menteri Negara sekaligus pemimpin partai politik besar di Indonesia. Dia hanya memiliki 2 (dua) setel kemeja lawas dan jas yang ditambal sebagai pakaian kenegaraannya. Dia tidak pernah mengambil sedikitpun dari fasilitas Negara untuk menteri, sumbangkan semua itu kepada rakyat dan pegawai-nya. Mobil nya, bukan mobil dinas Negara, di tolak itu semua dan dia memilih memakai mobil lawas De Soto yang tidak jelas merek apa itu. Percaya atau tidak, dia adalah salah satu pendiri Republik Indonesia” Pak Agus Salim bercerita panjang lebar, menceritakan sebuah kisah dari negeri dongeng. Tidak mungkin di dunia kejam ini masih ada orang mulia seperti itu.

“Ah, bercanda anda keterlaluan Pak Agus, tidak ada orang seperti itu di dunia ini” saya masih tidak percaya, masih yakin dengan keangkuhan barat saya, yang senantiasa yakin bangsa barat adalah bangsa agung dan mulia.

“Bapak George Kahin tau dengan Rabithah ‘Alam Islami dan Liga Muslim Sedunia?” Tanya Pak Agus Salim serius. Saya tahu tentu saja, organisasi sebesar itu tidak mungkin akademisi sedunia tidak tahu.

“Tahulah saya bapak, tetapi ada apakah dengan kedua lembaga itu? Bukankah salah satu lembaga tersebut diketuai oleh seorang Indonesia?” jawab saya. Dalam pikiran saya, orang hebat dan kaya raya lah yang berhak berdiri mewakili umat muslim sedunia, dan saya sangat yakin orang Indonesia yang satu ini pasti cukup kaya di Negara nya.

“Bapak tahu kah nama ketua-nya? Dia orang Indonesia bapak tahu” Tanya Pak Agus Salim semakin serius. Ya betul saya tahu bahkan beberapa Koran yang saya baca pernah memuat berita tentang orang hebat satu ini. Disebut Lawrance of Arabia sebagai salah satu muslim Indonesia paling berpengaruh di kancah politik internasional, memperoleh penghargaan tertinggi dari Pemerintah Tunisia karena aksi mendukung kemerdekaan daerah Afrika Utara. Tidak mungkin orang hebat seperti saya tidak kenal dengan orang itu.

“Tentulah saya tahu, orang tenar semacam ketua Liga Muslim Sedunia masak saya tidak tahu. Beliau adalah Pak Mohammad Natsir bukan? Hebat betul orang itu, saya yakin di Indonesia dia memiliki harta yang melimpah atau mungkin memiliki pengikut banyak dan hidup yang makmur” dengan yakin saya menjawab apa yang saya tahu tentang Mohammad Natsir. Sorot mata beliau yang tajam dan struktur wajah tegas, namun raut muka-nya lembut dan menyejukkan. Wajar sajalah saya berpikir demikian, ditambah lagi dengan posisi dan penghargaan yang dia miliki, tidak mungkin dia termasuk orang miskin.

Saya terkejut ketika saya melihat ekspresi wajah Bapak Agus Salim. Terlihat beliau seperti menahan tawa, dan dari raut mukanya seolah dia berkata “Ah, bung ini memang tidak tahu apa-apa”. Saya sedikit kesal melihat raut muka beliau, dan ingin segera menyerocos memarahi diplomat ulung tidak tahu diri ini. Namun, saat melihat air muka saya berubah, beliau segera mengangkat tangan, meminta waktu untuk berbicara.

“Bapak George Kahin, saya tidak menyalahkan jika anda berpendapat demikian, karena memang berita senantiasa memberitakan orang hebat ini. Tapi tahukah anda, orang yang hanya punya dua setel kemeja lawas dan jas bertambal, serta mobil tidak jelas itu, adalah bapak Mohammad Natsir yang anda sebut kaya raya dan terkenal itu” Jawab Agus Salim. Tidak ada sorot mata jenaka atau bahkan mimik menahan tawa dalam perkataan terakhir diplomat hebat ini. Bahkan cenderung menerawang, seolah melihat sesuatu yang jauh di Asia Tenggara, sebuah Negara baru yang mampu menggebrak kekuatan lawas dunia.

Saya hanya terdiam dan menutup mulut saya rapat-rapat. Di dalam ruangan ini, saya memutuskan untuk mengingat sosok hebat dalam sejarah bangsa Indonesia. Sosok hebat yang bahkan tidak mampu untuk membeli jas baru, karena memilih tidak menggunakan fasilitas Negara yang diberikan kepada beliau. Saya kira hanya Mohammad Hatta dan Agus Salim yang besar dan hebat karena kesederhanaan, namun, ada juga orang hebat lain di Indonesia, yang cinta Negara-nya, cinta bangsa-nya dengan totalitas. Beliau adalah bapak Mohammad Natsir.

