Home / Berita / Opini / Al-Quran yang Shalih LiKulli Zaman Wal Makan Membuktikan Bahwa Li Kulli Zaman Rijaaluhu

Al-Quran yang Shalih LiKulli Zaman Wal Makan Membuktikan Bahwa Li Kulli Zaman Rijaaluhu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Foto: safa.ps. Inset: Al-Quran Al Karim)
(Foto: safa.ps. Inset: Al-Quran Al Karim)

dakwatuna.com – Al-Quran adalah sebuah kitab yang abadi di sepanjang kurun zaman dan makan. Ia merupakan sebuah mukjizat terbesar dari sebuah kenabian yaitu Kenabian Akhir Zaman yang diturunkan pada Nabi Muhammad saw. Tidaklah bertambah penemuan ilmiah dan sains melainkan akan menambah bukti-bukti kemukjizatan Al-Quran di akhir zaman dimana peradaban manusia berada saat ini. Ketinggian dan kemuliaan Al-Quran tidak lain dan tidak bukan adalah karena ia merupakan panduan bagi kehidupan insan di muka bumi. Ia bukanlah kitab sekadar kitab yang dibaca dan kemudian diletakkan di atas rak buku, melainkan ia terwujud dalam pribadi-pribadi muslim yang melaksanakan ajaran-ajaran di dalamnya. Dan contoh terbesar insan yang qur’ani adalah Baginda Rasulullah saw sendiri, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim ra. dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang Akhlaq Rasulullah saw maka dijawablah bahwa Kaana Khuluquhu Al-Quran (Sesungguhnya Akhlaqnya adalah Al-Quran). Sedemikian agungnya Al-Quran ini sehingga para Sahabat ra. berlomba-lomba belajar talaqqi Al-Quran dari Rasulullah saw dan pemahamannya. Kemuliaan pribadi sahabat satu dengan yang lain kemudian akan dinilai dari penguasaannya terhadap Al-Quran. Tidaklah mengejutkan bahwa dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Hajar Al Asqalani dari Anas bin Malik ra dikatakan bahwa:

“كان الرجل منا إذا قرأ البقرة وآل عمران جَدَّ فينا” أي عَظُم

“Di zaman kami seseorang diantara kami apabila telah selesai menghafalkan Al-Baqarah dan Ali Imran maka dia akan menjadi seorang yang agung diantara kami” (H.R. Ibn Hajar Al Asqalani dalam Al-Kaafi Al-Syaaf No. 303)

Diterangkan dalam Kitab An Nihayah Fi Gharibil Hadits wal Atsar bahwa makna Jadda fiinaa dalam hadits ini adalah kadar seseorang akan menjadi agung dan mulia sehingga memiliki kedudukan tinggi.

Ketinggian kedudukan Al-Quran ini mendorong para sahabat radhiyallahu ‘anhu mempelajari cara membacanya, menghafalnya, berjuang keras menerapkannya dan berupaya istiqomah (konsisten) dengan segala kandungannya berupa perintah dan larangan-Nya, yang dengan demikian agar mereka dapat berperilaku sesuai dengan perilaku Al-Quran sepenuhnya dalam kehidupan mereka sehari-hari radhiyallahu ‘anhum.

Ketinggian dan Keagungan ini membuat semua muslim yang hakiki mestilah meyakini dan meresapi dalam hatinya bahwa kitab ini tidak boleh diabaikan sedikitpun apalagi dihinakan dan dicemooh walau sepenggal ayat pun darinya. Tidaklah mengherankan bahwa kemarahan hati dan perasaan umat Islam terhadap komentar seorang Basuki Tjahaja Purnama, seorang yang tidak Islam, tidak paham apapun tentang Al-Quran namun berani menggunakan ungkapan pelecehan terhadap kitab suci ini merupakan kesalahan/ aib terbesar (gross sin) menginjak kemuliaan dan keagungan Al-Quran. Aksi Bela Al-Quran yang diadakan pada 4 November baru-baru ini yang sampai-sampai pertama kalinya dalam sejarah Indonesia dapat mengumpulkan jutaan manusia dalam satu lokasi juga merupakan bukti bahwa kemuliaan Al-Quran sangatlah tinggi sehingga tidak dapat ditolerir sedikitpun oleh penistaan yang dilakukan seorang pejabat pengganti yang awam pun non-muslim dan memiliki track-record hobi mengumpat dan mengacak-acak tatanan sosial moral masyarakat.

Perkara penistaan Al-Quran yang membelit BTP Ahok di negeri muslim terbesar di dunia yang sangat mencintai Al-Quran ini sesungguhnya adalah pertanda bahwa karir kepemimpinan Ahok sudah tamat secara prematur. Ketabuan menyerang kepercayaan agama/ SARA oleh seorang pejabat publik pun tidak akan pernah ditolerir di negara-negara demokrasi maju di manapun berada. Bahkan kandidat akan segera malu sendiri dan mengundurkan diri dari jabatannya bahkan di awal-awal isu yang membelitnya ketika media massa mulai meliputnya. Ketidakjantanan Ahok yang sampai saat ini tidak mengundurkan diri dan tidak lugas tulus meminta maaf ataupun menyerahkan diri semakin mempertegas kepongahan sikap dan pribadinya. Untuk itulah umat Islam harus terus teguh menyuarakan tegaknya keadilan.

Disisi lain, kasus penistaan Al-Quran ini membuktikan bahwa Li Kulli Zaman Rijaluh (di Setiap Zaman terdapat Punggawa-Punggawanya) yang membela kehormatan Al-Quran dan Islam. Kaum muslimin yang mendukung dengan infaq mereka atau turun bergabung turun berdemonstrasi dibawah kepemimpinan Ustadz Bachtiar Nasir, Habib Rizieq Shihab dan asatidz serta ulama lainnya membuktikan di Hari Akhir nanti sebagai punggawa-punggawa pembela Quran di zaman ini. Begitupula Panglima TNI Jenderal Gatot yang mempertegas sikapnya dan dukungannya atas pembelaan terhadap penistaan Al-Quran ini. Al-Quran yang datang lebih dari 1400 tahun yang lalu membuktikan mukjizatnya di zaman ini sebagai al furqon yaitu pembeda antara yang benar dan yang batil.  Sebaliknya kasus penistaan Al-Quran ini juga memperlihatkan barisan-barisan yang tidak bersedia membela kehormatan Al-Quran melainkan membela kehormatan penista. Merekalah – yang nama-namanya telah dimaklumi – yang akan tercatat dalam tinta-tinta sejarah kemudian sebagai ulama suu’ atau bila belum mencapai taraf keilmuan ulama maka orang awam, keduanya dalam bahasa Al-Quran tergolong memiliki nifaq, semoga Allah melindungi kita dari hal ini. Tinggallah kita memilih untuk masuk dalam barisan mana dalam kasus yang menghadapkan Al-Quran kalamullah yang mulia ini dan seorang awam, non-Islam, dan arogan yang menistakannya. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
PhD/ Doctoral Student dan alumnus Master of Arts - Kajian Masyarakat dan Pemikiran Islam di Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar. Diplom 'Aliy fii Ad-Dirasat Al-Islamiyyah, di Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar. Sarjana Pendidikan Bahasa Arab, Univ. Islam Jakarta. Former Secretary General of Indonesian Muslim Society in Qatar 2012-2016. Penulis buku To Be Successful Muslim Youth: Panduan bagi Muda-Mudi di Era Global Kini.

Lihat Juga

Sambut Ramadhan dengan Belajar Quran Bersama BisaQuran

Organization