-Percakapan George McTurnan Kahin dengan H. Agus Salim dengan sedikit perubahan

Saya takjub saat membaca beberapa situs internet yang menceritakan tentang kehebatan dan kesederhanaan bapak Mohammad Natsir. Saya tidak percaya kalau orang yang lahir di daerah antah berantah pada 17 Juli 1908 dibawah kungkungan penjajahan Hindia Belanda mampu mengaum sekuat singa dan menggetarkan perpolitikan dunia dengan islamnya. Namun begitulah kenyataannya, di sebuah rumah di Surakarta saya terus menggali berbagai macam cerita dan laporan unik tentang kehidupan beliau dan akan saya bawakan dalam bentuk cerita, semoga pembaca menikmati cerita saya. Oke, saya akan minum kopi sejenak agar saya tidak mengantuk, karena berikutnya ada cerita ketika Mohammad Natsir bertemu dengan Douwes Dekker.

“Bapak suka bermain gitar kah?” Natsir membuka percakapan sambil mempersiapkan biola-nya.

Sembari mengatur suara gitar agar pas di telinga, Douwes Dekker tersenyum “tentu saja, music itu menenangkan Pak Natsir. Saya justru heran, orang dari Negara ini malah sangat akrab dengan Biola. Bukankah biola tidak mudah dimainkan bapak?” Tanya Dekker sambil mulai memetik dawai-dawai gitar.

“Ah tidak juga. Konferensi kepemudaan yang saya ikuti tahun 1928 sudah menyanyikan sebuah lagi kebangsaan dengan biola bahkan cukup baik. Supratman memang berhasil membangun semangat kebangsaan tanpa memicu amarah belanda” Natsir mulai menggesekan jari-jari nya ke batang biola dan mulai mengambil nada-nada, siap untuk mengalunkan melodi.

Dekker tersenyum, “Sumpah Pemuda ya bapak? Saya kembali teringat masa-masa itu, ketika kita para pemuda akhirnya bersatu” jreng.. Dekker berkata sambil mengambil sebuah nada tinggi. “Lagu Beethoven lagi kah bapak? Kita kolaborasi” Dekker mempersiapkan kunci Moonlight Sonata, karya adiluhung Ludwig van Beethoven.

“Ah tentu, tentu. Saya sudah lama tidak memainkan lagu tersebut” Natsir menggesek biola, dan mereka berdua larut dalam harmoni.

Suasana sore itu benar-benar berbeda, rumah sederhana Mohammad Natsir terlihat sangat hidup dan nyaman. Alunan lembut Moonlight Sonata mengiringi kembalinya kawanan prenjak ke pepohonan tinggi sepanjang Jalan Jawa. Hiruk pikuk politik di Jakarta Raya seolah terhisap dalam alunan syahdu Moonlight Sonata yang dibawakan dengan apik oleh Gitar Douwess Dekker dan Mohammad Natsir. Tahukah kawan? Nuansa syahdu yang dibawa lebih jauh dari itu, kemerdekaan dan nilai-nilai demokrasi justru terkesan kuat. Bangsa yang agung dan kuat adalah cita-cita yang diwujudkan dalam nada-nada tegas Beethoven. Sebuah bangsa yang merdeka dan berdikari, kokoh secara otonomi dan persatuan.

Sore itu, Jalan Jawa menjadi saksi akan munculnya sosok-sosok negarawan yang akan menggebrak tatanan otoriter dan saklek yang menjemukan. Tentu saja, dengan cinta dan kasih sayang para negarawan.

Oke, menarik karena bagaimanapun Pak Natsir adalah seorang ulama. Keluarganya adalah keluarga besar ulama yang bahkan mewakili fatwa orang di Tanah Agam dan Dataran Tinggi Sumatera Barat. Beliau mampu mengasah kapasitas diri seorang negarawan, dengan mampu berdiplomasi, mampu menyuarakan pendapat dengan berbagi metode. Biola-pun mampu beliau kuasai. Betul, sungguh hebat nian orang ini. Kehidupan sederhananya tidak menghalangi dunia untuk tahu kehebatannya, berbagai penghargaan tertinggi dari negeri asing beliau sabet. Bahkan tidak hanya itu, 3 gelar Doktor Honoris Causa beliau dapatkan dari dua Negara berbeda. Namun sungguh tipikal orang Indonesia.

Sembari mengunyah crackers yang saya beli, saya menemukan cerita menarik. Cerita ini baru dari tahun 2008, 15 Tahun setelah Pak Natsir Wafat. Saya tidak tahu motif apa yang dimiliki orang pemerintah atas hal ini, karena kenyataannya bapak bangsa ini sama sekali belum diberikan penghargaan apapun oleh bangsa Indoensia. Ah saya lupa, kecuali penjara, betul, Pak Natsir dapat penghargaan dari bangsa besar bernama Indonesia berupa menginap gratis di penjara.

Bangsa besar ini pada tanggal 10 November senantiasa melaksanakan penghormatan dan merayakan hari pahlawan. Beberapa pahlawan baru senantiasa disebutkan dan diresmikan hari itu, maka pada 10 November 2008 terjadi hal yang berbeda.

Seorang staff kepresidenan terlihat tergopoh-gopoh menghadap sekretaris cabinet untuk melaporkan nama-nama pahlawan nasional yang akan diresmikan hari itu. Dalam hati-nya dia menggerutu, banyak sekali pahlawan di Negara ini, bahkan terlalu banyak kamu tahu. Beberapa masih hidup, namun sebagian besar telah berpulang. Hari ini pemerintahan Bapak SBY akan membacakan pahlawan nasional baru yang diakui oleh Negara.

Setelah menerima draft tersebut, sekretaris Negara segera menghadap bapak presiden dan menyebutkan siapa-siapa yang akan memperoleh gelar kenegaraan sebagai pahlawan nasional. “… berikutnya Bapak Mohammad Natsir… “ sebut sang sekretaris Negara dengan santai.

Jenderal besar Susilo Bambang Yudhoyono menatap penuh Tanya. “Sebentar, bapak Natsir belum memperoleh gelar pahlawan nasional? Anda jangan bercanda dengan saya…” Seolah tidak percaya SBY bertanya. Selama pergantian presiden hingga 5 kali pendiri bangsa ini belum diakui sebagai pahlawan nasional? Negara macam apa ini?

“Betul bapak, nama beliau beru diusulkan tahun ini. Saya juga tidak mengerti alasan pemerintah lama belum mau memberikan Bapak Natsir penghargaan” kata sang sekretaris Negara tenang. SBY menunduk dalam, seolah merasa malu pada diri dan bangsa-nya yang sama sekali tidak tahu terima kasih. Kenapa? Mosi Integral yang diajukan Natsir pada 1950 membawa kembali bangsa ini kepada NKRI, persatuan utuh yang sebelumnya dipecah pecah aggressor Belanda dengan membentuk Negara Serikat.

SBY masih menunduk dalam, dan dia berkata “Maukah saudara mendoakan saya agar bisa memperoleh jabatan presiden periode kedua?” SBY bertanya, sebuah pertanyaan kenegaraan yang sangat sederhana namun dalam mengena.

“Maksud bapak presiden apa ya? Saya kurang menangkap, mengapa harus dua kali masa jabatan?” Tanya sang sekretaris Negara, seolah tidak percaya orang nomor satu di Indonesia ini berbicara seperti itu. Jika televise swasta busuk mendengar perkataan beliau, yakin sudah harga diri beliau sebagai presiden tercabik-cabik.

SBY hanya tersenyum, entah mungkin memang ada motif politis dibalik senyum-nya, namun sesuatu yang lain tersirat, seberkas harapan untuk menebus ketidak-tahuan diri bangsa besar ini atas pahlawan-pahlawan-nya. “Saya hanya ingin memastikan orang seperti Pak Natsir mendapatkan penghargaan yang pantas saudara, karena hal itu yang bisa saya lakukan sebagai kepala Negara”

SBY menatap jauh, melihat horizon yang terukir di Cikeas. Doa melantun, berusaha meminta maaf pada sosok agung yang disakiti terus menerus oleh bangsa besar ini. Kuburan beliau mungkin sudah membatu, tertinggal 15 tahun, namun setidak-nya, inilah rasa terima kasih yang bisa ditunjukkan bangsa ini kepada salah satu bapak bangsanya.

6 Februari 1993 mungkin jadi hari berkabung, karena akhirya politisi ulung bangsa ini meninggalkan Negara-nya untuk selama-lamanya. Allah sudah menantikan untuk bertemu dengan beliau, dan begitulah. Ketikan jari saya di keyboard mulai terasa berat, berat karena cerita besar seorang negarawan muda hanya mampu dilukiskan oleh anak yang belum lulus kuliah dan tertatih untuk menyelesaikan KKN. Namun bapak Natsir, saya mau mengatakan, saya mencintai anda karena Allah. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
mahasiswa strata satu di Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Lihat Juga

Ibu, Cintamu Tak Lekang Waktu